Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 54


__ADS_3

Pov Naima


Hari itu, Aku baru saja selesai mencuci baju dan membereskan rumah. kulihat Mas Dikha masih fokus menggendong Yusuf. Sesaat mata ini tertegun, melihat caranya ngobrol dengan bayi mungil kami. Tutur bahasanya begitu lembut, dan tidak kenal lelah. Bahkan sakit di tangannya tidak Ia dirasa. Ya, lagi-lagi hati ini mengucap syukur beruntung sekali bisa menikah dengannya.


Cukup lama, berdiri diambang pintu. Rupanya beliau menyadari kehadiranku.


"Eh, bidadari nya Aby udah datang ni? baru aja sebentar gak ketemu, Aby udah kangen lo, Bun!" ucapnya, menarik tubuhku merapat lalu Ia mendaratkan kecupan dikeningku. SubhanaLLah, hatiku seakan-akan tengah berada dihamparan bunga-bunga.


"Ih, Aby. Udah pinter ngebombal ya," jawabku, balas mencubit kecil pinggangnya.


"Aduh." Mas Dikha meringis.


"Ya Allah, Mas. Kekencengan ya, Nai kan gak sengaja," kataku, merasa bersalah dan hampir menangis. Takut, jika tidak mendapat ridhonya suami.


"Loh, Sayang. Kok nangis sih? Mas becanda kok, cubitan Nai, justru ngangenin," bisiknya pelan di penghujung kalimatnya, membuat menjadi gemas.

__ADS_1


"Jadi, Mas becanda. Nai pikir Mas beneran sakit, maaf ya Mas," kataku lagi, jadi sedikit menye. Aku yang salah, aku juga yang cemberut.


"Udah dong, Bun. Kalau cemberut, Aby minta dobel lo ciumannya."


Mas Dikha membelai daguku sambil cekikikan, Ia benar-benar mengesalkan sekaligus sangat perhatian. Aku jadi kebawa baper deh, padahal hanya hal kecil saja.


"Makasih ya, Mas."


"Untuk apa?" tanyanya, mengernyitkan dahi menatapku.


Mas Dikha, yang masih mendengkap Yusuf memegang pipiku dengan tatapan serius, hingga detap jantungku ini seolah berloncatan. Walaupun kami sudah menikah, aku masih saja merasa malu didepannya. Entahlah, cintaku seakan semakin kentara. Kau aku bener-benar sangat mencintainya.


"Sayang, Mas mau kita tetap kayak gini ya. Apa pun cobaan hidup kita kedepannya, semoga Allah selalu mengingatkan kita untuk saling menguatkan."


Aku mengangguk, haru. Tentu saja, semua akan mampu aku lalui asalkan Mas Dikha ada disampingku sebagai penjaga dan pemenang hatiku.

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku mau kita saling terbuka dalam hal apa pun," jawabku, sembari mengambil alih Yusuf yang sudah terlelap dari gendongannya. Kasihan Mas Dikha karena sudah dari tadi menjaganya.


Kami berdua pun menuju kamar, menidurkan Yusuf dalam bok. Sedang Mas Dikha, merebahkan tubuh diranjang. Karena ini hari pertama pernikahan kami selepas menikah. Ayah melarang Mas Dikha ikut kekebun. Alhasil hanya ada kami yang ada dirumah.


"Dek...!" panggilnya, memintaku mendekat.


"Iya, Mas," jawabku, duduk ditepi ranjang. Ia tiba-tiba menarik tubuhku dalam pelukannya. Mas Dikha selalu saja mampu membuat darahku berdenyur hebat.


"Setelah kita pindah, pasti kamu akan jauh dari Ayah dan Ibu juga saudaramu yang lain," katanya parau.


"Lalu...?" Tanyaku, belum mengerti arah pembicaraan Mas Dikha.


"Apa kamu sudah siap berpisah dengan mereka dalam waktu yang lama?" tanyanya balik.


"Kenapa Mas bertanya seperti itu?" Ku sandarkan kepalaku kedadanya dan memberi ciuman disana. Sedangkan Mas Dikha tak henti-hentinya mengusap punggungku.

__ADS_1


"Aku sudah menjadi istri Mas Dikha sekarang. dan kemana pun Mas pergi, Nai akan ikut bersama Mas Dikha," lanjutku kkemudian.


__ADS_2