Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Sebuah Penjelasan


__ADS_3

Zein duduk bertopang dada di atas sofa di ruang tamu di rumah Senja. Wajahnya menunjukkan jika saat ini dia sedang menunggu sebuah penjelasan yang sejelas-jelasnya dari Senja tentang kejadian malam ini.


Senja yang juga duduk dihadapannya itu sedang mencoba menenangkan diri agar bisa menjelaskan dengan sebaik-baiknya agar tidak terjadi kesalahan pahaman diantara mereka.


Senja pun mulai membuka suaranya..


" Okey, Saya akan ceritakan kenapa Jeremy mengundang Saya untuk makan malam berdua dengannya di tempat itu. Dan semua yang akan Saya katakan adalah jujur bukan bohongan.! Wajah Senja begitu serius dan jujur.


Sedangkan Zein menanggapinya dengan serius tetapi juga masih dengan mimik kesal.


" Jeremy, mengajak saya untuk kembali kepadanya jika suatu saat nanti kita putus atau kamu meninggalkanku! Zein membelalakan bola matanya setelah mendengar ucapan Senja.


" Kenapa kamu menatapku seperti ingin menelan diriku bulat-bulat.! Wajah Senja pura-pura berubah ketakutan melihat reaksi Zein.


" Apa ucapan kamu itu tidak salah? ucap Zein mencari peneguhan.


" Salah apanya? Senja balik bertanya.


" Artinya dia itu berharap kalau kita berdua putus. Dan kamu sepertinya santai-santai saja deh! ujar Zein dengan semakin kesal.


" Aku kan nggk bilang apa-apa? sanggah Senja.


" Justru karena kamu tidak bilang apa-apa maka dia akan beranggapan kalau kamu juga tidak keberatan dengan ucapannya itu. Atau jangan-jangan kamu juga setuju dengan maksudnya itu ya? Zein menunjukkan ekspresi jengkel dan marah melihat reaksi Senja yang biasa-biasa saja.


" Bukan begitu loh Zein. Kamu jangan menyimpulkan segala sesuatu dengan apa yang ada dalam pikiranmu! bantah Senja.


" Lalu bagaimana Senja sayang!? Zein memegang kedua lengan Senja. Mendekatkan wajahnya dengan wajah Senja sehingga jarak diantara mereka hanyalah tersisa beberapa centi saja.


Lalu Senja membalasnya dengan menyentuh pipi Zein dengan kedua tangannya dan membelainya lembut.

__ADS_1


" Tidak pernah terbersit sedetikpun dipikiranku untuk putus atau berpisah denganmu Zein. Untuk saat ini aku sudah sangat merasa bahagia. Dan aku bahkan berharap kebahagiaan ini kalau Tuhan ijinkan tetap abadi untuk selamanya.! ungkap Senja dari hatinya yang terdalam.


Mendengar penuturan yang begitu mendalam dari Senja membuat hati Zein tersentuh dan suasana hatinya berubah menjadi bahagia. Dengan gerakan refleks ditariknya tubuh Senja ke dalam pelukannya. Dan dipeluknya erat tubuh itu. Mendekapnya dengan penuh kehangatan dan cinta yang mendalam seakan tidak ingin melepaskannya.


Senja yang mengerti dan juga merasakan apa yang dirasakan oleh pria pujaan hatinya itu membalas pelukan itu dengan kehangatan yang sama.


Cinta memang memberikan rasa yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Kadang harus diwujudkan dengan sedikit sentuhan dan belaian sebagai bentuk ekspresi yang membahagiakan.


Zein menarik kembali tubuh Senja dari pelukannya. Dipandanginya mata Senja dengan tatapan yang teduh dan mendalam. Terlihat ada bara asmara yang seakan mulai menyala disana. Rasa cinta yang besar dan membara tentu saja perlu ditunjukkan dengan sebuah aksi. Untuk membuktikan betapa sang pemilik hati sangat mencintai dan menyayangi belahan jiwanya yang diberikan oleh Sang Maha Cinta kepadanya.


Dan tanpa menunggu aba-aba bibir Zein langsung bereaksi. Dengan kecupan yang lembut dilumatnya bibir merah muda Senja. Bukan karena sekedar nafsu belaka. Tetapi sebentuk hasrat ungkapan hati.


Senja pun yang awalnya terdiam terpaku, memejamkan matanya mencoba merasakan penyatuan cinta yang sedang mereka alami saat ini.


Zein pun kembali menunjukkan hasrat cintanya, mencium Zein dengan rasa cinta yang tulus dan suci. Meleburkan segala rasa yang tersimpan dalam hatinya dan mengungkapkannya lewat sentuhan bibir yang lembut, manis dan mendalam.


Kemudian Zein membisikkan sesuatu di telinga Senja. Bisikkan mesra dan lembut.


" Aku mencintai kamu sayang, dan aku tidak ingin kehilangan kamu. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari hidupku!


