
Senja sedang menghabiskan waktu sore ini di Taman Bunga di tengah kota. Zein sendiri masih sibuk di kantornya. Banyak tender yang harus dibereskannya. Bahkan beberapa proyek besar yang sudah ditangani oleh perusahaannya masih perlu pengawasan ketat mengingat banyaknya tangan-tangan jahil yang mencoba untuk mengganggu dan menyabotase proyeknya.
Sore ini, Taman Bunga cukup ramai pengunjung. Dan kebanyakan dari mereka adalah pasangan muda yang mengisi waktu untuk berkencan.
Melihat pasangan muda ini membuat hati Senja sedikit cemburu.
Senja Aurora
" Bahagianya pasangan muda jaman sekarang. Mereka tak lagi merasa malu atau tabu menunjukkan kemesraan di tengah publik. Menunjukkan cinta kepada pasangan bukanlah hal yang memalukan. Asalkan masih dalam batasan-batasan norma kesopanan yang berlaku dalam masyarakat.
Sembari menikmati langit sore dihiasi lampu Taman yang berwarna-warni, Senja melukiskan perasaan hatinya dalam buku puisinya.
...Cerita Kita...
......Matahari pernah bercerita ......
tentang hati yang pernah mencinta.
...tentang rasa yang terselip diantara kata....
......Kita menabur rasa dalam taman hati yang terkadang gersang tapi pernah juga bersemi. ......
...Ada kalanya kita ingin menyepi, bersembunyi dari riuhnya pesona cinta....
...Dan ketika rindu menyelinap diam-diam,...
...Kita mengeluh kelu beradu ingin bertemu....
...Saat satu cinta memberi bahagia,...
...lalu hati tergoda bahagia yang lain,...
...tak hanya mendapat bahagia...
...kita jadi kehilangannya....
...Kau, Dia dan Aku...
...pernah dalam satu frame cinta....
...Dengan warna, rasa dan ukuran...
...berbeda....
...Memuji yang satu,...
...memuja yang lain,...
...Merindu yang satu,...
...Mendamba yang lain....
...Bilakah hati kita menerima,...
__ADS_1
...Tanpa meminta lebih,...
...Tanpa menuntut....
...Hanya menerima dengan ikhlas,...
...bersyukur pada apa yang telah ada....
...Memberi tanpa harap balasan....
...Kita dua, dua hati, dua raga...
...Berjanji dalam satu cinta...
...Menyatu dalam satu rasa....
...Semoga cerita kita,...
...Tak hanya jadi kisah romansa belaka....
...Tetapi jadi cerita cinta abadi...
...yang memberi inspirasi bagi para pecinta....
Senja menutup buku puisinya. Diedarkannya pandangannya menyapu setiap sudut di Taman Bunga itu. Semakin larut semakin ramai. Lampu taman semakin meriah.
Senja melirik arloji di pergelangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan waktunya Zein pulang dari kantor. Maka Senja memutuskan kembali ke rumah. Senja berjalan menyusuri sepanjang jalan ibu kota. Dipayungi kerlap-kerlip lampu jalanan. Malam yang indah. Hanya saja, langit malam tiada bintang yang dapat kau lihat disana.
Saat fokus pada jalanan yang dilaluinya, Senja tidak memperhatikan orang-orang yang lalu lalang disana. Hingga tanpa sengaja bahunya menubruk tubuh seseorang yang berpapasan dengannya.
Senja berbalik bermaksud ingin melihat siapa gerangan yang ditabraknya itu. Sosok itu juga berbalik ingin melihat siapa yang telah bertabrakan dengannya. Dan siapa mengira jika orang itu adalah gadis yang ditemui Senja di bukit Kasih hari itu. Ketika dilihatnya wajah Senja, wajahnya terlihat gugup dan takut. Senja tak kalah terkejutnya ketika dia melihatnya.
Anneth Priscilla Lim
Dengan segera gadis itu berbalik melangkahkan kakinya dengan cepat dan semakin kencang. Akhirnya dia berlari. Senja yang hanya bisa mematung , terpaku begitu saja sambil melihat gadis itu hilang dari pandangannya.
Senja tidak mengenal siapa gadis itu. Tapi kenapa dia malah mencelakai dirinya bahkan hampir saja menghilangkannya nyawanya.
Setelah tersadar jika si gadis sudah lenyap dari hadapannya Senja menyesali kebodohannya.
" Aiiihhh.. bodohnya aku. Kenapa aku tidak mengejar perempuan tadi?
Sambil merutuki kebodohannya, Senja melangkahkan kakinya kembali. Sudah lewat waktu Zein pulang kantor. Dia pasti sudah di rumah. Dan melihat Senja tidak ada dia rumah jangan heran jika dia akan sangat gelisah dan cemas. Sedangkan Senja tidak membawa ponselnya juga.
