
"Jangan membuat. Nai, kian terpuruk, Mas. Perkataan itu sangat menyakiti perasaan, Nai. Seandainya aku tahu yang melakukan perbuatan itu. Lebih baik aku meminta dia yang menikahi aku. Jadi aku tidak perlu menyakiti siapapun," ucap Naima panjang lebar.
"Nai, Mas hanya gak ingin_."
Ssst...
Naima meletakkan jari telunjuknya dibibir. Percaya atau tidak, Ia rupanya mengharapkan Ayah dari sang bayi.
"Kenapa kau menginginkan pria itu, Nai? bagaimana kalau dia tidak seperti harapanmu?" tanyaku menyelidik.
"Nai tidak peduli, meski pria itu keriput sekalipun. Nai akan lebih baik menikah dengannya," ujar Naima kelu. Perasaanku sangat sesak untuk menarik nafas saja. Mengapa Naima sampai berpikir demikian?
Sesaat kudongakkan kepala keatas menatap langit-langit, ingin kucurahkan segala bentuk rupa yang menyiksa batin ini. Tidak tau harus memulai dari mana? tapi yang pasti semua ini harus segera berakhir.
"Nai...!" ucapku lagi, tapi terputus ketika sebuah klakson mobil terdengar dihalaman.
"Tunggu, Mas. Sepertinya ada tamu." Kulihat Naima melangkah kearah pintu dan membukanya.
"Assalamualaikum, selamat pagi, Nai!"
Ya, aku kembali menghela nafas. Aku sangar mengenal betul suara pemiliknya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, silakan masuk, Mas!" Naima mengatur beliau yang tak lain adalah Bang Rohman masuk.
Kami bersitatap. Nampaknya Mas Rohman terkejut melihat keberadaanku.
"Wah, hari ini kalian rupanya berkumpul disini!" seru Bang Gino disusul oleh Ayah dibelakang.
"Halo Yah, Bang, bagaimana kabarnya?" tanya Bang Rohman santun.
Aku terkesima, sejak kapan panggilan Ayah terlontar dari mulut Bang Rohman. Berarti sudah dipastikan aku tidak memiliki harapan lagi bersama Naima.
"Alhamdulilah, baik Man? bagaimana kondisi adikmu sekarang?" tanya Ayah Naima balik belum menoleh kearahku.
"Baik, Yah."
"Assalamu'alaikum, Pak," kataku lirih.
"Wa'alaikumsalam, Nai buatin Rohman minum!" titah Ayah Naima kemudian, sepintas saja menatapku.
Sakit rasanya, apa dayaku. Mana mungkin lelaki melarat ini bisa dipandang oleh Ayah yang ingin putrinya bahagian.
Sejenak Naima memandangku, Mungkin Ia merasa tak enak hati padaku lalu bergegas menuju dapur.
__ADS_1
"Dikha, sudah lama disini?" Bang Gino mendudukkan diri disampingku.
"Alhamdulilah lumayan, Bang," jawabku dingin. Tidak tahu bagaimana menempatkan diri saat ini. Posisi ku jadi tidak ada artinya, ingin pergi saja. Tapi tubuhku tak mampu berkutik.
"Ini Mas minumnya." Naima meletakkan gelas didepan Bang Rohman saja membuat hatiku perih , apalagi harus merelakan wanita yang kucintai menikah dengannya.
Ya Allah, ampunilah Dikha
Hatiku sangat pilu, padahal Agama mengajarkan tentang sebuah keikhlasan tapi nyatanya semua itu sangatlah sulit.
"Rohman, Dikha!" Pak Bakti mulai menyebut nama kami.
"Bapak hanya bisa berdiri ditengah membiarkan Naima menentukan pilihannya tapi jujur saja Bapak sangat berharap Naima bisa menikah dengan Rohman yang selama ini telah membantu Naima sangat banyak."
Deg!
Jantung ini seakan ingin meledak. Apa maksud Pak Bakti mengatakan ini didepanku.
"Saya mengerti, Pak. Bang Rohman memang lebih baik dari saya. Jika Naima memutuskan untuk bersama Bang Rohman, saya akan belajar menerima," sahutku lepas. Tidak tahu seberapa koyak perasaan didalam sana saat ini.
Khek...
__ADS_1
Putra Naima menangis, lekas Ia masuk dengan wajah ketidak pastian lalu keluar lagi menggendong putranya.
"Mas, coba lihat Nai baik-baik. Pantaskah pria hebat seperti kalian memperistri Nai yang tak lagi murni. Bagaimana pun juga kelak Nai dan anak Nai akan menjadi beban untuk kalian," ujarnya sembari meneteskan air mata.