
"Makasih ya, Dek," katanya pula, membuatku tergelak.
"Untuk apa?" balasku, sama seperti yang dia ucapkan tadi saat aku bilang terima kasih.
"Sudah memaafkan dan mencintai Mas sepenuh hati," jawabnya lirih, Ia kemudian mendudukkan tubuh kami saling berhadapan. Yang ku lihat dari dalam rona wajahnya, mungkin Ia menginginkan sesuatu seperti semalam.
Aku pun mengembangkan senyum.
"Sekarang aku adalah milikmu, Mas. Aku dan Yusuf yakin kalau kamu bisa menjadi imam kami, nanti."
Sengaja ku ucapkan itu, untuk memberi jalan Mas Dikha melakukan keinginannya. Bukankah, aku akan menuai pahalanya. Mampu membuat Ia terlepas dari sebuah hasrat gumamku jika tidak salah, atau aku hanya salah mengira. Saking senengnya mendapat tatapan seperti itu dari Mas Dikha.
Mas Dikha pun mengucapkan basmalah, lalu mengecup bibirku cukup lama. Hembusan kami menyapu, seiring dengan perasaan yang masih saja asing dengan kegiatan ini. Maklum saja, ini baru ketemui seumur hidupku. Tubuh yang selalu kujaga dan belum pernah dilihat orang lain akhirnya dengan leluasa Mas Dikha lihat dan menja_mahnya.
"Aku menyayangimu, Dek. Ingin ku habiskan sisa umurku ini bersamamu," katanya pelan, mendayu bagai alunan musik yang merdu menembus angan tanpa batas didalam benakku.
__ADS_1
Kurasakan sekali sentuhan setiap tanganya yang menempel dikulitku benar-benar sangat tulus dan penuh cinta. Ia menarik rambutku yang kuikat keatas hingga jatuh kebawah. Jujur saja, aku belum memakai hijab sekarang. Rencanakan itu akan kulakukan mulai sore ini.
Mas Dikha menjatuhkan tubuhku keranjang, lalu menindihnya. Kami membaca doa sesaat, barulah Mas Dikha kembali melanjutkan aksinya. Ini benar-benar sangat aneh, baru juga jam sembilan pagi. Kami malah sibuk berolah raga di dalam ruangan tertutup. Tidak ada pikiran, kalau kapan saja ada orang yang datang dan mengetuk pintu.
Maklumi sajalah, kami kan pengantin baru, yang masih senang-senang dengan kegiatan ini ya meskipu milikku sudah tak baru lagi seperti duli karena sudah pernah mekahirkan gumamku gila-gilaan.
Astaga, entahlah. Kami sedang terbuai sekarang, semoga apa yang kami lakukan menjadi berkah dan kelak aku akan melahirkan anak-anak yang Sholeh dan Sholehah.
"Dek, aku mau kita punya anak tiga," katanya, meski masih sibuk menyentuh bagian-bagian penting yang ada ditubuhku.
Apa lagi jika, begini. Mas Dikha masih senang-senangnya berolahraga denganku. Hahaha, lucu banget sih hidupku ini. Bahagia itu sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Benar saja, baru mendapat ronde satu dan akan berpindah keronde lainnya ada seseorang memanggil dari luar.
"Nai, Kamu dirumah? Ini Bi Ratna!" serunya, nyaring.
__ADS_1
"Aduh, gimana, Mas?" aku dan Mas Dikha jadi kelabakan. Setelah beberapa detik, dalam diam. Mas Dikha mengisrut turun dari tubuhku dan memakai pakaiannya.
"Biar Mas yang keluar!" pintanya, karena jika aku yang keluar pasti akan menghabiskan waktu lebih lama.
"Wa'allaikumsalam, ada apa ya Bi?" tanya Mas Dikha, lantang.
"Ini lo, Dhika. Anak Bibi, Alisa sakit. Bibi sebenarnya malu mau kesini. Apa lagi baru kemaren kalian menikah. Tapi Bibi bingung mau kesiala lagi kecuali kekalian," jelasnya, sampai. dikamarku.
"Maksudnya, Bi?"
"Bibi mau pinjem uang, Rp 50 saja ada gak? buat berobat."
"Oh, itu. Tunggu sebentar ya Bi."
Mas Dikha masuk kekamar membuka dompetnya diatas meja.
__ADS_1