Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Malam Terindah


__ADS_3

Soreku Bernama Senja.


Gerimis tua membawa petuah berwarna jingga.


Lentik gemulai liukan pawana


mengajak bocah-bocah petualang menari ria.


Wanita-wanita perkasa memecah hening dengan nyanyian sumbang memerintah para penerus leluhur mengakhiri petualangan.


Masa berganti bersama kehendak semesta tak ada yang berkuasa atas waktunya.


Sejak diawali sejuk bulir embun pagi disusul hangat bias sinar mentari dan diakhiri semarak jingga sore hari.


Satu masa akan berlalu hari pun ikut beradu sebuah kenangan tersimpan dalam memori.


Dan suatu masa yang selalu ku rindu merayu impian di kala sore yang gagah namun lembut.


*S**oreku* bernama senja.


Senja sedang merias diri. Malam ini Zein mengajaknya untuk makan malam berdua. Hanya saja Senja bingung harus memakai pakaian seperti apa.


" Aku pakai apa ya malam ini? Aku sedang menimbang-nimbang kira-kira pakaian apa yang cocok. Ya setidaknya Zein mempunyai kesan yang baik tentangku. Ternyata ada gunanya juga ya memberi sedikit perhatian tentang fashion. Jadi aku tidak perlu kebingungan seperti saat ini.


Ahh... keputusan terakhir, Aku akhirnya memutuskan memakai sheath dress berwarna putih krem. Kaca mata digantikan oleh contact lens. Rambut aku biarkan tergerai dan rias wajah dengan make up natural.

__ADS_1


Karena jujur aku tidak mahir menggunakan peralatan make up. Aku tidak terbiasa dengan benda-benda itu. Ku lirik jam di pergelangan kiriku. Kira-kira 7 menit lagi dia akan datang. Yang penting aku sudah berdandan dengan lebih baik dari biasanya.


"ning.. nong.. ning... nong...!!


Sepertinya dia sudah datang. Aku mematut sejenak di depan cermin sebelum aku pergi membuka pintu untuknya.


Karena sudah merasa percaya diri, Aku pun segera membukakannya pintu. Jangan sampai dia menunggu terlalu lama.


Sekali hembusan nafas, lalu tanganku meraih gagang pintu dan membukakan pintu untuknya.


Dan, mata kami saling beradu. Dia memang mahluk Tuhan yang paling sempurna yang pernah aku lihat seumur hidupku. Entah kebaikan apa yang telah kulakukan di masa lalu sehingga aku mendapatkan berkah ini.


Aku sendiri tidak tahu bagaimana pendapatnya tentang penampilanku malam ini karena dilihat dari reaksinya standard atau biasa-biasa saja.


Ya tentu saja biasa-biasa baginya, karena dalam hidupnya sudah puas melihat gadis-gadis yang lebih cantik dan lebih mempesona dibanding diriku.


Tanpa basa basi Zein langsung mengajak aku untuk segera masuk mobil. Aku mengikuti langkah Zein dari belakang. Zein membuka pintu untukku dan mempersilahkan diriku masuk terlebih dahulu. Sejujurnya jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya.


Deg....deg....seeerrr.


Antara grogi, gugup, malu, senang, takut, bahagia, tidak percaya diri, bercampur aduk menjadi satu. Setelah sekian lama baru untuk pertama kalinya lagi aku akan menikmati makan malam berdua dengan seseorang yang cukup istimewa. Bukan karena dia adalah calon suamiku, tetapi karena dia adalah seorang sosok yang benar-benar memberikan suatu warna baru dalam kehidupanku.


Saat memasuki hotel, hatiku semakin tidak karuan. Suasana di hotel ini begitu mewah. Zein menggenggam tanganku dan berjalan disampingku dengan mesranya. Genggamannya memberiku kenyamanan dan rasa percaya diriku mulai bertumbuh kembali.


