Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Menepis Rindu Untuk Dia yang Jauh


__ADS_3

Angin malam yang kunikmati malam tadi ternyata menyisakan sedikit lelah di tubuhku. Ragaku rasanya berat sekali untuk bangkit dari peraduan ini. Dan mimpi tadi malam juga menambah berat raga ini.


Rasanya bagaikan sedang memikul beban yang sangat berat sekali. Padahal aku harus berangkat Bertha hari ini. Sudah kuputuskan untuk masuk kerja, meski proyek untuk Minggu ini sudah ditangani oleh rekan kerja yang lain. Tapi aku tidak ingin berdiam diri di kamar ini tanpa melakukan apa-apa. Aku yang telah terbiasa sibuk, dan tiba-tiba harus bersantai membuat tubuhku menjadi tidak bergairah.


Aku pun menghubungi boss di kantor dan memberitahukan jika aku akan masuk kerja. Meski tidak kelapangan tapi aku akan tetap bekerja dari kantor.


Seperti biasa menaiki kendaraan umum favoritku, Bus trans yang setia menghantarku. Syukurnya halte bus ini berada tidak jauh dari kantor tempat bekerja. Sehingga aku sangat menikmatinya.


Pagi-pagi sekali, penumpang masih belum ramai dan kendaraan juga masih sepi. Pemandangan di jalan raya pun terlihat lebih indah dan nyaman. Udara masih segar.


Hanya butuh waktu 15 menit aku sampai di kantor. Tidak perlu terburu-buru dan bisa menikmati pagi dengan lebih santai.


Rekan-rekan di kantor juga mulai berdatangan. Ada sebagian yang langsung turun ke lapangan. Sedangkan yang bertugas di kantor sudah stand by di tempat masing-masing.


Akupun sudah duduk manis di tempat dudukku, menatap layar komputer dan mulai membuat desain baru sebagai contoh desain baru nantinya. Saat sedang asyik menciptakan desain yang baru, Vania salah seorang rekan kerjaku muncul dihadapanku. Dia menyerahkan sebuah amplop undangan putih kepadaku. Disana tertulis sebuah nama dan itu adalah namaku.Nn. Senja Aurora.


"Ini undangan apaan.? tanyaku penasaran


"Baca dong! jawabnya cuek.


Ku buka amplop itu dan membaca undangan yang ada didalamnya. Undangan makan siang dari Tuan Muda Sagara Group Entertainment Corporate.


Akupun terlihat bingung membaca undangan ini. Aku pandangi Vania dengan penuh tanda tanya. Vania yang juga sama sekali tidak tahu hanya bisa angkat bahu dan berkata " I don't know and I don't understand. "

__ADS_1


Lalu Vania segera menghilang dari hadapanku.


Lalui aku perhatikan ada nomor handphone yang tertulis disudut kertas undangan. Dengan segera ku ambil ponselku dan langsung menghubungi nomor tersebut.


08126131xxxx. Nomor itu tersambung yang artinya nomor itu aktif. Tiga kali bunyi dan akhirnya dijawab oleh seseorang.


" Halo, selamat pagi! sapaku.


" halo," jawab dari seberang.


" Ini dengan siapa ya? tanyaku dengan rasa ingin tahu.


" Ini dengan siapa ya? Orang tersebut balik bertanya.


" Ya benar. Ini dari Sagara Group Entertainment Corporate." jawab dari seberang.


" Kalau boleh tahu, kenapa ya saya dikirim undangan ini?


" Oh, begini Nona Aurora, pemimpin kami mengirim undangan itu karena ingin bertemu langsung dengan nona Aurora dan membicarakan sebuah proyek kerja sama. Kami sudah menghubungi boss dikantor anda dan telah menyetujuinya." jawabnya kemudian. Dan akupun mengerti.


" Oke, baiklah. Semoga saya bisa memenuhi undangan anda. Selamat siang. Terima kasih." ucapku kemudian memutuskan pembicaraan tanpa menunggu jawaban dari mereka.


Aku pun berpikir-pikir lagi, apakah harus datang memenuhi undangan makan siang ini atau aku abaikan saja? Tapi si boss pasti akan marah dan mengomel panjang lebar. Terpaksa dan dengan sangat terpaksa aku harus datang. Mau apalagi mungkin ini sebuah proyek baru yang akan aku tangani. Bukankah aku juga ingin menyibukkan diri lagi dari pada tidak melakukan apa-apa sama sekali.

