
Hari-hari semua berjalan normal, aku tidak pernah mendengar lagi nama Mas Rohman. Di hari ini, aku telah resmi dinikahi oleh Mas Dikha, yang akan menjadi Imam untukku dan Yusuf mulai sekarang.
Pernikahan kami terjadi secara sederhana, hanya beberapa kerabat dekat saja yang hadir. Karena itu sudah menjadi keputusan bersama.
Malam mulai hadir, ini kali pertamanya kami Sholat bersama sebagai satu keluarga kecil yang Insya Allah akan selalu bahagia karena Allah.
Selepas doa terakhir, Mas Dikha mengulurkan tangan kearahku lalu kucium penuh haru. Setelah itu Ia membingkai wajahku sembari mengembangkan senyum.
Salah tidaknya, aku merasa senyuman Mas Dikha kali ini sangat berbeda. Ya Allah, ku pegang derap janyungku seakan mau copot.
Sentuhan tanganya yang penuh kelembutan mampu menimbulkan desiran kasat mata dalam aliran darahku.
Bola mata bening, wajah yang tampan dan juga janggut tipis yang terlihat gagah didepanku.
Apa ini yang namanya Cinta? aku pasti sedang gila. Ya, dia membelai kepalaku di balik mukenah yang ku pakai.
"Dek...!" katanya, suaranya terdengar mendayu-dayu memuja indera pendengaranku.
"Iya, Mas," jawabku malu-malu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu," ujarnya, membuat wajahku yang sudah merah ini semakin merekah.
"Nai, tahu," jawabku lagi.
"Nai mencintai, Mas kan?" tanyanya lagi, dan itu kuangguki.
"Mas, punya hadiah." Mas Dikha berjalan kearah tas pakaian miliknya tadi. Mengeluarkan sebuah kotak kadi berukuran cukup besar.
"Lihatlah!" Dia memerintah, sembari menyipitkan bola matanya.
"Apa ini, Mas?" tentu saja aku penasaran, pasti sesuatu yang ada didalamnya amatlah penting.
Lekas ku tarik pita yang menyilang bagai bunga didalamnya, setelah kubuka kotak itu ternyata isinya adalah beberapa kerudung syar-i.
"Dek, Jika kamu mencintai, Mas. Mulai sekarang pakai ini ya! Mungkin ini hanya hal biasa menurutmu dan kamu memilikinya. Tapi Mas Mau mulai sekarang jangan pernah lepas kerudung ini selain didepan Mas dan Makhrommu," katanya bersungguh-sungguh, hingga tidak sadar air mataku meleleh.
Selama ini aku memang belum memakai benda berharga seperti yang Mas Dikha berikan. Karena aku hanya memakainya saat bepergian saja itu pun tidak selalu.
"InsyaAllah, Mas. Terima kasih sudah mengingatkan, Nai," kataku, jauh dilubuk hati aku berjanji akan memakainya mulai sekarang demi cinta dan kasih sayangku pada Mas Dikha atas nama Allah.
__ADS_1
"Terima kasih, sayang," ujarnya mengusap pipiku, lalu mendekatkan wajahnya kearahku. Ya Allah, kenapa tubuhku terasa panas dingin ya? kali ini rasanya bagaikan disurga.
"Bismillahirrahmanirrahim...." Kalimat itu terucap berbarengan dengan bibirnya yang mengecup keningku, dan itu benar-benar dengan keridhoan. Kami saling berpandangan cukup lama hingga tangis dedek bayi membuyarkan semuanya.
Oe.. oe..
"Cepat kasih AsI, Dek!"
Lekas aku berdiri dan melepaskan mukenaku lalu menggendong Yusuf kemudian membawanya duduk diatas ranjang.
Sedikit malu mau melakukannya didepan Mas Dikha yang malah mendekati aku. Bagaimana ini? astaga, Nai. Kok rasanya aneh begini ya?
"Kenapa, Sayang? dedek udah kelaparan tu?" Tanyanya membuatku lagi-lagi tak berhenti tersipu.
"Nai_."
"Malu," sambungnya langsung. "Aku kan suami mu sekarang, haruskan kau masih ingin menyembunyikannya?" lanjutnya membuatku kikuk.
"Iya, Mas. Maaf...," kataku kemudian. Cepat, aku nekat juga melakukannya didepan Suami yang baru beberapa jam itu menikahiku.
__ADS_1
Mas Dikha tergelak, sambil mencubit pipi dedek yang sibuk minum dari air suci ciptaan Tuhan ini. Anugerah sekali rasanya bisa membesarkan seorang bayi yang Allah percayakan pada kami.