Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Dimana Dirimu?


__ADS_3

Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Romo Paul, Senja pun meminta ijin untuk pamit pulang. Senja lalu menghubungi Zein, memintanya untuk menjemputnya.


" Romo, Senja pamit pulang ya. Terima kasih atas dukungan Romo untuk Senja.!


Romo Paul tersenyum dengan sikap kebapakannya.


" Kamu pulang naik apa? Tanya Romo Paul melihat di sekitar halaman biara tidak ada kendaraan.


" Saya akan dijemput Mo.! Tapi saya mau jalan-jalan dulu di sekitar sini. Sudah lama tidak berkunjung, Senja rindu dengan suasana ditempat ini.!


" Baiklah, hati-hati ya putriku. Romo akan mendoakanmu semoga kebahagiaan selalu menyertai hidupmu!


"Terima kasih Mo!


Senja menyalim tangan Romo Paul, lalu pergi dari sana. Romo Paul memberangkatkan Senja dari jauh hingga raganya menghilang di balik tembok biara. Baru kemudian Romo Paul menutup pintu biara dan masuk.


Kira-kira 30 menit kemudian terdengar bunyi bel pintu biara. Romo Paul membukakan pintu biara dan seorang pria muda tampan berdiri dibalik pintu.


" Selamat sore Romo! Sapa Zein dengan sopan.


" Selamat sore! jawab Romo Paul tapi dengan wajah terlihat kebingungan.


" Kamu temannya Senja ya? Tanya Romo Paul.


" Iya, Romo, perkenalkan nama saya Zein. Tunangannya Senja! Zein memperkenalkan dirinya kepada Romo Paul, karena ini adalah perjumpaan pertama mereka.


" Oh, jadi kamu yang namanya Zein.! Anak yang baik! ucap Romo Paul dengan suara lembut.


" Tapi, kenapa kamu kemari? Romo Paul bertanya lagi.

__ADS_1


" Saya ingin menjemput Senja Romo. Saya sudah janji akan menjemput Senja disini.! jawab Zein.


Dahi Romo Paul berkerut bingung.


" Menjemput Senja? Tapi Senja sudah pamit 30 menit yang lalu.! ujar Romo Paul.


" Sudah pulang? Dengan siapa? Tadi Senja menelpon saya dan Senja sudah mengiyakan akan dijemput oleh saya Romo! Zein nampak terkejut.


" Iya, tadi Senja memang bilang jika dia akan dijemput. Tapi dia pamit dan bilang akan menunggu di persimpangan jalan untuk menikmati pemandangan disekitar sini karena sudah lama tidak kesini dan rindu dengan suasana ditempat ini.! Romo Paul menjelaskan.


Zein dan Romo Paul segera mencari dimana keberadaan Senja saat ini. Tidak biasanya Senja pergi tanpa memberitahu kabar sebelumnya. Setiap sudut di daerah itu sudah didatangi oleh Zein sesuai dengan petunjuk Romo Paul. Tetapi sosok Senja tidak terlihat sama sekali.


Zein sudah berusaha menghubungi nomor ponselnya tetapi tidak bisa masuk sama sekali. Operator selalu menjawab sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan.


Hal ini membuat Zein semakin cemas dan khawatir. Romo Paul juga tidak bisa menerka kemana kira-kira Senja pergi. Daerah ini memang tidak terlalu luas dan setiap sudut masih bisa dijangkau minimal dengan berjalan kaki. Tetapi keberadaan Senja sama sekali tidak bisa ditemukan.


Sudah 2 jam lebih mereka berusaha mencari tetapi tidak juga membuahkan hasil. Romo Paul berpikir sejenak. Dimana kira-kira tempat yang belum mereka kunjungi.


Dulu Senja pernah datang kesana dengan Romo Paul, tetapi mereka hanya sampai di kaki bukit saja. Senja selalu meminta Romo Paul untuk membawanya sampai ke puncak bukit tetapi Romo Paul menolaknya dengan alasan Senja masih kecil tubuhnya belum kuat untuk mendaki bukit itu.


Romo Paul pun mengisyaratkan Zein untuk menuju tempat itu. Zein memutar arah kembali ke biara. Mobil diparkir di halaman biara. Zein mengikuti Romo Paul menuju ke bukit itu dengan berjalan kaki. Mereka berjalan di luar tembok biara sebelah barat, ada sebuah jalan tikus yang sering dilalui oleh para penghuni biara menuju ke bukit doa. Sepanjang jalan di penuhi pepohonan dan semak belukar.


Mungkin karena jarang dilalui oleh manusia sehingga jalanannya tidak terlalu kelihatan. Rumput-rumput liar tumbuh disepanjang jalan. Suara-suara hewan kecil menyambut kedatangan mereka berdua. Romo Paul sedikit yakin jika Senja datang ketempat itu karena nampak jejak-jejak kaki manusia yang melewati jalan itu. Beberapa helai dedaunan rumput-rumput nampak layu bekas terinjak kaki.


Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di kaki bukit kecil itu. Akan tetapi Senja tidak ada disana. Apa mungkin dia menaiki bukit itu sampai ke puncaknya? Romo Paul memandang ke puncak bukit. Meski bukit ini kecil tapi puncaknya sulit untuk dilihat dari bawah karena lokasinya terjal atau kemiringannya 85 derajat hampir 90 derajat. Jarak dari kaki bukit sampai ke puncak kira-kira hanya 95 meter. Dan disepanjang dinding bukit ditumbuhi pepohonan besar. Hanya dipuncaknya saja ada tanah datar dan rata kira-kira 3x4 meter, tempat para biarawan berdoa dan bertapa sambil menatap langit sore menunggu matahari senja terbenam. Pada saat itu pemandangan di ujung langit akan berwarna jingga dan sangat indah bagaikan lukisan sang maestro.


Romo Paul yakin jika Senja ada diatas sana. Anak itu terlihat lemah tetapi punya tekad yang kuat dan berani.


Ditatapnya Zein, kemudian beliau berkata,

__ADS_1


" Apa kamu bisa mendaki bukit kecil ini? Memang terlihat mudah dan biasa saja tetapi jika sudah dijalani baru terasa kesulitannya.


Zein memandang bukit kecil itu.


"Sepertinya bisa Romo. Meski sudah lama saya tidak melakukan pendakian seperti ini, tapi saya kira ini tidak terlalu sulit! Zein meyakinkan dirinya.


Zaman kuliah Zein adalah anggota MAPALA. Tidak terhitung berapa gunung yang sudah mereka taklukkan. Dan bukit kecil ini pastinya bukanlah masalah besar.


" Baiklah, kita akan naik ke atas. Mudah-mudahan Senja ada di atas sana.!


" Tapi, apa Senja pernah mendaki bukit ini Mo?


"Dulu kami sering ketempat ini, tapi Senja hanya sampai di kaki bukit ini saja. Meski dia selalu berharap ingin naik sampai ke puncaknya.!


Zein tersenyum tidak percaya jika ternyata Senja adalah seorang gadis yang kuat dan pemberani. Banyak rahasia yang belum diketahuinya tentang Senja. Mungkin banyak hal lainnya yang akan membuatnya semakin kagum akan sosok Senja.


Langit sudah mulai gelap. Tetapi langit jingga di ujung sore memberi warna terang sehingga mengusir gelapnya malam. Romo Paul dan Zein memulai pendakiannya. Di awal terasa ringan. Namun karena posisi bukit yang terjal, perjalanan sedikit sulit dan berat. Harus bisa menjaga keseimbangan. Oleng sedikit bisa langsung terguling ke bawah.


Namun karena banyak pepohonan, sehingga ada pegangan yang membantu untuk mendaki bukit. Tapi tetap harus berhati-hati.


Namun baru setengah perjalanan, Romo Paul melihat ada sesuatu yang aneh. 25 meter dari arah timur , Romo Paul seperti melihat sesuatu. Seperti benda berwarna putih tergeletak tersangkut batang pohon.


Romo Paul mempertajam penglihatannya. Itu bukanlah benda, tetapi tubuh manusia. Romo Paul ingat, tadi Senja mengenakan pakaian berwarna putih. Jangan sampai tubuh itu adalah Senja.


Romo Paul segera bergegas, dipanggilnya Zein untuk mengikutinya. Zein yang juga sudah melihatnya menjadi takut dan sangat gelisah. Jangan sampai itu adalah Senja.


" Ya Tuhan, semoga itu bukan Senja. Kalaupun itu Senja semoga dia baik-baik saja.! doa Zein dalam hatinya.


Namun karena medan yang cukup sulit membuat mereka berdua harus berhati-hati. Jangan sampai salah melangkah bisa fatal juga akibatnya. Tetapi sebagai mantan anggota MAPALA Zein sangat tahu trik dan strategi yang aman ketika melakukan pendakian yang sulit seperti ini.

__ADS_1


Semakin mendekat, semakin sangat jelas. Itu memang tubuh Senja. Sepertinya dia tergelincir dan jatuh. Lalu tertahan batang pohon yang menahannya sehingga tidak terguling sampai ke bawah bukit. Tubuhnya kotor oleh tanah dan dedaunan kering. Lengan dan wajahnya terdapat luka goresan dan darah.


Melihat kondisi Senja, hati Zein terasa sakit. Perih dan sedih karena tidak tahan melihat keadaan Senja yang terluka seperti itu. Seandainya saja dia tidak terlambat datang, Senja tidak akan mengalami peristiwa naas ini. Perasaan bersalah menilisik hatinya. Rasa bersalah yang sangat menyakitkan.


__ADS_2