Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 25


__ADS_3

Yang tabah, Nai. Mungkin garis jodohmu bukan sama dia. Kamu harus yakin akan ada yang mencintai kamu lebih dari dirinya.


Benar juga kata Mas Dikha, mungkin aku yang terlalu cengeng. Karena cintaku pada pria selalu berakhir menyakitkan.


Makasih, Mas. Supportnya, semoga aku menjadi sabar


Kumatikan ponselku setelah mengucap salam. Karena aku merasa agak kaku curhat denganya. Ia pun mengerti dan hanya membalas salamku.


Dua Minggu sejak kejadian itu, aku yang hanya menganggap Mas Dikha bergurau tak percaya akan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Saat kami bertemu di masjid usai mengajari anak-anak mengaji.


"Maafkan aku, Nai. Mungkin ini mengagetkanmu tapi aku mau berterus terang," katanya tiba-tiba. Kutata beberapa IQRO yang masih berada diatas meja.


"Soal apa, Mas?" tanyaku yang sesekali menoleh kearah dirinya.


Ia mendekat dan duduk dihadapanku membuat tubuhku mendadak bergetar akan tatapan beliau.


"Perasaan itu masih ada," ujarnya, lagi-lagi aku mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Aku masih mencintaimu, Nai. Sampai saat dimana terakhir kali aku katakan ketika perpisahan kita," paparnya jujur.


Aku jadi linglung dan mencoba meneguk saliva yang serasa mengganjal dikerongkonganku.


"Ta_ tapi, Mas_?"


"Nai, aku serius. Tidak ada yang berubah dalam diriku," katanya meyakinkan.


"E_ aku tidak tahu harus jawab apa, Mas. Karena kupikir kau hanya becanda waktu itu dan sekarang sudah punya wanita yang akan menjadi istrimu," jawabku gugup.


"Iya, wanitanya ada didepanku," ungkapnya membuatku tak mampu memandang wajahnya berlama-lama. Entahlah aku sendiri masih belum move on dari Mas Nugi. Hingga niat burukku yang hanya sebatas manusia ini muncul.


"Maksudnya?" Mas Dikha rupanya belum puas atas jawabanku.


"Iya, aku mau kita bersama lagi," jawabku pelan.


"Benarkah? kau serius, Nai?"

__ADS_1


"Iya," jawabku pasti.


Sejak saat hari itu, aku dan Mas Dikha sering bertemu bahkan niat awalku menjadikan Ia sebagai pelampiasan rasa sakit hatiku pada Mas Nugi malah membuatku lupa.


Aku semakin nyaman dengannya, Karena Mas Dikha sangat pengertian dan selalu mengajari aku banyak hal. Kehadirannya membuka mataku tentang pentingnya sebuah keikhlasan hingga aku tidak lagi mencari tahu akan kabar keberadaan Mas Nugi.


Jujur saja, caraku berpacaran dengan Mas Dikha jauh lebih berbeda dari pada Mas Nugi. Disini kami bertemu saat sedang mengajar saja. Karena Mas Dikha ditunjuk orang-orang dikampung ini menemani aku. Semakin hari anak-anak yang ikut mengaji semakin ramai. Seantusias itu mereka semenjak Mas Dikha ada.


"Mas, pasti anak-anak suka ngaji karena ustad nya ganteng plus suaranya merdu," ucapku lirih hingga Ia tergelak.


"Ahk biasa saja, kamu berlebihan Nai. Itu semua karena ustazahnya yang cantik dan lemah lembut. Coba kamu galak pasti mereka semua kabur," jawabnya seraya tersenyum manis.


"Alhamdulilah ya, Mas. Semakin hari, ramai anak-anak yang menyadari pentingnya mengaji. Selain mencerdaskan otak juga bisa untuk bekal dikemudian hari," kataku sok tahu.


"Aamiin, semoga jadi anak Sholeh dan Sholehah juga," imbuhnya.


"Aamiin," balasku tak kalah.

__ADS_1


Suatu keberuntungan mengenal Mas Dikha, ternyata sampai saat ini pun Ia tetap setia dan belum pernah dekat dengan wanita mana pun. Jangan heran, padahal banyak cewek di kampungku yang naksir berat sama dia.


Tau tidak, topik panas dalam kalangan remaja yang sedang ramai saat ini adalah tentang kegantengan dan kebolehannya Mas Dikha.


__ADS_2