__ADS_1


Aku pun kembali sibuk dengan pekerjaanku, sambil menunggu waktu sampai tiba untuk memenuhi undangan makan siang dari orang yang belum pernah kutemui ini. Mudah-mudahan bukan orang yang banyak permintaan atau terlalu ribet. Meski bukan yang pertama bagiku untuk menghadapi orang-orang yang rewel dan banyak permintaan. Sudah hal yang biasa dan sangat terbiasa malah. Jadi aku sudah tahu bagaimana caranya untuk menghadapi orang-orang seperti mereka.


Meski ini adalah undangan resmi dan formal, aku tidak perlu pusing harus memikirkan pakaian apa yang harus kukenakan. Sudah menjadi kebiasaanku memakai pakaian yang kuanggap nyaman dan masih terlihat sopan. Yang penting tidak memalukan.


Setelah pekerjaanku selesai, dan jam juga sudah menunjukkan waktunya bagiku untuk bergegas. Kubereskan meja kerjaku dan kurapikan barang-barang yang ada diatasnya.


Ku ambil tas punggung kecilku dan segera pergi ketempat yang tertera dalam undangan tersebut. Sebuah restaurant yang cukup mahal, yang mungkin hanya dikunjungi oleh mereka-mereka yang punya duit berlebih. Para klien memang sering mengundangku ke tempat-tempat mahal seperti ini tapi tetap saja tempat seperti ini tidak cocok untuk diriku.


Taksi yang kupesan sudah menunggu didepan. Aku pun segera masuk dan taksi meluncur ketempat yang telah tertera di aplikasi si sopir taksi.


Tidak sampai 30 menit taksi tiba ditempat tujuan. Setelah membayar ongkos sesuai dengan argo, akupun turun dari taksi dan memasuki kawasan restaurant tersebut. Tampak dari luar begitu mewah dan elite.


Akupun sedikit ragu dan akhirnya dengan percaya diri yang tinggi akupun memberanikan diri dan masuk ke restaurant tersebut.


Nampak penjaga di pintu restaurant dengan sopan dan hormat mempersilahkan aku untuk masuk. Penyambutan yang sangat ramah dan berkelas. Akupun memperlihatkan amplop undangan, lalu aku dihantarnya ke tempat dimana aku harus pergi. Sampai didepan sebuah pintu besar, pegawai tersebut membuka pintunya dan mempersilahkan diriku untuk masuk keruangan tersebut. Aku lagi melangkah masuk. Pintu kembali ditutup. Tempat itu terlihat sepi. Nampak meja bundar dengan makanan lengkap diatasnya. Dan hanya ada 2 kursi kosong disana. Yang artinya yang akan makan ditempat ini hanyalah untuk dua orang saja.


Akupun melangkah mendekati meja tersebut dan mataku tertuju kepada seseorang yang sedang berdiri di depan jendela kaca melihat keluar. Seorang pria dengan memakai jas hitam lengkap. Tubuhnya tinggi dan tegap. Bahkan kelihatannya berotot. Gaya berdirinya seperti seorang model profesional. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku karena dia masih terlihat serius memandang ke luar jendela. Akupun bingung sendiri harus berbuat apa. Ingin langsung duduk nanti dianggap tidak sopan karena tuan rumahnya saja belum mempersilahkan untuk duduk. Tapi kalau aku hanya diam dan berdiri saja, sampai kapan kami akan seperti orang asing yang saling mengabaikan seperti ini. Dan akhirnya aku memberanikan diri. Dengan seluruh kepercayaan diri yang ada dalam diriku aku pun menyapa pria tersebut terlebih dahulu.


" Selamat siang Pak, saya sudah datang.!


( Ah, kata-kata yang konyol) ucapku dalam bathinku.


Mendengar suaraku sosok tersebut mengalihkan pandangannya kearahku. Dan sungguh, sebagai seorang wanita normal aku tidak akan membohongi hati dan pikiranku. Pria yang ada dihadapanku ini sungguh tampan sekali. Aku hampir saja membeku dibuatnya. Wajahnya begitu sempurna. Mengingatkan diriku dengan aktor China idolaku. Yang Yang.

__ADS_1


__ADS_2