Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 13


__ADS_3

Hari itu, tepat dimana hari terakhir untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Kampung kami mendapat undangan acara pengajian di kampung sebelah sebagai bentuk syukur telah dipertemukan kembali dibulan yang penuh berkah ini.


Aku dan Bang Gino datang mewakili acara tersebut. Suasana nampak ramai, mereka begitu antusias untuk menghadiri.


Bang Gino memarkirkan motor dihalaman rumah tak jauh dari pengajian yang di gunakan sebagai halaman parkir. Rumah itu mewah dan memiliki halaman luas. Dikampung hal itu sudah tidak heran, semua tempat bisa dimanfaatkan tanpa ada yang marah.


Ketika aku turun dari motor Bang Gino, kami disambut oleh seorang oleh pemuda yang bertugas menata kendaraan.


"Sini Bang biar aku," tawarnya, membuat aku tercengang.


Bukankah itu adalah pemuda yang kemaren memanggilku Cah ayem...


Dia melirik sebentar kearahku sambil tersenyum lalu menggeret motor Bang Gino ketempat yang seharusnya. Mungkin dia berpikir hal yang buruk tentangku karena menolak membalas Chat nya. Ah, sudahlah aku tidak mau ambil pusing hal tersebut.


Aku dan Bang Gino mengambil posisi didalam tenda. Selang beberapa waktu acara pun dimulai sampai akhirnya Seorang Kyai berceramah memberi sebuah wejangan yang sangat bermanfaat.

__ADS_1


"Ibu-Ibu, tau tidak? Perempuan itu banyak pahalanya lo. Jika rela meladeni suaminya dengan ikhlas. Mau bangun malam-malam buat masak untuk sahut walaupun dalam kondisi mengantuk. Terutama diatas ranjang, kalau bulan puasa pada dipending gak? hayo ngaku?" Pak Kyai tersenyum menggoda.


"Enggak, Pak," jawab semua orang kompak disertai gelak tawa.


"Waduh, yang penting jangan siang ya? tau hukumnya apa? meski mereka sudah menikah, jika mereka berhubungan badan dibulan suci Ramadhan disiang hari saat seluruh umat muslim sedang puasa hukumnya adalah ha_ ram dan mereka harus membayar perbuatan tersebut satu hari yang mereka lakukan dengan puasa dua bulan berturut-turut tanpa jeda sama sekali. Kira-kira kalian sanggup tidak?"


"Enggak," jawab semua orang lagi sambil kembali tertawa cekikikan.


Astaga, Pak Kyai nya kocak abis. Kami semua sangat terhibur dibuatnya. Semua yang disampaikan beliau tak ada yang terlewat sama sekali.


"Paham, Pak kyai," timpal Elsa. Suaranya yang paling keras terdengar.


Lagi-lagi kami tertawa tanpa sadar.


"Good, suaranya mantul." Pak Kyai memujinya. "Sudah menikah?" Lanjut Pak Kyai.

__ADS_1


Elsa menggeleng sambil senyum-senyum sendiri.


"Nah, apa lagi yang belum menikah. Haramnya plus-plus, hati-hati ya. Takutnya ngelakuin disemak belukar ma pacar," ujar Pak kyai lagi menggoda.


Kami tak dapat menahan diri untuk tidak tertawa nerulang-ulang, baru kali ini aku mendengar kekocakan seorang Kyai berceramah dan sungguh mengagumkan karena apa yang disampaikan sangatlah meneduhkan hati kami.


Kulihat dari jarak tidak terlalu jauh, Elsa nampak malu dan menyembunyikan wajahnya dipunggung teman disampingnya.


Singkatnya, setelah sekitar 2 jam acara pun akhirnya selesai. Aku segera kelahan parkir untuk menemui Bang Gino. Tapi lama aku menunggu sampai semua lengang. Aku tak melihat keberadaan Bang Gino sama sekali.


Aku mulai panik, menoleh ketenda juga juga sudah kosong. Hanya ada pengurus acara sedang menata kursi.


Bang Gino kemana ya?


Aku kebingungan sendirian seperti orang hilang ditempat itu.

__ADS_1


__ADS_2