Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 6


__ADS_3

Akhirnya, hari itu juga. Aku dipertemukan oleh orang yang dimaksud oleh Bosku. Pemuda berbelung pipit sebelah


dipipi kirinya. Dia sangat manis bila tengah tersenyum.


Sejak perkenalan itu, Mas Anton sering menemui aku dipasar. Lama kelamaan kami saling suka satu sama lain. Perilakunya yang baik dan perhatian telah menyanjung hatiku.


Ya, sudah dua bulan kami menjalin hubungan ini tanpa diketahui kedua orang tuaku. Ku jalani kisah ini dengan perasaan tenant.


"Dek, ayo makan siang dulu!" ajak Mas Anton.


"Iya, Mas," jawabku.


Kami memilih makan bebek panggang dirumah makan yang terletak di tepi jalan. Ia memesan bebek panggang mungkin ia tahu itu adalah menu favoritku.


"Nai, kamu sangat cantik," puji Mas Anton di sela-sela makan kami.


Aku pun tersenyum menimpalinya.


"Terima kasih, Mas," ujarku pias.


Mungkin wajahku terlihat memerah di depan Bang Anton. Duh, malunya. Tapi aku berusaha senetral mungkin.


"Besok, aku ingin bertemu orang tua mu, boleh?" tanya Mas lagi membuat jantung berdegup cepat.

__ADS_1


"Mas, serius?" tanyaku tak percaya.


Mas Anton tergelak. Ia terus saja tertawa seolah ada yang lucu.


"Kamu pikir aku bohong? aku serius, dek?"


"Hehehe.... iya Mas," kataku sembari nyengir. Ku raih air minum disamping piringku dan ku teguk hingga habis.


Hari dimana Mas Anton berjanji menemui ku, Ia menepati janjinya. Berungtung rasa nya bertemu orang seserius dirinya.


Tapi sayang semua itu tak sesuai dengan harapanku. Kedua orangku bahkan Bang Gino menolak kehadiran pemuda itu.


Alasannya, Mas Anton sendiri adalah orang yang ternyata memiliki riwayat hidup yang kelam. Tapi orang tuaku menolak untuk menceritakannya.


Sakit hatiku mendengar perkataan Bang Gino semudah itu.


"Lo, kenapa Bang?" tanyaku kesal.


"Dia tidak akan mampu menghidupi diri mu lebih baik dari Abang, Dek," ujar Bang Gino membuat kepalaku menjadi pening.


"Tak apa, Bang. Aku mengerti, mungkin Naima bukan jodohku," kata Mas Anton pasrah.


"Tap, Mas_?" Aku ingin menyangkal namun Bang Gino mencegah tanganku.

__ADS_1


Mas Anton pergi tanpa mau menoleh lagi kearah ku. Aku sangat kecewa pada Bang Gino. Aku berpikir kalau Mas Gino tidak punya perasaan.


"Bang Gino keterlaluan," pekik ku marah.


"Maaf, Dek."


Aku tidak memperdulikan lagi ucapan Bang Gino dan lebih memilih mengurung diri di kamar.


Tak lama, aku mendapat pesan dari temanku Tiwi. Kalau Ia ingin mengajakku merantau ke Jakarta. Tentu saja itu adalah kesempatan emas bagiku.


Dengan begitu, mereka tidak akan lagi mengatur kehidupanku mengatasnamakan perjodohan. Bahkan pilihan ku sendiri pun mereka menolak.


Malam itu aku memantapkan hati untuk meminta Izin. Aku tidak perduli jika mereka melarangku. Aku akan tetap pergi.


Syukurlah, dengan berbagai bujuk rayuku Kedua orang tuaku melepas kan kepergianku. Bang Gino ku lihat memilih diam, aku tahu Ia pasti mengkhawatirkan aku disana.Tapi aku sangat yakin, aku bisa menjalani ini di kota nanti.


Pagi yang ceria telah tiba, Secerah hatiku yang akan melihat suasana kota hari ini.


Ku cium kedua tangan mereka dengan kasih dan cintaku dan kupeluk Bang Gino yang tetap membisu di tempatnya.


"Aku pergi!" pamitku.


"Jaga dirimu baik-baik, nak!" ucap Ibu diikuti buliran air mata yang berderai. Aku yakin mereka pasti sangat berat melepasku.

__ADS_1


"Iya, Bu." Kuseka air mata di pipinya dan kukecup pipi wanita paruh baya yang sudah melahirkanku itu dengan nyawanya.


__ADS_2