Harus siapkan hati dan bathin kena omelan dan ceramah dari Zein. Dan mau tidak mau Senja harus menerima hukuman dari Zein. Entah apapun hukumannya, Senja tidak akan bisa membantahnya apalagi melawannya.
Senja pun pulang dengan pasrah. Mengumpulkan keberanian untuk menghadapi amarah Zein untuk pertama kalinya.
Senja berdiri sejenak di depan pintu sebelum tangannya benar-benar membuka pintu dan masuk ke dalam.
Namun belum saja Senja membukakan pintu, pintu itu telah terbuka lebih dahulu. Dan Zein sendiri disana dengan tampang yang sulit untuk ditebak. Apakah dia sedang marah atau biasa saja. Senja langsung memasang wajah tersenyum berharap Zein luluh melihat senyuman manisnya itu.
Zein Arkarna Hanggono
__ADS_1
Sejurus kemudian, Zein langsung menarik tubuh Senja dan memeluknya erat.
" Senja sayang, kenapa kamu keluar tidak memberitahu aku. Terus ponsel kamu juga tidak kamu bawa, malah ditinggal di rumah. Kalau terjadi apa-apa bagaimana bisa aku tahu, Hahh!! ucap Zein tanpa melepaskan pelukannya. Ada kecemasan disana.
Senja pun tersenyum bahagia. Dirangkulnya kembali Zein dengan erat dan hangat.
" Maaf sayang, aku tadi lupa bawa ponselnya. Jadi tidak bisa ngabarin kamu. Lagi pula aku tidak kemana-mana kok. Aku hanya jalan-jalan aja di Taman Bunga. Tidak jauh dari sini kan.? ucap Senja menenangkan hati Zein yang khawatir.
Zein melonggarkan pelukannya. Ditangkupnya wajah Senja, lalu dikecupnya mesra bibir mungil dan manis itu. Senja pun membalas kecupan mesra Zein.
" Sayang, lain kali kalau mau keluar rumah kamu harus beritahu aku ya. aku nggk mau kamu kenapa-kenapa.! Senja menganggukkan kepalanya, Sepertinya anak kecil yang menurut pada ayahnya.
" Aku tidak sanggup kehilangan kamu sayang. Karena mencintaimu adalah hal terindah dalam hidupku. Dan kamu segalanya bagi hidupku.! ungkap Zein dari lubuk hatinya yang terdalam.
Kemudian Zein menggandeng Senja masuk ke dalam rumah.
.ŕ
Anneth terlihat gelisah.
"Mengapa aku bisa bertemu dia di tempat itu? Dan sepertinya dia mengingat wajahku! bathinnya gelisah.
Anneth berjalan mondar-mandir, sedang memikirkan sesuatu tetapi tidak tahu apa yang sedang ia dipikirkannya. Hanyalah aura ketakutan yang terlukis di wajah pucat itu.
Hal yang paling ditakuti olehnya saat ini adalah tiba-tiba rombongan polisi datang dan menangkapnya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Meski dirinya tahu jikalau perbuatannya itu adalah salah tetapi dihatinya tidak sedikitpun ada rasa penyesalan. Takut yang dialaminya saat ini hanyalah rasa takut diberi hukuman. Dan Anneth paling benci di hukum. Ini diakibatkan oleh traumatic masa kecilnya.
Akhirnya dari pada pusing memikirkan perbuatannya itu, Anneth pun memikirkan sebuah rencana.
" Sepertinya malam ini aku merindukan suasana club.! ucapnya pada dirinya sendiri.
Anneth segera mengganti pakaiannya. Malam ini dia akan bersenang-senang.
Sesampainya di sebuah klub malam, suasana club yang ramai pengunjung khususnya anak-anak muda, Anneth langsung menuju meja bartender. Memesan minuman beralkohol dan meneguknya sekalian meski rasanya tidak begitu enak
Suara musik jedag-jedug terdengar sangat kencang memenuhi ruangan itu. Anneth pun ikut menggoyangkan badannya.
Dan ternyata di dalam club itu di salah suatu ruangan Jeremy seorang diri sedang menikmati alunan musik.
Jeremy Al Savio
Pakaiannya begitu rapi dan formal. Mungkin dia baru saja menghadiri suatu acara penting.
Tampaknya hatinya sedang senangnya, nampak dari wajahnya yang tak hentinya tersenyum. Padahal dirinya hanya sendirian saja.
Jeremy menggoyang-goyangkan badannya mengikuti irama musik yang diputar oleh DJ. Suasana hatinya sedang baik saat ini.
Anneth yang tak sengaja memandang ke arah Jeremy dan Jeremy pun membalas tatapan itu. Netra mereka beradu pandang.
Anneth baru saja ingin meneguk lagi minumannya akan tetapi karena tatapan maut itu membuatnya lupa dengan minuman didepannya.
Pertemuan yang cukup mengesankan sekaligus dengan sang CEO.
__ADS_1