
Adem sekali rasanya mendengar ucapan Naima. Tak kusangka Ia bisa berbicara demikian.
"Mas, Naima tahu kok resikonya jadi istri. Pasti suatu saat akan meninggalkan kedua orang tua dan keluarga tapi sekarangkan surga Naima ada pada Suami. Tentu Naima ingin meraih surga itu nanti, apa lagi kalau Mas Dikha memberikannya dengan suka rela," ucapnya, sembari terkekeh.
Aku pun melingkarkan tanganku dipinggangnya, karena menyentuhnya adalah suatu pahala.
"Mas, nanti dilihat orang," ujarnya berbisik, dan tidak nyaman.
"Kenapa emangnya, dek? kitakan udah mukhrim. Lagian cuma meluk aja kan," timpalku, semakin gemas.
"Hehehe, iya sih tapi Nai malu lo Mas," ujarnya, yang akhirnya pokus menyetir hingga tak terasa sudah didepan rumah.
"Eh pengantin anyar apa pengantin kesasar ya, ahli neraka aja kok sok-sok an romantis," ketus seorang Ibu-ibu yang baru lewat depan rumah kami.
Aku dan Naima tidak menjawab, kami hanya tersenyum lalu berlalu sembari mengucap salam.
"Ih sombong, sok alim padahal penzina," ucapnya lagi, dan pergi. Disanalah aku melihat kesedihan diwajah Naima, nampaknya Ia akan marah padaku.
"Mas, ayo masuk!" ajaknya menggaet lengan, dan menghantarku duduk di ruangan depan.
__ADS_1
"Tunggu disini ya, Mas. Nai, ambil sarapan dulu biar Mas bisa minum obat," katanya hendak pergi, tapi aku menahan lengannya.
"Nai, sedih?" tanyaku menelisik, saat wajahnya menoleh. Wanita itu malah tersenyum tanpa beban sedikit pun seolah tidak ingin aku melihat luka dihatinya, tapi aku tahu itu serapat apapun dia menyimpannya. Aku tahu hatinya perih akan perkataan orang.
"Mas, ini hidup Nai. Dipertemukan dengan Mas Dikha adalah keberuntungan, dan Nai tidak pernah menyesal sedikit pun," jawabnya membuatku merasa terharu.
"Congrats," sahut Bang Gino, keluar dari pintu tengah.
"Ah, Abang. Selalu ikut campur," ketus Naima kesal, lalu pergi meninggalkan kami.
"Dikha, coba ku lihat luka mu!" Bang Gino mengecek tempat yang dibalut perban itu. "Kamu tahu orangnya?" tanyanya menatap serius.
"Orangnya memakai topeng, Bang," jawabku yang juga sangat penasaran. Dendam apa orang padaku sampai berani menyerang.
"Kurang ajar emang ya, kita harus cari tahu secepatnya sebelum berakibat fatal. Aku yakin dia masih akan menyerangmu." Bang Gino menebak asal, tapi aku juga memikirkan hal yang sama. Tidak akan rasanya, jika suatu saat lelah menerorkan bisa jadi ke Naima nanti.
"Mas, ini sarapannya!" Naima kembali dengan sepiring nasi dan lauk ikan mujaer dan tumis kangkung.
"Biar Nai suapin, Mas," katanya mengulurkan tangan, membuat Bang gino nampak risih.
__ADS_1
"Hadeh, obat nyamuk ni!" reseknya, meninggalkan kami berdua dalam asmara.
Naima duduk disampingku dan menyuapi aku dengan tulus, Hidupku terasa sangat bahagia. Akhirnya mempunyai keluarga kecilku sendiri yang sudah lama aku dambakan.
"Dek, Mas makan sendiri aja ya," tawarku, hendak mengambil alih piringnya tapi Naima menolak.
"Udah, Mas Dikha diem aja mau ngasih Naima surgakan?" ujarnya ngebombal.
"Eh, dah pinter ya sekarang," kucubit hidungnya dengan sangat gemas.
"Ih, Mas Dikha. Nanti hidung Naima makin pesek lo," guyonnya, sembari memonyongkan bibir.
"Biarin aja, biar Mas gigit nanti," balasku tak mau kalah.
Oe... oe...
Suara Yusuf terdengar nyaring dari dalam kamar, pasti Ia sudah sangat kehausan.
"Dek, cepat urus Yusuf aja," kataku, yang akhirnya mengambil alih nasi ditangan Naima.
__ADS_1