Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 26


__ADS_3

"Mbak Nai! yuhu! Mbak dimana?" teriak Chelsea dari luar. Bagaimana aku tahu, karena suara khasnya yang sudah kayak kaleng rombeng berteriak-teriak sesuka hati.


"Kenapa, Chel?" setelah Ia berada didepanku. Chelsea adalah sepupuku. Usianya baru 17 tahun. Itu artinya masih sekolah menengah atas.


"Mbak, anterin Chelsea foto copy yuk. Aku takut sendirian," rengeknya bergelayut dipundakku membuat aku geli olehnya.


"Emang Bang Ilham kemana?" tanyaku yang mendongak kearah nya.


"Bang Ilham kan kerja, ikut panen sawit katanya," jawab Chelsea sambil mengerucutkan bibir. Melihatnya aku kasihan hingga akhirnya aku bersedia. Toh, paling cuma sebentar. Masak sebagai saudara aku gak punya hati sih.


"Ya udah bantu Mbak Bereskan ini," kataku padanya. Anggap saja imbalan biar impas, hehehe....


"Oke, Mbak. Di tarok dimana?"


"Diatas lemari tu!" tunjukku ketempat yang dimaksud.


Cukup lama membereskan daganganku, kami pun berangkat dengan motor maticnya. Namun yang membuatku heran, kami sudah melewati tukang Foto Copy tapi Chelsea malah melajukan motornya.


"Chel, bukanya_?"


"Disana rusak, Mbak. Makanya agak jauhan dikit," jawabnya tersenyum.

__ADS_1


Tepat disebuah bendungan yang besar dia menghentikan motornya didepan seorang pemuda. Tanpa malu bertukar pipi didepanku.


"Lo, Chel_?" aku sebagai mbak berusaha menegurnya tapi Chelsea malah memotong pembicaraanku.


"Mbak ini uang, Mbak pulang naik ojek ya. Aku mau jalan sebentar sama pacarku," katanya. Ia berlalu dengan pemuda itu tanpa memperkenalkannya padaku. Aku kebingungan dibuatnya. Dimana ada tukang ojek di tempat wisata tersebut. Hanya orang yang lalu lalang mencari hiburan yang kulihat.


"Ya ampun, Chel. Tega sekali sih kamu!" omelku kesal. Lama merenung dan berpikir. Akhirnya aku teringat dengan Mas Dikha. Lekas kurogoh ponsel bututku dari dalam saku celana. Untung barang berharga ini selalu kubawa akhir-akhir ini.


"Halo, Assalamualaikum!" jawab Mas Dikha dari sebrang.


"Wa'allaikumsalam, Mas. Aku bisa minta tolong," ujarku sedikit canggung.


Akhirnya kuceritakan semua sebab aku menelpon dan butuh jemputan darinya.


"Oh, gitu. Tunggu disana ya! ingat, jangan kemana-mana!" pesannya.


"Iya, Mas," jawabku. Seperti biasa, usai mengucapkan salam Mas Dikha mematikan ponselnya.


Sekitar setengah jam aku menunggu, akhirnya Mas Dikha muncul dari kejauhan. Kukembangkan senyum menyambut kedatangannya. Semakin hari, perasaanku padanya entah mengapa bertambah besar. Apalagi melihat wajahnya. Masya Allah, keindahan Tuhan mana lagi yang ku dustakan.


"Assalamualaikum!"

__ADS_1


"Wa'allaikumsalam, makasih ya Mas udah repot-repot jemput Nai," kataku senang.


"Kayak sama siapa aja sih, Nai. Rupanya disini rame ya, kira keliling sebentar ya!" ajaknya tiba-tiba.


"Oh, boleh," jawabku antusias.


Dibendungan itu banyak orang menyewa perahu untuk sekedar menikmati sebuah kolam mini didekatnya. Aku yang melihatnya serasa ngeri. Bahkan suatu dentuman air nampak memabukkan.


"Nai, ayo kesini!" Mas Dikha mengajak ku mendekat di arah pusaran air.


"Ih, gak mau Mas, Nai takut!" teriakku histeris.


"Masak takut sih, kitakan bukan mau masuk kedalam air, Nai?" ajaknya lagi hendak menarik tanganku namun ku lepas dengan cepat dan aku akhirnya menangis. Sejak kecil, aku memang takut dengan air yang besar.


"Gak mau, Mas. Nai pusing liatnya," kataku protes sambil duduk menutupi wajahku dengan telapak tangan.


Bukannya menghibur Mas Dikha malah menertawakan tingkahku yang sudah seperti anak kecil. Pasti dia mengira aku hanya berbohong.


"Hiks... Mas Dikha," teriakku marah, mengangkat kepala kearahnya.


"Astaufirullahal azhim, Nai. Kamu beneran takut ya?" tanyanya setelah melihat mataku basah.

__ADS_1


__ADS_2