Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Aku Bukanlah.


__ADS_3

"Aku bukanlah pujangga yang pandai merangkai kata puitis untuk memujamu...aku bukanlah seniman yang mahir melukis keindahan wajahmu di atas kanvas putih....aku bukanlah pahlawan yang mampu menjaga dan melindungimu setiap waktu..aku bukanlah malaikat bersayap yang dapat membawamu terbang menuju surga....aku bukanlah matahari yang akan selalu memberimu kehangatan.....aku hanyalah seseorang yg memiliki hati untuk mencintai dan dicintai...meski tak sempurna tetapi tulus dan suci....!


Sepenggal puisi lama yang tertulis di buku harianku. Sudah beberapa waktu ini, aku seolah lupa untuk menggoreskan penaku diatas kertas putih tempat aku terbiasa mencurahkan isi hatiku.


Ya. Aku terlupa dengan beberapa hal yang biasa dulu aku lakukan. Lupa kini menjadi suatu kebiasaanku yang baru.


Bahkan hari ini aku hampir saja lupa, jika aku sudah ada janji akan pergi ke tempat Romo Paul. Dari pada nanti aku terlupa lagi maka kuputuskan untuk segera bersiap pergi.


Setelah rapikan diri, berpakaian yang sepantasnya akupun segera bergegas pergi.


Dengan sepeda butut kesayanganku, aku melaju di sepanjang jalan yang tidak terlalu ramai kendaraan.


Meski diriku sudah begitu akrab dengan Romo Paul, tetap saja aku merasa enggan jika harus bercerita tentang masalah pribadi kepada beliau itu.


Dalam perjalanan ke tempat Romo Paul aku pun mencoba untuk memutuskan pilihan apa yang harus saya berikan nanti jika Romo Paul bertanya kepada ku. Dan entah mengapa, aku malah mengingat dia yang hilang. Lalu hatiku pun mulai bersenandung dengan lirik pilu ini,


..." Mencarimu atau mengabaikanmu takkan mengubah hati yang kesepian....


...Sekalipun hati menginginkan namun takdir telah memilih untuk memisahkan....


...Dalam keheningan jiwa yang ramai dengan harapan-harapan, ada hadir bayangmu yang memberiku kekuatan untuk kehilangan....


...Tak lagi tanganku menggenggam ragamu menemani ragaku....


...Lepaskan dengan sedikit keikhlasan agar tiada penyesalan....


...Lambaikan senyum perpisahan agar hatiku menikmati kesendirian....

__ADS_1


...#relakan....


Tanpa terasa, aku sudah berada di luar biara Romo Paul. Sebelum kulangkahkan kakiku untuk masuk, ku pandangi bangunan kuno yang tersimpan banyak historical di dalamnya. Semoga saja malam ini, benar-benar malam yang baik dan terberkati.


Ku tekan tombol putih yang ada di samping pintu. Cukup jelas terdengar bunyi bel dari dalam. Selang beberapa menit seseorang membuka pintu, berpakaian biarawan, coklat panjang. Salah satu teman Romo Paul. Melihat kedatangannya, dia langsung tahu akan maksud dan tujuanku datang ke tempat ini.


" Silahkan masuk Senja. Romo Paul sudah menunggumu!


Dengan senyum ramah akupun segera masuk dan langsung menuju ke Kapela.


Disana Romo Paul sudah duduk menunggu.


Akupun mendekat dan tanpa bertatap muka aku langsung duduk disamping beliau.


" Selamat malam Romo! sapaku.


" Selamat malam putriku! balas Romo Paul.


Akupun membuang jauh pandanganku ke arah Altar.


" Maaf Romo.! jawabku mengakui tanpa bermaksud untuk mencari alasan untuk membela diri.


" Ada kegelisahan apa yang membuatmu sehingga datang mencariku? Tanya Romo Paul tanpa basa-basi.


Ku tarik napasku dengan panjang dan terdengar berat. Butuh kekuatan yang cukup besar untuk menyampaikan pergulatan bathin apa yang sedang kurasakan saat ini.


Dan pada akhirnya kata demi kata pun meluncur dengan mulus dari bibirku. Kusampaikan segala kegelisahan dan keraguan yang kupendam dalam hatiku. Tidak terlewatkan juga dosa-dosa yang sudah aku lakukan sekalipun itu tidak aku sengaja dan tidak pernah kuharapkan.

__ADS_1


Romo Paul nampak manggut-manggut mendengarkan curahan hatiku. Kemudian beliau pun mulai menyampaikan wejangannya kepadaku. Katanya,


" Hidup kita memang tidak selamanya akan berjalan sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Banyak hal yang terjadi jauh diluar ekspektasi kita. Bahkan logika kita pun terkadang sulit untuk menerimanya.!


Romo Paul menariknya napas sejenak, kebisuannnya melanjutkan wejangannya.


" Hanya sikap pasrah dan percaya kepada kehendakNya saja maka kita akan mampu menerima setiap peristiwa yang datang dalam hidup kita.


" Ketika hati kita dilanda keraguan dan kebimbangan, kita hanya perlu ketenangan bathin, berbicara kepadaNya lewat doa dan mendengarkan suara hati kita, karena disana Tuhan akan berbicara sendiri kepada kita."


Aku hanya terdiam mendengarkan dan mencoba memahami setiap kata-kata yang disampaikan oleh beliau.


" Kita hanya perlu membuka hati dan membiarkan Tuhan masuk kedalamnya. Jika kita yakin maka kita pasti menemukan jawabannya."


Aku menutup mata dan merenungkan setiap kata-kata Romo Paul yang bagiku seperti air penyejuk yang menyegarkan dan menyejukkan hati.


Dan seketika itu ketenangan memenuhi relung hatiku. Dalam keheningan bathin aku membuka hati agar sang Pemilik Kehidupan ini masuk dalam hatiku dan memberikan jawaban atas setiap kegelisahan yang kuhadapi saat ini.


" Terima kasih Romo, aku sangat bersyukur Tuhan mengutus Romo kepadaku. Setiap kali hatiku merasakan kegelisahan dan kekhawatiran Romo selalu menjadi pencerah bagi jiwaku. " ucapku dengan penuh keharuan.


" Lalu, Apakah kamu sudah menemukan jawabannya. Jawaban atas pertanyaan yang merasuki pikiranmu itu? Tanya Romo Paul kembali.


Aku mengangguk-anggukkan kepalaku lalu berkata,


" Sudah Romo. Aku sudah mengetahui pilihan apa yang harus aku pilih. Dan setiap pilihan selalu ada konsekuensinya dan aku juga sudah siap untuk itu. Karenamu akupun percaya, Tuhan tidak akan meninggalkanku dalam kelemahanku." ucapku dengan penuh keyakinan.


Romo mengangguk puas dan percaya.

__ADS_1


" Terima kasih Romo. Sepertinya aku harus pergi. Terima kasih atas waktunya yang sangat berharga. Terlebih terima kasih atas pencerahannya." ucapku dengan pedih rasa puas. Beliau mengangguk mengiyakannya. Dan akhirnya akupun beranjak dari sana dengan perasaan yang tenang, damai dan bahagia.


Akhirnya aku bisa memutuskan dengan percaya diri. Pilihan apa yang harus kupilih dan tidak akan pernah kusesali.


__ADS_2