Zein membawaku ke lantai atas dengan menaiki lift. Lift berhenti di lantai atas, ketika pintu lift terbuka Zein melangkah keluar dan tanganku tidak lepas dari genggamannya. Zein menuntunku ke sebuah ruangan restaurant bergaya klasik, tampak elegant dan berkelas. Jendela-jendela kaca yang mengelilingi restaurant itu membuat suasana kota terlihat jelas dari dalam. Dan menjadi lebih romantis lagi seiring semburat oranye terlukis di garis khatulistiwa.

__ADS_1


Mungkin ini adalah pengalaman yang paling mengesankan seumur hidupku. Tak pernah terbayangkan olehku jika suatu saat aku berada di tempat ini. Terlihat sedikit kampungan, tapi inilah faktanya. Aku tidak akan menyangkal betapa kampungannya diriku untuk saat ini.


Di tempat ini hanya ada kami berdua. Sudah pasti Zein telah membooking seluruh ruangan ini karena tidak ada seorang pengunjung yang lain. Entah berapa duit yang harus dikeluarkannya hanya untuk makan malam berdua ini. Dan untuk saat ini suasana hatiku sulit untuk dijelaskan. Tapi yang pastinya aku sangat nervous dan grogi.


Yang terlintas di dalam benakku saat ini adalah semoga makan malam ini cepat berlalu atau aku akan selalu diam mematung karena tidak sanggup untuk berkata-kata.


"Ahhh.......resahku dalam hatiku.


Ingin rasanya aku segera meninggalkan tempat ini dan segera pulang menjemput Mateo, menghabiskan waktu bersamanya dan setelah itu mencurahkan abjad-abjad yang berkeliaran di dalam kepalaku saat ini merangkainya menjadi kata demi kata kalimat demi kalimat.


Dalam hati aku menebak jika Zein pasti bisa melihat dan mengerti gerak-gerikku yang sedikit tidak tenang dan gelisah ini. Karena aku perhatikan dia selalu berusaha untuk tersenyum kepadaku seakan mencoba untuk menenangkan hatiku.


" Kamu jangan canggung begitu, kita kan sudah resmi pacaran, santai saja dan buat dirimu merasa nyaman." ucap Zein menenangkan diriku.


Mengatakannya memang mudah tapi sulit untuk melakukannya. Memang bukan ini bukanlah kali pertama diriku menaruh hati kepada seorang pria. Bertahun-tahun yang lalu aku juga pernah merasakan jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang telah memberiku kenyamanan dan kehangatan.


Pria itu yang telah mengajariku apa artinya mencintai dengan tulus. Mengajariku untuk mencintai diriku sendiri agar aku juga bisa mencintai orang lain.


Dan disaat diriku terlanjur mencintainya begitu dalam, ingin menghabiskan seluruh hari hidupku bersamanya tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kata, tanpa pesan, tanpa berita. Sehingga aku hampir tidak lagi ingin jatuh cinta. Tidak ingin lagi membuka hati terlalu dalam kepada sosok yang disebut dengan sebutan pria.


Tapi siapa sangka jika saat ini aku malah sedang jatuh cinta lagi dengan pria yang juga mampu memberiku rasa nyaman dan hangat. Meski dalam hatiku masih tersisa sedikit rasa takut dan ragu jika seandainya akan terulang lagi kisah yang sama. Kisah yang tidak ingin aku jalani lagi untuk seumur hidupku.


Tapi, semuanya adalah rencana Tuhan. Semua yang terjadi adalah kehendakNya.


Malam ini aku hanya banyak terdiam. Jika Zein bertanya aku hanya menjawab sekedarnya saja. Sambil menikmati hidangan lezat yang terhidang di depan kami. Setidaknya aku bisa fokus menyantap hidangan ini.

__ADS_1


Dan aku tahu jika senyuman Zein tak lepas dari bibirnya. Dia mungkin merasa geli melihat sikapku yang canggung, kaku dan grogi.


Aahhhh...... yang penting nikmati hidangan lezat ini dululah.! Kan jarang-jarang bisa menikmatinya. Hiburku sendiri dalam hatiku.


__ADS_2