Mendengar kata-kata itu Senja tersenyum bahagia. Ya tentu saja dia merasa bahagia. Wanita mana yang tidak bahagia jika diperlakukan dengan begitu romantisnya.?


Disaat Senja dan Zein sedang bermesraan, Jeremy sedang meratapi kesendiriannya.


Mungkin ini adalah hukuman terberat dalam hidupnya karena telah meninggalkan Senja dulu. Dulu dia sempat berpikir jika wanita seperti Senja bukanlah wanita yang akan mudah untuk jatuh cinta dengan orang lain. Senja adalah wanita yang akan selalu setia menunggu dengan pasrah. Dia tidak peduli akan sakit hati dan kesepian yang dialami oleh Senja karena perbuatannya yang menghilang tiba-tiba.


Dulu dia tidak begitu peduli perasaaan seperti apa yang akan dialami oleh seorang Senja yang seakan tidak dianggap sama sekali. Jeremy hanya merasa bahwa dirinya adalah seseorang yang begitu berharga untuk seorang Senja sehingga tidak akan dikhianati bahkan pasti akan ditunggu sampai kapanpun.


Jeremy tidak tahu bahwa setiap manusia suatu saat juga pasti akan berubah. Tidak hanya penampilan fisik semata bahkan terkadang hati, sifat dan karakter seseorang bisa berubah seiring waktu berjalan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dijumpainya.

__ADS_1


Karena tak ada satupun yang ada dibawah matahari itu abadi.!


Lalu ketika semuanya berlalu tidak sesuai dengan yang kita harapkan, maka yang ada hanyalah sebuah penyesalan. Kenangan demi kenangan tinggal hanya kenangan. Ingin mengulang kembali ke masa lalu tentu tak lagi sama bahkan tidak akan mungkin terjadi lagi. Ketika yang kita harapkan sudah menjadi milik orang lain.


Dan tidak mungkin dipaksakan karena pastinya akan ada yang terluka. Bahkan mungkin akan lebih terluka dari sebelumnya.


Maka jalan satu-satunya adalah menerima dengan rela dan ikhlas. Jika berkenan maka ikut mendoakan yang terbaik untuk mereka yang kita cintai ajar dia berbahagia dengan pilihan hidupnya saat ini.


Jeremy mencoba menelaah semua kejadian yang dialaminya. Merenungkannya dalam hati dan menemukan titik pencerahan yang mungkin bisa memberinya rasa lega dan pasrah.


Setelah merasa tenang dan yakin, Jeremy nampak tersenyum.


Mungkin saat ini yang terbaik baginya adalah menerima kekalahan. Mengikhlaskan hati yang tidak bisa diraihnya kembali. Mencoba berlapang dada agar hatinya maupun hati Senja sama-sama merasakan kebahagiaan.


Tidak perlu ada lagi yang terluka karena terpaksa ataupun tak terima.


Akhirnya Jeremy bisa tersenyum. Tersenyum dengan tulus dan bahagia.


Yaah, jadi sekarang dari pada makanan yang ada dihadapannya ini menjadi mubazir dan itu sangat tidak baik. Karena masih banyak orang di luar sana yang mati karena kelaparan, Jeremy pun memanggil seorang pelayan untuk membungkuskan semua makanan yang sudah terhidang di meja itu.


Jeremy berniat akan memberikan makanan itu untuk pemulung yang ada disekitar jalan yang biasa dia lalui. Setidaknya hari ini dia ingin berbuat baik. Jika cinta yang satu harus hilang maka masih banyak cinta-cinta yang lain yang membutuhkan perhatian darinya.


Setelah pelayan selesai membungkus semua hidangan yang ada diatas meja, dia segera beranjak ke kasir dan membayarkannya lalu beranjak dari sana.


Meski beberapa pelayan yang menyaksikan peristiwa yang terjadi di tempat itu menatapnya dengan tatapan haru karena merasa sedih melihat cintanya yang pergi begitu saja dengan pria lain. Atau juga tatapan pelayan lain yang berpikir Dan merasa jika Jeremy adalah pria pelit yang bahkan sisa makanan kencan yang sudah batal pun harus dibungkus karena tidak mau rugi.


Tapi Jeremy tidak peduli dan tidak mau tahu anggapan orang-orang terhadap dirinya. Karena yang paling tahu dan paling mengerti siapa diri kita hanyalah diri kita sendiri. Bukan orang lain. Orang lain bisa menilai tetapi bukan mereka yang menentukan siapa dan bagaimana diri kita.


Dengan senyum yang ramah dan percaya diri Jeremy meninggalkan restaurant itu. Memberikan senyuman termanisnya kepada beberapa pelayan yang ada disana seolah-olah tidak pernah terjadi apapun di tempat itu. Dan para pelayan itu pun membalasnya dengan senyuman. Ada senyuman yang benar-benar respect adapun senyuman kasihan. Tapi kaki itu tetap melangkah dengan gagah dan tegap.

__ADS_1


__ADS_2