
Sembilan bulan kemudian...
Pov Dikha
Hari itu, aku melewati halaman rumah Naima setelah pulang dari rumah Pak Ozo tetangga sebelah rumahnya. Namun aku sangat panik saat mendengar rintihan perempuan dari dalam rumah. Padahal Aku sangat tahu kalau Pak Bakti dan istrinya tidak di rumah, mereka sedang menghadiri pernikahan adik Pak Bakti di Bengkulu selama tiga hari. Sedang Bang Gino entah kemana.
Aku sedikit ragu untuk mendekati daun pintu, memastikan suara siapa yang sedang merintih itu. Seperti pencuri kuedarkan pandanganku kesetiap penjuru tempat itu memastikan tidak ada yang melihat.
"Aduh, sakit...!" Aku tersentak ketika yakin pendengaranku tidaklah salah.
"Bukan kah ini suara Naima?" Begitu pikirku saat mengenali suara itu dengan jelas. Aku tak memikirkan kan lagi sebab tindakanku yang segera mendorong pintu dan ternyata tidak dikunci. Gegas aku kekamar Naima yang terduduk dilantai sambil meringis kesakitan.
Cairan apa itu begitu banyak mengalir dari kaki Naima sampai membuatku merinding.
"Mas, tolong! air ketubanku sudah Pecah!" kata Naima sengau.
Aku merasa tegang, tapi bergegas menggendong tubuh Naima dan membawanya kerumah sakit dengan mobil yang terparkir dirumahku sekitar dua harian ini. Namun tak ada yang tahu, siapa pemilik mobil itu, jika ditanya baik Aku maupun ayah. Kami bilang itu milik saudaraku yang nitip karena pergi ke luar negri
Hari ini, Alhamdulillahnya Naima melahirkan dirumah sakit dan segera mendapat tindakan diruang persalinan. Aku merasa risih disana. Bagaimana tidak, aku dan Naima belum mukhrim. Lama termangu, aku pun memutuskan untuk keluar tapi Dokter malah mencegahku.
"Tunggu sini saja istrinya Pak, buat support!"
__ADS_1
Aku dan Naima saling melempar pandang, namun dia tak mampu untuk protes saat merasakan nikmatnya hendak melahirkan.
"Pak, pegang tanganya! Kok diem aja?" Sergah ibu Dokter.
Aku tak punya waktu untuk menjelaskan, dengan tangan yang sedikit gemetar ini akhirnya aku memegangi tangan Naima.
"Aduh Dokter sakit!" Teriak Naima, wajahnya terlihat memerah.
"Tenang Bu, rileks, tarik nafas panjang keluarkan lewat mulut!"
Huf! Hos... Hos....
Naima mengikuti saran Dokter untuk tenang, namun ternyata sakit kembali menguasainya hingga tampah sadar menggigit tanganku .
Aku tetap tak bergeming dan menahan sakit akibat gigitan Naima.
"Ayo Bu, sedikit lagi Bu, ini sudah bukaan terakhir!" Perintah sang Dokter.
"Aaaa... !" Naima kembali berteriak dengan kuat hingga tangisan seorang malaikat kecil menggema memenuhi seisi ruangan
"Alhamdulilah," ucap mereka bersamaan.
__ADS_1
Aku merasa senang mendengar tangisan bayi itu, seperti mendapat sebuah kekuatan baru untukku. Usai dibersihkan oleh seorang Suster dan sang Dokter yang sudah menyelesaikan tugasnya pada Naima mereka segera meminta aku mengadzani sang bayi tersebut.
"Silakan adzanin Pak, putranya. dia sangat tampan dan mirip dengan Bapaknya!" Guyon sang suster.
"Ha!" Aku ternganga akan ucapan suster itu. "Iya sus!" jawabku nyengir.
Aku segera memulai mengadzani sang bayi layaknya Ayah sang bayi yang langsung diam dalam dekapaku.
Allahu Akbar... Allahu Akbar!
Naima tersenyum senang dan perasaan teduh menyeruak dihatinya. Meski tubuhku masih bergetar, aku tetap menggemakan lantunan kebesaran sang Khalid ke telinga putranya dengan seindah mungkin.
Setelah selesai, Naima dipindahkan dikamar rawat inap.
"Makasih ya Mas, Mas udah bantu Naima, aku gak tau nasib ku dan bayi mungil ini jika tidak ada Mas Dikha saat itu."
"Sama-sama, Nai," timpal ku ikhlas.
"Aku sudah tak suci lagi Mas, bahkan kau telah menyentuhku dengan bebas," ujarnya bersedih.
Aku terdiam sambil menunduk. "Maaf, aku tak bermaksud merendahkan mu, karena bagi ku keselamatan mu dan anak kita adalah yang utama."
__ADS_1
"Apa Mas, anak kita?" Tanya Naima sedikit kaget.
"Oh... itu .....maksud ku anak kita jika kita ditakdirkan berjodoh, Nai," terangku gugup. Kenapa mulut ini bisa ngelantur sih?