Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 38


__ADS_3

"Ya ampun, gemesin banget sih." Mas Rohman terus memuji diiringi seringai lucu menjulurkan lidahnya dengan kedua tangan ditelinga persis baby panda gumamku menahan tawa.


Sesaat kemudian seorang suster masuk membuat seisi ruangan terdiam.


"Maaf, Mbak Nai. Ada titipan, katanya dia ada urusan penting jadi tidak sempat berpamitan!" suster itu menyerahkan nasi kotak kepangkuan hingga membuat hatiku bertanya-tanya tentang siapa yang mengirimnya.


Ah, mungkinkah ini Mas Dikha? kenapa dia tidak berpamitan? mungkinkah dia tadi kesini dan melihat keluarga Mas Rohman? perasaan ku jadi bersalah. Seharusnya aku tidak melukai hatinya sebab sampai saat ini hubungan kami belum juga berakhir.


Maafkan Nai, Mas


Mataku hampir berkaca-kaca tapi Mas Rohman tiba-tiba berdiri didepanku sampai aku tersentak.


"Nai, sedang ngelamun ya. Sini aku suapin!" Mas Rohman dengan cekatan mengambil alih nasi kotak yang ternyata isinya adalah bubur ayam kesukaanku.

__ADS_1


Mas Rohman sangat telaten menyuapi aku, tapi aku tak kuasa untuk menolak. Tentu aku harus memikirkan perasaan kedua orang tua Mas Rohman yang sangat baik terhadapku.


"Makasih, Mas," kataku terharu.


"Sama-sama, ini hanya sesuatu yang tidak berat. Jadi tidak perlu membuatmu sampai cengeng begitu," celotehnya, kian merongrong perasaanku.


Tentu saja aku sangat bingung, mengapa aku dipertemukan dengan kedua pria hebat ini tanpa mau melihat kondisiku sekarang yang sudah tak lagi perawan seperti dulu.


Seandainya saja, aku tahu siapa pria bejat itu. Aku tidak akan memilih Mas Dikha maupun Mas Rohman, tapi aku ingin lelaki itu yang bertanggung jawab. Tidak peduli bentuk wajahnya seperti apa? bagiku Ayah kandung anak ini lebih berhak dari siapapun pria yang mau menjadi penggantinya.


Oh Tuhan malang sekali nasibku, anakku kini nampak didepan mata. Lucu dan imut. Bukan salahnya lahir tanpa seorang Ayah. Dia hanya bayi suci yang tidak memiliki noda sedikit pun.


"Nai, ayo makan lagi!" Mas Rohman kembali membuyarkan pikiranku yang berkabut. Dia memang baik, tapi tak ingin rasanya aku menyakitinya akan status anakku.

__ADS_1


Kuterima lagi suapan dari tanganya hingga tak sadar air mata ini menetes.


"Kamu nangis ya?" Mas Rohman menarik tisu diatas meja untuk mengusap pipiku. Lekas kutahan tangannya dan mengambil alih. Malu juga dilihat orang tuanya jika dia lakukan itu. Astaga, entahlah mengapa aku jadi gila begini sih?


Sore harinya, karena persalinan ku berjalan normal. Aku dan bayiku sudah diperbolehkan pulang. Terpaksa nya kami harus ikut penawaran kedua orang tua Mas Rohman jika Ia yang mengantar kami pulang. Berbarengan dengan itu orang tuaku rupanya sudah pulang dari Bengkulu beberapa menit sebelumnya.


"Alhamdulilah, Nai. Syukurlah kamu melahirkan dengan lancar. Maaf jika Ibu tidak bisa menemanimu," ucap Ibu seraya memeluk tubuhku yang berjalan di papah oleh Bang Gino duduk disofa. Sedang bayiku ada dalam gendongan Ibu Mas Rohman.


Semakin hari, aku semakin resah. Mereka tidak tahu saja kalau hatiku bahkan belum bisa menentukan pilihan. Aku hanya sibuk dengan pikiranku sendiri tidak tahu obrolan apa yang mereka bicarakan, aku tidaklah fokus.


Kulihat Mas Rohman mengambil alih bayiku dari pangkuan Ibunya lalu meletakan bayi mungil itu dalam ranjang mini yang kami beli sebulan lalu.


Ya Allah, buat Nai mampu menetapkan pilihan hati

__ADS_1


__ADS_2