
Rohman duduk!" Titah Pak Aziz. Sepertinya Pak Aziz bisa memahami kondisi dalam bersikap.
"Tapi Pa?" Rohman nampaknya masih kesal. Suaranya terdengar tertekan.
"Ayo duduk!" titah Pak Aziz memaksa.
"Iya Pa."
Rohman akhirnya menurut, tapi wajahnya aku bisa membayangkan kalau wajahnya nampak geram. Aku yakin Ia marah pada akan kedatangan Mas Dikha.
Ayah terdiam dan sepertinya memikirkan sesuatu, sesekali menoleh kearah berbisik dengan Ibu.. Entahlah, keputusan apa yang akan kuucapkannya nanti, tak ada yang bisa menebak, mungkin juga aku akan menolak mentah-mentah keinginan kebaikan keduanya.
"Begini Pak Aziz dan Pak Ridwan, saya mohon maaf sebelumnya, apa kalian sudah tahu kan keadaan Naima saat ini, terutama kamu, Dikha!" Tukas Ayah meyakinkan untuk memperjelas semuanya.
"Saya tau, Pak," jawab Mas Dikha lantang.
"Terima kasih, Rohman, Dikha, kalian adalah pemuda yang luar biasa dan orang tua kalian juga sungguh Mulya karena telah sudi menerima kekurangan putri ku, tapi tetap saja, aku harus meminta Naima sendiri yang menjawab keinginan kalian." Ayah berusaha bijak, ternyata Ia bisa menengahi keadaan.
"Aku setuju Bakti, itu lebih baik dari apa pun, baik Rohman ataupun Dikha harus menerima keputusan Naina," ucap Pak Aziz yang ternyata juga sama bijaknya.
Tak kusangka orang tua yang ku duga akan memaki kedatangan Mas Dikha ternyata benar-benar berhati mulya, tentu saja, karena mereka sendiri adalah ahli ibadah.
__ADS_1
Jujur, aku tak enak hati dengan Mas Dikha tentunya karena dialah yang memiliki hatiku sekarang. Tapi aku juga tidak bisa egois akan pilihan Ayah dan Kebaikan Mas Rohman.
Apa yang bisa kulakukan kecuali pasrah dengan keputusan Ku nantinya. Kudengar Ibu kembali mengetuk pintu dari arah kamar Ku.
"Ndok, ayo keluar Nak? Jangan mengurung diri terus menerus tak baik dengan kesehatan mu," ucap Ibu
Cekrek!
akhirnya kuputuskan keluar dengan riasan wajah yang dilapisi bedak tipis dan tampa bersolek sedikit pun. Karena aku lebih suka yang alami.
Aku menunduk saja setelah di gandeng Ibu untuk ikut duduk bersama mereka, aku tak berani sama sekali untuk memandang salah satu dari mereka walaupun sejenak. aku merasa malu dengan berita yang tersebar diluar sana tentang diriku yang sedang mengandung.
Aku masih tak menjawab, bingung jika jawabanki mungkin akan melukai keduanya nanti.
"Aku akan menunggu mu dek," timpal Rohman dengan yakin.
Mas Dikha belum menjawab, Ia bukan ragu melainkan memberi jawaban yang lebih tepat.
"Dikha, apa keputusan mu?" Tanya Ayah yang merasai ada keraguan diwajah Mas Dikha.
"Jika kita berjodoh, kita pasti bersama, Nai," jawab Mas Dikha tenang.
__ADS_1
Semua tercengang mendengar jawaban Mas Dikha.
"Berarti kamu belum yakin, Dikha?" Cecar Pak Aziz ayah Rohman.
"Tidak Pak, jodoh ku dan Naima sudah Allah atur dan aku percaya dengan Rabb ku," tegas Mas Dikha.
Ayah tampak puas mendengar ucapan Mas Dikha sembari manggut-manggut.
"Baiklah, kalian sudah dengar kan keputusan Naima saat ini?" kata Ayah
"Kalau begitu kami permisi, Pak!" Pungkas Pak Azis.
Oh Ia, terima kasih sudah menghargai kami," timpal Ayah sebagai bentuk rasa hormatnya.
"Tunggu!" Cegahku.
"Ada apa dek?" Tanya Mas Rohman yang baru saja melangkah ke ambang pintu setelah bersalaman.
"Terima kasih untuk mu dan Mas Dikha, Nai sebenarnya malu dan merasa tak pantas untuk salah satu diantara kalian," jelasku merendah. Memang itu nyatanya.
"Aku akan setia menunggu jawaban mu dek," timpal Mas Rohman dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab kami bersamaan.