
POv Rohman
Prang! Prang!
"Aahk... Aku gak terima. Dikha benar-benar licik, berani sekali dia merebut Naima secara hina." Membara rasanya dadaku, melihat Naima lebih memilih orang bejat itu. Hingga seluruh seisi kamar kulemparkan kelantai dan pecah.
Aku tidak mengerti mengapa Naima sepolos itu, Ia tidak tahu cara memilih pria yang lebih pantas untuknya. Kurang apa aku selama ini, bahkan aku rela membesarkan anaknya demi mendapatkan dia.
Tapi lihat! dia tetap memaafkan Dikha. Kali ini aku tidak akan tinggal diam. Akan kubuat Dikha dan Naima menyesali perbuatan mereka karena sudah mempermainkan perasaanku.
Tok! Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu. Ternyata Ibu tengah mengkhawatirkan kondisiku.
"Rohman, ada apa denganmu, Nak? kau baik-baik saja?" Tanyanya, sampai akhirnya aku menenangkan diri dan membuka pintu yang kukunci dari dalam.
__ADS_1
"Astaga, Rohman. Kau memecahkan perabotan di kamarmu? cerita sama Ibu, kau punya masalah apa, Nak?" Ibu menarik lenganku dan menggoyang-goyang tanganku namun aku tidak bisa berkata-kata selain menangis dan memeluk beliau.
"Tenang, Nak. Jangan melakukan hal yang akan membuatmu sakit nanti!" Ibu adalah wanita terhebat yang aku punya, Ia selalu menyayangi aku dengan sepenuh hati. Bahkan sangat takut jika aku maupun adik perempuanku terluka sedikit saja.
"Tapi ini lebih dari sakit, Bu. Aku tidak percaya akan yang aku lihat hari ini," kataku kesal.
"Lihat Ibu!" Beliau membingkai wajahku. "Apa Naima lebih memilih, Dikha ketimbang kamu?" tanyanya menatap serius.
"Iya, Bu. Bahkan, yang lebih parah lagi. Dikha rupanya adalah Ayah dari anak yang Naima lahirkan selama ini," jawabku makin terguncang rasa kecewa.
"Apa? bukankah Dikha itu anak yang alim, Nak?" Ibu agak terkejut dan kurang percaya.
"AstaufiruLLah hal azhim, Ibu tidak menyangka anak itu ternyata akhlaknya buruk."
Aku pun duduk ditepi ranjang. Mengusap wajah gusar dan perasaan amarah. Entah apa yang bisa kulakukan sekarang. Aku benar-benar telah kehilangan wanita yang selama ini menjadi impianku sebagai pendamping hidup.
__ADS_1
"Rohman
, yang ikhlas ya, Nak. Mungkin Naima bukan jodohmu," ujar Ibu menasehatiku dan hanya kuangguki.
Beliau kemudian meninggalkan ku seorang diri, lekas aku keluar dan meninggalkan rumah. Membuang kegundahan yang sangat menyiksaku.
Seandainya waktu bisa diputar, aku pun harusnya tidak sudi menerima perjodohan itu. Pada akhirnya aku juga yang tersakiti oleh kenyataan.
Ku pacu mobil dengan kecepatan tinggi, tidak perduli seberapa cepat kendaraan itu membawaku. Tak lama setelahnya, aku hilang kendali. Lalu kebanting setir ke tepi jalan dan menabrak sebuah pohon hingga ringsek.
Kepalaku terbanting ke arah setir namun aku masih sadar dan merasai ada sesuatu mengalir dari keningku. Kuusap cairan itu dan rupanya adalah darah. Aku semakin syok mengamati darah tersebut, lalu berusaha keluar dari dalam mobil mencari tempat yang aman.
Benar saja, suara ledakan yang jaraknya sekitar beberapa meter dari tempatku berdiri membuat tubuhku serasa terbang dan terpelanting.
Kobaran api dari mobilku mengundang perhatian banyak orang. Mereka segera mendekat dan membantu aku berdiri.
__ADS_1
Hari ini aku lah yang hancur, terluka dan merugi karena kemarahanku akibat disengsarakan.
Kalian lihat saja, bagaimana nanti akan kubalas sakit hati ini