Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Memori Yang Muncul Kembali


__ADS_3

Pagi-pagi Senja sudah terlihat jogging di sekitar kompleks perumahannya. Moment tadi malam masih membekas dalam ingatannya. Wajah tampan dan senyuman Zein masih jelas melekat di dalam pikirannya. Setelah membersihkan diri, Senja mengenakan pakaian rapi dan formal. Hari ini Senja berencana ingin pergi ke suatu tempat. Tempat favoritnya jika dia sedang merasa bahagia dan gembira.


Dalam hati Senja bersenandung. Senandung lagu cinta. Tidak lupa buku notes kecil yang menjadi tempat curahan hatinya, saat hatinya sedang merasakan sesuatu. Senang, sedih, bahagia, duka, dan seperti saat ini. Perasaan jatuh cinta. Langit nampak cerah secerah hatinya Senja. Senja berada di suatu tempat yang begitu hening dan sunyi. Hutan kecil yang berada luar pinggiran kota. Pemandangan alamnya sangat asri. Ada danau kecil di tengah hutan tersebut. Karena letaknya jauh dari pemukiman warga, lokasinya tetap terlihat bersih dan alami. Senja akan mencari spot yang nyaman baginya walau hanya untuk sekedar duduk sembari menuangkan ide pikirannya di atas kertas putih itu. Ada beberapa pondok panggung untuk tempat berteduh jika saat hujan turun. Sebenarnya tempat ini jarang dikunjungi oleh orang-orang, tetapi ada saat tertentu ramai orang berkunjung. Seperti saat ini Senja hanya seorang diri. Dan tentu saja itu adalah moment yang sangat disukainya.


Tapi langit yang cerah tiba-tiba berubah mendung. Awan putih berubah menjadi hitam. Langit begitu suram. Alam sepertinya tidak bersahabat kali ini.


Senja tidak menyangka akan turun hujan sehingga dia tidak membawa payung sebagai pelindungnya dari hujan. Hujan yang mengguyur tanpa peringatan membuat Senja harus pontang-panting untuk menghindari guyuran sang hujan.


Untungnya ada pendopo kecil yang tersedia di tempat itu. Senja berlindung dibawah atapnya. Sembari menunggu hujan reda Senja menuangkan perasaannya di dalam buku notes nya. Jari-jemarinya dengan lincah menggoreskan tinta hitam pena diatas kertas putih itu.


Teriakku pada hujan.


Hari ini benciku pada hujan pada level satu.


Dia telah merampas kebebasanku.


Merenggut tanpa kasihan kemerdekaanku.


Awal masanya aku hanya diam dan pasrah diri.


Membiarkannya menumpahkan hasrat atau juga ambisi.


Bertahan untuk menunggu dia berlalu dan pergi.

__ADS_1


Bersabar dalam dingin dan rasa yang tak pasti.


Tapi terlampau lama tak jua memuncak akhirnya.


Bahkan semakin lantang memuntahkan amarahnya.


Kulayangkan luapan rasa yang memberontak dari jiwa.


Protes tak berkesudahan untuk hasil perbuatannya.


Benciku pada hujan sampai pada level satu.


Meski teriakku ditelan oleh suara gemuruhnya.


Dan aku hanya berdiam dalam ragaku yang pasrah.


Senja menatap deru hujan yang menderu liar. Hujan kali ini sepertinya memberinya inspirasi yang tak terpikirkan olehnya. Rangkaian kata yang tertuang di buku notes nya memang mewakili perasaannya saat ini.


Dingin dan sendu. Suasana yang terasa oleh jiwa dan raga Senja. Apalagi dia hanya seorang diri. Hujan pun sepertinya tak berencana untuk berhenti segera. Karena derasnya masih menggema dengan ganasnya.


Sudah hampir 2 jam Senja menunggu dan menyendiri di tempat itu.


"Kapan hujan ini akan berhenti ya? tanyaku sendiri pada diriku yang tentu saja tidak akan mendapat jawaban.

__ADS_1


Sudah cukup lama aku berada di tempat ini. Tidak mungkin aku pulang dengan menerobos hujan yang begitu derasnya. Aku pasti akan basah kuyup. Tapi kalau aku menunggu aku tidak tahu harus sampai berapa lama aku akan berada di tempat ini.


Dan sedihnya lagi di tempat ini tidak ada sinyal sama sekali. Aku tidak bisa menghubungi siapa-siapa untuk dimintai tolong.


Dengan terpaksa dan berat hati aku hanya bisa berpasrah. Menunggu dan menunggu adalah hal yang bisa aku lakukan saat ini. Sampai-sampai aku merasa kantuk dan akhirnya tertidur.


*Mimpi.....!


Senja sedang duduk diatas ayunan. Seorang pria mendorong ayunan itu dari belakang dengan pelan. Tampak semburat kebahagiaan dari wajahnya Senja. Setelah asyik bermain ayunan mereka berdua duduk berdampingan di sebuah bangku panjang yang ada di tempat itu. Tangan keduanya saling menggenggam dengan erat dan hangat. Kemudian pria itu merangkul bahu Senja dan memeluknya dalam dekapannya.


