Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 18


__ADS_3

Hari itu kesekian kalinya aku dan Mas Nugi jalan-jalan bersama. Banyak hal yang kami ceritakan disepanjang hari itu hingga akhirnya kami pulang kerumah pukul 13.00 sore.


"Ayo, Mas. Masuk dulu!" ajakku. Ia segera duduk diruang tamu. Rumah nampak sepi mungkin kedua orang tuaku sedang memetik hasil panen dikebun kerena sudah banyak yang bisa di dinikmati.


"Silakan diminum!" ujarku lagi yang buru-buru kedapur membuatkan Mas Nugi secangkir koffe.


"Makasih, dek," katanya seraya tersenyum kearahku.


Gubrak!


sedang santai mengobrol seseorang mendadak datang mengagetkan kami. Dia menggebrak meja dengan sangat keras. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya entah sejak kapan dia tahu aku sudah kembali dari kota. Kutatap koffe yang masih belum tersentuh itu sebagian tumpah akibat sentakan beliau.


"Oh, jadi ini penyebab kamu dan keluargamu nolak aku, Nai. Aku sangat mencintai kam,Nai. Aku gak rela kamu menikah sama dia." tunjuknya kewajah Mas Nugi.


Ya, dialah Mas Arief pacar pertamaku. Kisahnya tidak kuceritakan karena rasa sakit hatiku dikhianati. Bahkan aku telah mengubur rasaku sampai tak bersisa.


"Maaf, Mas," sahutku. "Kamu salah paham, hubungan kita putus bukan karena Mas Nugi tapi kamu yang sudah selingkuhi aku dengan biduan itu," imbuhku lagi karena kesal.

__ADS_1


"Nai, maafin Mas. Semua itu terjadi karena khilaf. Ayo kita balikan, Nai," melasnya sembari mengatupkan tangan.


Mas Nugi hendak beranjak tapi aku menahan lengannya.


"Tolong jangan pergi." Kali ini aku yang merendahkan diri pada Mas Nugi karena bagiku Mas Arief adalah masa lalu.


"Maaf, Mas. Diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Silakan tinggalkan rumahku," jawabku ketus.


"Ta_ Tapi, Dek. Aku masih sangat mencintaimu. Aku menyesal, Dek." Dia masih berharap akan mau kembali denganya tapi tidak, perasaan itu sudah sirna.


Ia terlihat kesal dan menatap Mas Nugi dengan mata melotot lalu beralih ketanganku yang masih memegangi lenganya.


Brak!


Ia menggebrak meja lagi lalu pergi meninggalkan kami membawa amarahnya.


"Maaf, Mas. Dia hanya masa lalu," kataku lirih dan merasa tidak enak atas perlakuan Mas Arief pada Mas Nugi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, mungkin dia menyesal meninggalkan kamu, Nai," jawabnya lagi-lagi hanya tersenyum.


Keesokan Harinya, temanku Elsa datang terburu-buru. Ia mengatakan kalau Adik Mas Nugi sedang sakit.


"Ayo kita jengukin, Nai. Kasihan kan? masak kamu gak mau sih tengokin calon ipar kamu," ujarnya sewot karena menunggu jawabanku.


"Iya, iya, aku minta izin dulu sama Ibu," jawabku agak malas karena jam menunjukkan pukul 10.00 pagi.


"Pergi saja jika itu penting, Nak," sahut Ibu dari dalam. Sejauh ini semua keluarga sangat mendukung hubunganku dengan Mas Nugi. Mereka bilang Mas Nugi baik dan sopan. Keluarga Mas Nugi juga orang terhormat yang tau soal Agama dan hukumnya.


"Oh, iya Bu. Jika Ibu tidak keberatan," tuturku antusias. Tentu saja aku senang karena kemungkin aku akan bertemu lagi dengan pangeran pujaan hatiku. Lekas aku melangkah kekamar mengambil jilbab segiempat dan merias diri sedikit agar tidak terlalu kusam dilihat oleh keluarga Mas Nugi. Tak lupa kububuhkan juga lipstik seadanya untuk meminilasir keadaan bibirku supaya tampak merona.


Usai berdandan, cepat-cepat ku raih tas slempang di dalam lemari dan kembali menemui Elsa yang masih mengombrol bersama Ibu.


"Ayo, El!" ajakku tak sabar. Padahal disini Elsa yang sudah menunggu lama, aku juga yang memintanya segera.


Dalam perjalanan, Elsa banyak cerita. Temanku yang satu itu paling bawel diantara teman yang lain. Ia mengenal baik keluarga Mas Nugi karena mereka masih kerabat dekat.

__ADS_1


__ADS_2