
"Nai, kamu serius. Cintaku lebih besar dari Dikha, Nai. Dia hanyalah pecundang, merampasmu dariku karena tahu aku lebih baik darinya!" tunjuk Mas Rohman geram kewajahku tapi tidak kusangka Naima menepisnya.
"Tanggalkan tanganmu, Mas. Seburuk apapun dia, Mas Dikha akan menjadi Imamku," jawabnya yakin.
"A_ apa? kau serius, Nai. Mau dinikahi sama orang yang sudah menghancurkan hidupmu?" Mas Rohman tak percaya.
"Iya, Mas. Aku yakin Mas Dikha tak seburuk itu. Memang perbuatannya tidak bisa dibenarkan tapi Naima yakin. Mas Dikha bisa menuntun kami kesurga nya Allah," balas Naima, membuatku tak mampu berkata akan wanita hebat dudepanku.
"Gila, kau juga sudah gelap mata, Nai. Memilih pria yang sudah merusak kehormatanmu. Jangan-jangan kalian sengaja melakukannya atas dasar suka sama suka tapi berkedok pura-pura tidak tahu!" maki Bang Rohman memicingkan matanya, hingga sebuah tamparan mendarat dipipinya.
Plak!
"Tutup mulutmu, Mas. Sekarang Nai semakin yakin, ucapan yang Mas Rohman lontarkan bisa saja keluar dari mulut Mas suatu saat nanti jika Naima menikah dengan, Mas." Naima membela diri.
"Oh, jadi kamu menilaiku begitu?"
__ADS_1
"Tentu saja, yang kulihat dari tadi Mas Rohman sangat terobsesi ingin menjatuhkan Mas Dikha," yakin Naima.
"Baiklah, terserah saja. Tapi ingat Nai, aku tidak rela diperlakukan seperti ini," ujarnya, Ia pergi masuk kemobil meninggalkan kami disana.
Aku tidak tahu harus apa? aku tetap bingung didepan Naima. Dia terlalu baik, terlaku suci, bahkan sangatlah sempurna dimataku.
"Tolong lepaskan dia, Pak. Saya tidak mau Bang Dikha diperkarakan karena saya membutuhkannya!" pinta Naima lagi.
"Bagaimana, Pak?" tanya Pak polisi pada pada Pak Bhakti. Beliau akhirnya mengangguk pasrah.
"Baiklah, anda kami bebaskan. Jadilah suami yang baik, Dikha!" Pak polisi menepuk pundakku.
"Nai, maafkan Mas," kataku lagi, aku tidak akan lelah mengatakan ini didepannya.
"Aku yang minta maaf, Mas. Seharusnya dari awal Nai menolak keputusan Ayah mau menjodohkan Nai. Jadi Mas Dikha tidak akan melakukan ini. Nai tahu Mas sangat mencintai, Nai. Oleh karena itu, biarkan ini menjadi masa lalu dari kita," ujarnya tersenyum meski matanya tetap mengembun.
__ADS_1
"Dasar,Si Naima. Udah dileceeehkkkan masih saja mau. Ya udah deh, ayo bubar kita tunggu undanganya," ujar salah seorang dari mereka. Masih banyak lagi ucapan-ucapan yang menghina kami. Tapi kami memilih mengabaikan semuanya.
Bang Gino mendekat, dia merangkul pundakku.
"Aku percayakan Naima padamu, Dikha," bisiknya sambil kemudian menepuk-nepuk pipiku yang memar.
"Terima kasih, Bang," kataku, mulai mendapat respon yang baik lagi dari Bang Gino.
Pak Bhakti dan Ayah saling mendekat, lalu berjabat tangan. Ya, kurasa Ayah Naima membuka hati untuk menerima kehadiranku.
"Maafkan Dikha, Pak!" ujar Ayah lagi.
"Iya, baiklah. Kita masuk saja kedalam dan bahas masalah selanjutnya!" Pak Bhakti menghantar kami masuk keruang tamu. Sedangkan Ibu Bang Dikha kembali membuat minuman baru.
"Dikha, mungkin ini sangat hina. Seluruh warga akhirnya tahu. Tapi Bapak rasa, setelah menikah. Kalian menjauh saja dulu dari kampung ini untuk menghindari bibir-bibir tajam yang akan menyakiti kalian!" Pak Bhakti memberi saran.
__ADS_1
"Ya, saya setuju. Lebih baik mereka mengontrak saja dulu, agar bisa menjalani rumah tangga dengan tentram." Ayah menimpali.
"Terima kasih sudah mau menerima Dikha, Pak," kataku terharu.