Senja dan kekasihnya sedang menikmati suasana yang romantis berdua. Betapa bahagianya kedua insan Tuhan itu. Pria itu terlihat begitu menyayangi Senja dengan tulus dan penuh kasih. Nampak dari pancaran sinar matanya yang menenangkan. Dan begitu jelas dari cara tatapannya yang menunjukkan betapa dia begitu mencintai wanita yang ada dihadapannya saat ini.


Senja pun memiliki perasaan yang sama dengan pria tersebut. Tidak ada kepalsuan atau kepura-puraan diantara mereka. Cinta mereka begitu jujur dan tulus. Kemudian pria itu berdiri dari tempat yang mereka duduki tadi. Tanpa kata-kata, tanpa suara dan tanpa pamit, pria itu berjalan pelan-pelan. Menjauh dari Senja dan semakin menjauh. Senja yang masih duduk manis juga hanya bisa menatap pria itu melangkah seolah-olah tidak mampu untuk menahannya. Bibirnya terasa kelu untuk memanggil kekasihya itu. Bahkan pria itu melangkah tanpa menoleh sedikitpun ke pada Senja. Langkahnya lurus kedepan, berjalan dan terus berjalan. Sampai bayangannya hilang dibalik asap putih. Dan diapun menghilang. Sosoknya tak lagi nampak ditempat itu. Ketika pria itu sudah menghilang, suara Senja terdengar memanggil,


" Jangan pergiiiii......!!!! *


Dan Senja pun terbangun dari tidurnya. Nafasnya tersengal-sengal seperti seseorang yang kelelahan karena baru saja berlari-lari. Dibukanya matanya lebar-lebar. Dipandanginya sekelilingnya. Dia masih ditempatnya yang sama, sendiri tanpa ada siapapun. Dia tersadar jika dia baru saja bermimpi. Iya dia baru saja memimpikan seseorang. Dan orang tersebut adalah masa lalunya.


Jeremy Al Savio, pria blasteran Indo-Austria-Tionghoa. Sejak umur 9 tahun tinggal di Indonesia bersama orang tuanya. Bertemu dengan Senja saat bersekolah di SMA yang sama dengan Senja. Saat itu Senja yang juga murid baru yang sedikit sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Jeremy adalah pribadi yang ramah dan lembut, terharu melihat sikap malu-malu Senja yang sulit bergaul dengan teman-teman yang lain. Jeremy pun mendekati Senja dan mengajaknya berkenalan lebih dulu yang membuat Senja sedikitpun lebih nyaman dan tenang. Sejak saat itu mereka menjadi teman akrab bahkan lebih dari teman.


Rasa nyaman dan hangat membuat keduanya sama-sama bahagia dan menikmati kebersamaan mereka selama ini. Dan mereka berdua pun dijuluki "Couple of the Year" versi civitas sekolah tempat mereka bersekolah. Melihat kedekatan dan hubungan mereka yang begitu sempurna. Dan saat kelulusan sekolah Jeremy pun mengungkapkan perasaan di dalam hatinya kepada Senja. Sehingga hubungan mereka pun resmi menjadi sepasang kekasih. Meski pada awalnya ada beberapa orang yang tidak suka dan membencinya terutama membenci Senja yang dianggap tidak pantas dan tidak layak untuk seseorang seperti Jeremy. Ibarat "Beauty and the Beast" Senja adalah pemeran Beastnya. Tak jarang Senja mendapat bullyan dari orang-orang yang tidak suka kepadanya. Terutama mereka yang dari awal menaruh hati kepada Jeremy tetapi sama sekali tidak dipedulikan oleh Jeremy. Sehingga Senja yang menjadi sasaran kemarahan mereka.


Tapi Jeremy tidak pernah membiarkan mereka menindas Senja. Jeremy akan selalu muncul menjadi penyelamat untuk Senja. Tentu saja hal ini membuat Senja semakin mengagumi sosok Jeremy di dalam hatinya.

__ADS_1


Hubungan mereka terus berlanjut hingga bangku kuliah. Selama berpacaran, mereka berdua selalu bersikap normal. Mereka memang selalu menunjukkan sikap romantis layaknya pasangan, tetapi masih dalam batas sewajarnya. Jeremy yang begitu perhatian, melindungi dan selalu ada dalam setiap kesempatan, membuat Senja sangat istimewa dan begitu menyayanginya. Bahkan Senja sudah berjanji dalam hatinya tidak akan pernah menggantikan Jeremy dari dalam hatinya.


Cinta dan kasihnya hanya akan diberikannya kepada Jeremy untuk selamanya. Itulah mengapa, Senja selalu memberikan waktunya, perhatiannya dan segalanya demi Jeremy. Meski Jeremy tidak pernah meminta sesuatu hal yang aneh-aneh ataupun melakukan tindakan yang kurang baik. Itulah mengapa Senja yakin dan semakin yakin. Jeremy tidak hanya pria yang tampan, tapi hati dan kepribadiannya patut di acungi jempol.


__ADS_2