Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Bukan Mendua Hati


__ADS_3

..."Inginku bercerita pada bintang-bintang,...


...tapi hujan menyembunyikannya tanpa rasa....


...Sehingga dalam kesendirianku,...


...kurangkul rindu yang tak pernah terobati....


...Peluk hangatnya hanya dalam mimpi,...


...dan berharap esok waktu takkan terganti....


...Selamat malam untukmu yang merindu."...


Jeremy berdiang di perapian buatan yang ada di apartemennya. Raganya merasa cuaca kali ini begitu dingin. Tidak hanya raga, tapi sepertinya hatinya juga mendingin apalagi setelah melihat kebersamaan Senja dengan Zein. Dia membayangkan seandainya dulu dia tidak pernah pergi meninggalkan Senja mungkin saat ini orang yang berada disamping Senja adalah dirinya. Bukan orang lain.


Akan tetapi jika hanya dengan berandai-andai tidak akan merubah apa yang sudah terjadi. Takkan pernah mungkin namun bukankah masih bisa untuk diperbaiki di masa depan.?


Mungkin tidak semudah yang dibayangkan. Bagaimanapun situasi sudah berubah. Bahkan Senja pun bisa berubah. Bukan sifatnya yang baik dan hatinya yang lembut. Tetapi perasaannya yang telah berubah. Waktu dan keadaan ternyata mampu mengubah seseorang.


Ataukah mungkin dia harus menyerah saja? Merelakan cintanya menjadi milik orang lain?


Mungkin memang seharusnya demikian. Yeah, terkadang cinta semakin dikejar semakin menjauh. Tapi ketika hati belajar untuk mengikhlaskannya malah dia datang mendekat.


Jeremy memeriksa telvon genggamnya. Dia hendak menghubungi seseorang. Dia bermaksud menghubungi Senja dan memintanya untuk bertemu dengannya. Ada hal yang ingin dibicarakannya.


Jeremy pun mengirimkan pesan singkat ke nomor Senja. Dia berharap Senja segera membalasnya dan menyetujui permintaannya itu. Tak peduli jika Zein akan marah ataupun kesal. Lagi pula dia bukan orang asing bagi Senja. Dirinya adalah seseorang yang pernah dicintai dan mencintai Senja. Pernah menjadi bagian dari hatinya. Bahkan mereka memilikinya kenangan yang indah saat bersama.


Setelah pesan terkirim, Jeremy langsung beranjak. Perlu baginya mempersiapkan diri. Memilih pakaian mana yang cocok untuk dipakainya malam ini. Setidaknya penampilannya bisa memberi kesan yang istimewa bagi Senja.


Langit berwarna jingga keemasaan. Matahari mulai beranjak menuju ke peraduannya. Sebelum kegelapan meliputi alam semesta, tak lupa dia meninggalkan jejak indah di senja yang cerah.


..."Senja mulai menyapa, alam pun merasuk hening dan semesta menggandeng sepi....

__ADS_1


...Pawana berbisik dingin, sejuk dan menggigil membelai bulu roma....


...Bercengkrama bersama candra dan kirana, angkasa biru menjadi saksi, alam raya bersenandung riuh bernada rindu akan kedamaian....


...Selamat Senja dunia."...


Senja memeriksa telvonnya setelah terdengar bunyi notifikasi dari handphonenya. Terlihat di layar "Pesan Masuk : Jeremy ".


Senja langsung membacanya.


" Boleh kah kita bertemu malam ini, di restaurant "La Amor".? Ada hal yang ingin aku bicarakan. Kalau kamu bersedia aku tunggu kamu jam 7 malam.! Bunyi pesan tersebut.


Senja pun langsung membalasnya.


" Baiklah. Aku akan datang, 😊.!


Senja juga mempersiapkan dirinya, memilih pakaian apa yang cocok untuknya. Pertemuan ini memang tidak termasuk kencan. Tapi setidaknya harus tampil sempurna.


Pukul 06.30 pm, Senja keluar dari rumahnya. Taksi online sedang on the way. Ketika Senja sedang membuka pintu pagar rumahnya, dari kejauhan ada sepasang mata dari dalam sebuah mobil sedang memperhatikannya. Zein.


Dia baru saja pulang dari kantornya. Dan bermaksud untuk singgah di rumah Senja. Baru saja dia parkirkan mobilnya tidak jauh dari rumah Senja dilihatnya Senja dengan pakaian yang menurutnya berbeda dari biasanya keluar dari rumahnya. Zein menahan dirinya untuk tidak keluar dari mobil. Senja pun tidak memperhatikan jika ada mobilnya Zein sedang parkir di tempat itu.


