
Part 4
Andrew mengeraskan rahangnya mendengar permohonan Alina .
"Ada apa dengan wanita ini ?
Bukannya senang dengan penawaran sebuah pernikahan yang di impikan setiap wanita yang memujanya , dia malah bersikeras untuk menolak?" Gumam Andrew dalam hati , merasa heran dengan penolakan Alina akan dirinya.
Namun bukan Andrew namanya jika ia menyerah dengan sesuatu yang di inginkannya .
Itulah bukti langkah kesuksesannya sekarang dan betapa berjayanya ia hingga detik ini .
Kemauan dan tekad yang kuat untuk memenangkan dan memiliki sesuatu yang menjadi tujuannya .
"Ehm ..." Andrew berdehem untuk menghilangkan sedikit rasa marah terhadap gadis itu
"Hei ___ aku mengurus semua untukmu , pekerjaanmu , sekolahmu dan Yaa tentu saja teman-temanmu . Jadi aku pikir itu bukan suatu masalah" ucap Andrew memaksa Alina untuk menatapnya
"Apa maksud anda , dengan mengurus semua?" Jawab Alina lirih
"Tentu saja hal yang membuat pernikahan kita nanti lancar ...!!"
Membuat Alina terdiam seketika dengan pikiran yang berkecamuk memenuhi benaknya.
"Sekarang kau harus membersihkan badan mu , ini sudah cukup siang untuk waktu kita sarapan" ucap Andrew sambil melirik jam dinding di kamarnya .
Namun Alina tetap bergeming , ia bingung dengan keadaan yang membuatnya serba rumit dengan terjebak bersama pria di depannya ini .
Andrew menangkap keresahan itu di mata Alina , lalu mengecup dahi Alina dalam dan tanpa persetujuan dari gadis tersebut Andrew mengangkat tubuh kecil Alina dan membawanya ke kamar mandi ..
"Akhhh! ... Apa yang___?" jerit Alina terputus saat Andrew menurunkannya dan mendudukkannya di wastafel kamar mandi yang terlihat sangat mewah .
"Mengantarmu untuk mandi ... Karena ku rasa kau sulit untuk berjalan sendiri ..." Ucap Andrew memotong pekikan protes dari Alina dan menatap lekat manik mata almond milik Alina .
Membuat pipi Alina memanas seketika saat mengingat kejadian sepanjang hari ini .
"Mandi Alina !... Atau aku akan memandikan mu , dan tentu itu akan menjadi waktu mandi yang sangat lama .." ucap Andrew dengan nada memerintah yang kental
Alina bergidik ngeri mendengar penuturan seduktif Andrew.
Alina tahu kemana arah pembicaraan pria di depannya itu.
Masih dengan mencengkram selimut tebalnya Alina bergerak tak nyaman dalam kukungan erat tangan Andrew di pinggangnya
"Saya akan mandi .."ucap Alina pelan , mengusir Andrew secara halus agar pria itu keluar dan membebaskan jantungnya yang berdetak menggila jika pria itu terus menerus berdekatan dengannya
"Baiklah , aku menunggu mu di bawah .."ucap Andrew mengerti dengan pengusiran halus dari Alina
__ADS_1
"Jangan melakukan hal bodoh lagi yang nantinya akan merugikan mu sendiri Alina" ucapnya sebelum pergi dan menutup pintu kamar mandinya pelan .
Alina gugup setengah mati , memegangi dadanya dan tubuhnya jatuh merosot ke lantai kamar mandi yang luas .
Entah kenapa kakinya terasa lemas karena detak jantungnya yang terlalu keras.
Lama Alina terdiam menenangkan diri , lalu beranjak menyalakan Shower air hangat dan mengguyurkan tubuhnya di sana.
Berusaha menghilangkan jejak sentuhan Andrew di tubuhnya yang masih saja terasa .
pikirannya melayang memikirkan masa depannya.
yang jelas ia harus kuat untuk mengahadapi semuanya , takadnya dalam hati.
Andrew menunggu Alina di ruang makan rumahnya setelah sebelumnya ia memesan sarapan yang benar-benar telat .
