
Sekitar pukul sepuluh pagi, suasana nampak sangat harmonis. Disanalah Dikha kembali menemui Naima sang pujaan hati.
Pov Dikha
Kulangkahkan kaki dengan gontai menuju rumah Naima sambil mengingat kejadian dirumah sakit kala itu. Keluarga Bang Rohman sangat baik, mereka tampak menyayangi Naima dan putranya dengan tulus.
Sakit rasanya hati ini mengingat memori tersebut, hingga aku memutuskan pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu. Tak terpikir olehku entah apa anggapan keluarga Naima pada diriku yang cemen ini.
Sekarang, aku bertekad menanyakan soal hubungan kami selanjutnya pada dia. Walau aku tahu, sepertinya Ayah Naima kurang menyetujui kehadiranku. Tapi aku merasa, kalau aku harus berjuang lebih besar lagi mulai sekarang dan tepat bertepatan dengan selapanan putranya.
Untuk membuktikan ketulusanku pada Naima,
tidaklah mudah. Cinta yang sudah kusimpan sejak masih Sekolah menengah pertama semoga juga tidak berakhir kalah.
Nai, jangan pergi dariku karena itu terasa menyakitkan
Pikiran kacau dan perasaan beriringan, kaki kian terasa berat. Memikirkan respon Ayah Naima membuatku gamang.
Ayolah, Dikha. Yakinlah jika Allah bersamamu.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim...!" kuniatkan semua atas nama Allah. Tiada kekuatan kecuali pertolongannya.
Tiba diambang pintu, kuangkat tangan kananku untuk mengetuk pintu. Sedang disebelah kiriku berisi beberapa buah tangan. Semoga saja apa yang kubawa ini bisa bermanfaat untuk mereka nanti.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum...!"
"Wa'allaikumsalam...!" Ibu Naima lah yang menyambut kedatanganku. Sungguh bahagia saat melihat beliau tersenyum ramah kearahku.
"Nak Dikha, ayo masuk! silakan duduk disini!"
"Terima kasih juga, Nak. Pakek repot-repot segala. Biar Ibu buatkan teh sebentar!"
"Iya, Bu," jawabku pelan.
Kutoleh kesetiap penjuru rumah, berharap suara Naima atau pun bayinya bisa kudengar dari luar. Rindu ini sangat dalam, selama ini aku menahan diri untuk tidak menemuinya. semua itu ku lakukan agar Naima bisa beristirahat dengan nyaman.
Walau berkali-kali juga kulihat Bang Rohman sering datang dengan mobil mewahnya serta barang bawaan yang sangat banyak.
__ADS_1
Untuk ukuran materi jujur saja, mungkin keadaanku saat ini tidaklah sepadan dengannya. Biarlah, apa pun hasil akhirnya nanti. Setidaknya aku tidak lagi menyesal jika Naima tak memilih pria hina ini.
"Mas, maaf sendirian. Ayah dan Bang Gino lagi pergi." Pucuk dicinta ulam pun tiba. Rupanya Naima yang muncul dengan nampan berisi segelas teh dan kue disertai senyum manisnya.
Hati ini bergemuruh, detak jantung ku tidak beraturan. Terbayarkan sudah semua kerinduan ku setelah melihat wajahnya.
Naima menyuguhkan teh dan kue tersebut, lalu duduk di sampingku. Ia terus tersenyum, akan tetapi aku bisa membaca ada bekas genangan air yang sering terjatuh disana. Mungkin Ia masih bingung untuk menentukan pilihan hatinya hingga pikiran itu mengganggu waktunya.
Aku jadi merasa kasihan, takut jika nanti Ia malah jatuh sakit dan dedek menerima dampaknya.
"Nai...!" panggilku lirih
"Iya, Mas," jawabnya menatapku.
"Maaf, jika aku telah merusak hidupmu. Pasti kau sangat menderita, Nai," ujarku penuh penyesalan.
"Kenapa Mas Dikha bilang begitu, aku lah yang bersalah, Mas. Karena orang tua, aku jadi menggantungkan hubungan kita," kata Naima sendu, justru aku semakin dihantui perasaan bersalah.
"Nai, jika memang kamu tidak mencintai, Mas. Gak papa, berarti kita tidak berjodoh kan?" urung sudah aku memastikan hubungan ini karena pernyataanku telah mewakili.
__ADS_1