Tak berapa lama kemudian Senja pun naik mobil taksi yang sudah datang menjemputnya. Zein bergegas menghidupkan mesin mobilnya dan segera mengikuti Senja dari belakang. Dia penasaran kemana gerangan Senja akan pergi malam ini dengan pakaian yang indah yang menempel di tubuhnya. Karena Senja sama sekali tidak memberitahukannya jikalau dia akan keluar malam ini.


Zein semakin curiga ketika taksi yang membawa Senja memasuki parkiran sebuah restaurant. Curiga karena Zein tahu jika restaurant tersebut biasanya dikunjungi oleh pasangan-pasangan kekasih untuk candlelight dinner.


Taksi berhenti di depan restaurant. Senja turun dan langsung masuk ke dalam restaurant. Zein mencari parkiran yang cukup aman. Dengan segala dia berlari masuk ke restaurant agar tidak kehilangan jejak Senja. Senja berjalan menuju sebuah ruangan yang biasanya hanya ditempati oleh tamu khusus atau VIP, karena harus di reservasi terlebih dahulu. Karena ruangan itu adalah ruangan terbatas biasanya dipesan oleh mereka yang ingin menikmati candlelight hanya bersama dengan pasangan mereka sendiri. Tidak ada pelanggan lain. Ruangan itu dipisahkan oleh sekat-sekat kayu jati dengan ukiran-ukiran menarik. Dekorasinya dibuat sedemikian rupa sehingga memberi kesan romantis bagi para pasangan yang datang ke tempat itu.


Ketika Zein melihat Senja masuk ruangan itu, kecurigaannya semakin bertambah besar.


" Dengan siapa Senja bertemu malam ini?


Dan terkejutnya Zein ketika melihat Jeremy menyambut Senja. Dengan wajah bahagia dan berbunga-bunga Jeremy terlihat senang melihat kedatangan Senja.

__ADS_1


" Ada apa gerangan? Kenapa Senja diam-diam bertemu dengan Jeremy. Tidak memberitahukan Zein sama sekali!?


Ingin rasanya Zein masuk dan meminta pertanggungjawaban dari keduanya.


Tapi Zein mencoba untuk tetap menahan diri. Menunggu sejenak. Zein pun memilih untuk duduk di salah satu ruangan di tempat itu.


Meski keadaan hatinya saat ini sedang bercampur aduk, Zein berusaha untuk tetap sabar dan menahan diri. Yang biasanya Zein tidak suka menunggu, tidak sabaran dan selalu tergesa-gesa dalam bertindak kini malah duduk dengan tenang dan santainya meski hatinya sangat bergejolak.


Senja dan Jeremy


Melihat kedatangan Senja, Jeremy merasa bahagia sekali. Senja memang tidak bisa menolak jika ada yang meminta sesuatu darinya. Hatinya yang lembut tidak tega jika harus menolak permintaan orang lain. Apalagi yang memintanya adalah seseorang yang pernah istimewa di hatinya


Di ruangan tempat Senja bersama dengan Jeremy yang sedang menikmati hidangan yang tersaji dihadapan mereka, mereka berdua nampak menikmatinya.


Zein mulai tak tenang. Sepertinya menunggu mereka berdua hingga selesai bukanlah tindakan yang tepat. Zein bangkit dari tempat duduknya. Diayunkannya langkah kakinya menuju tempat yang sejak tadi diawasinya.


Dan tanpa kata permisi, Zein langsung membuka pintu dan masuk. Senja dan Jeremiah yang sedang berbicara serius tiba-tiba terkejut melihat kedatangan Zein.


Wajah Zein terlihat berwarna merah karena menahan amarah yang meluap-luap. Apalagi melihat kekasihya sedang duduk berdua dengan laki-laki lain menghabiskan malam.


Senja segera berdiri dan sudah pasti dirinya terkejut melihat Zein yang muncul tiba-tiba.


Senja langsung bergegas mendapatkan Zein. Walau bagaimanapun, dia tahu jika pria itu saat ini sedang emosi dan hatinya dipenuhi amarah.


Dan Senja langsung mengerti apa yang harus dilakukannya. Diraihnya lengannya Zein, tanpa berbicara satu kata pun dibawanya Zein keluar dari ruangan itu.


Yang penting saat ini adalah menenangkan hati Zein. Dan setelah itu baru akan memberi tahu dia apa yang sebenarnya terjadi disana?


Untung saja Senja bisa memahami Zein sehingga bisa mengendalikan situasi.


Jeremy yang ditinggalkan seorang diri di ruangan itu hanya bisa terdiam. Tidak tahu harus berbuat apa. Hanya untung saja dia sebelumnya sudah berbicara dengan Senja mengenai risalah dalam hatinya.


Makan malam yang seharusnya diimpikan oleh Jeremy bersama Senja tidak lagi mampu untuk dinikmatinya.

__ADS_1


__ADS_2