
Tiba di lapangan, Elsa langsung menghentikan motor maticnya. Aku yang tidak pernah tahu niat Elsa mengerutkan dahi. Tempat itu sangat ramai, ternyata ada balapan motor sedang memperebutkan hadiah uang senilai Rp 20 Jt .
"Elsa, kok berhenti sih? Katanya mau nengokin Adik Mas Nugi?" tanya ku heran.
"Udah, tenang. Ayo ikut aku." Ia menggeret lenganku masuk diantara kerumunan agar bisa melihat jelas aksi balapan tersebut. "Lihat! itu yang baju orange, dia calonmu, Nai." Elsa menunjuk kearah yang dimaksud.
Ku kedip-kedipkan bola mataku terkejut. Tidak percaya jika Mas Nugi ternyata melakukan hal mengerikan itu.
"Oh, jadi kamu bohong soal adik Mas Nugi sakit?" jengahku sedikit kesal.
"Hehehe... Maaf. Aku hanya ingin kamu beri support supaya Mas Nugi menang, Nai," jawabnya nyengir.
"Ayo ikut aku lagi!" dia menggeret kembali lenganku kearah lain. Diantara kerumunan para Ibu-Ibu dan anak remaja.
"Halo, Bi!" Elsa menyalami seorang perempuan paruh baya yang caranya langsung ku ikuti dengan takzim. Perempuan yang kira-kira belum 50 tahun itu menatap lekat kearahku sembari tersenyum manis.
"Nai, kenalin Ini Bi Mala Ibunda dari Mas Nugi dan Bi, inilah gadis yang sedang dekat dengan Mas Nugi, cantikan?" Elsa berkata lirih namun jelas sekali ku dengar kata-katanya membuat wajahku tersipu.
__ADS_1
"Oh, ini to. Ya ampun cantik banget. Nugi rupanya pandai cari cewek ya. Kamu tahu gak, Ndok? Hampir setiap hari Nugi selalu menceritakan kamu pada Ibu," ujarnya ramah dan cepat mengakrabkan diri.
"Masa sih, Bu? Aku pasti bikin malu ya, Bu," kataku menimpali.
"Ya enggaklah, kamu sangat cantik dan lemah lembut kata Nugi, makannya Ibu mau ketemu langsung," paparnya nampak sangat baik.
"Nugi..! ayo cepat sebentar lagi!" teriak seorang pria dengan keras. Aku pun mengamati Mas Nugi berhasil ada digaris finish sebagai juaranya.
"Keren, Gi." Pemuda itu memeluk Mas Nugi dengan sangat akrab. "Traktir ya!" katanya lagi.
"Beres, apa sih yang gak buat kamu," jawab Mas Nugi royal.
"Keren, Nak. Ibu bangga padamu." Bu Mala ikut memeluk erat tubuh Mas Nugi dengan sayang.
Seseorang teman dari Mas Nugi tadi nampaknya tengah memperhatikan ku dengan lekat tapi aku tidak terlalu perduli.
"Nai, kamu disini?" Mas Nugi menarik lenganku mendekat denganya.
__ADS_1
"Iya, Elsa yang buat aku terpaksa melihat kehebatan mu," kataku tersenyum.
"Oh iya, Dikh kenalin ini pacarku Naima," ujarnya membuat aku menatap kearah pemuda itu.
"Lo, Mas Dikha ya? ini beneran kamu Mas?" tanyaku tak percaya.
"Kalian saling kenal, Nai? dia ini sahabatku," ujar Mas Nugi membuatku lagi-lagi merasa tak enak.
"Assalamualaikum, Nai!" sapanya kearahku.
"Wa'allaikumsalam," jawabku yang masih tertegun tidak percaya. Kulirih seorang gadis kecil disampingnya berdiri. Mungkinkah jika itu adalah putri dari Mas Dikha.
"Loli, ni buat kamu!" Mas Nugi memberikan satu lembar uang merah pada gadis kecil itu dan diterima tangan mungil itu dengan lucu.
"Terima kasih, Om," katanya menggemaskan.
"Orang tuanya kemana Dikh? kok dia akrab banget sama kamu?" Mas Nugi menguak fakta bahwa ternyata Gadis itu ternyata bukanlah putrinya.
__ADS_1
"Biasalah, mereka sibuk kerja jadi aku membantu Ibu menggantikanya menjaga dia," jawab Mas Dikha yang sesekali menatap kearahku.
Sudah delapan tahun kami tidak bertemu sejak terakhir di bangku SMP. Wajahnya semakin dewasa dan tampan. Ya, dia mengurus tubuhnya dengan baik meskipun dia hidup lama dipesantren.