Sambil mengotak Atik ponselnya dan menghubungi seseorang diserang sana.
"Bagaimana Sam?" Ucap Andrew sesaat terdengar kata halo di sebrang sana
"Sudah beres semua Tuan , termasuk pekerjaan nona ... Tidak ada yang bertanya lebih saat saya memberikan surat pengunduran diri untuk nona Alina di tempat kerjanya!" Jelas Sam
"Kerja bagus Sam .. lalu bagaimana dengan teman-teman OBnya?" Tanya Andrew lagi ingin memastikan
"Nona Alina tidak banyak berinteraksi di sana , hubungannya dengan teman-teman nya di sana hanya profesionalisme pekerjaan Tuan .. jadi tidak terlalu rumit" jelas Sam kemudian
"Baik Tuan akan saya siapkan ... Ada lagi Tuan?" Tanya Sam setelah menyanggupi permintaan Bosnya itu
"Tidak ada !... Kabari aku perkembangannya "
Lalu tanpa aba-aba Andrew memutuskan sambungan teleponnya saat ia melihat siluet tubuh mungil Alina di ujung tangga mengenakan kemeja kebesaran miliknya . Dengan rambut yang terjuntai lembut .
Membuat diri Andrew mengeras menahan gejolak dalam dirinya yang ingin memakan Alina detik itu juga.
"Kemari Alina ... "Ujar Andrew setelah beberapa saat mengagumi bidadari kecil di hadapannya sedang menyapu seluruh ruangan rumahnya .
Andrew mengulurkan tangannya , namun Alina justru hanya menatap tangan pria itu , enggan menyambut uluran tangan kekar itu
Maka Alina hanya diam mematung berdiri tak jauh dari Andrew yang sedang duduk di kursi makannya
Dihadapannya sudah tersedia berbagi macam makanan , membuat Alina menatapnya lapar .
Sejak kemarin dia sadar di rumah ini ia belum mengisi perutnya kembali , sinyal lapar berbunyi menandakan untuk segera di isi .
Andrew tersenyum mendengar bunyi perut Alina , mengulur tangannya kembali dan menatap Alina
"Duduk Alina ... Makanlah___aku tahu kau lapar?" Ucap Andrew
__ADS_1
Alina menunduk malu setelah perutnya berbunyi .
dasar perut tidak tahu kondisi , gumam Alina dalam hati.
Alina melangkahkan kakinya pelan menuju meja makan.
Sejenak ia bingung harus duduk di sebelah mana , ia merasa canggung bukan main harus berhadapan dengan pria maha sempurna di hadapannya itu
"Duduk disini ...!"bisik Andrew di telinga Alina , lalu mengecup Surai panjang nan lembut milik Alina .
Alina berjengit kaget , ia tak sadar Andrew sudah berdiri di sampingnya dan menuntunnya untuk duduk di sebrang Andrew.
Menarikan kursi di sana dan menuntun Alina untuk duduk di sana... Alina berusaha menjauhkan dirinya saat Andrew terus mengecup rambut miliknya
Menjaga jarak dari pria itu . sedikit takut dan canggung Alina menggeser tubuhnya,
Andrew mengerti dengan rasa canggung Alina yang mendominasi lalu bergerak menuju kursinya kembali.
"Ayo Alina makan lah ..."titah Andrew
"Yaa ... Terimakasih" ucap Alina pelan , ia bukan orang yang tidak tahu terimakasih untuk kebaikan seseorang .... Meski ia sebenarnya membenci orang tersebut
"Kenapa kau memakai kemejaku?" Ucap Andrew sambil menatap tubuh Alina lapar
Alina menunduk takut saat Andrew bertanya perihal kemeja yang dia kenakan.
Setelah selesai mandi tadi Alina kebingungan mencari bajunya , entah kemana bajunya menghilang .
Ia tidak mungkin turun dan keluar dari kamarnya hanya dengan menggunakan kimono handuk ini kan?
Lalu pandangannya jatuh pada kemeja kebesaran berwana putih gading di sofa dekat ranjang besar tersebut.
Sejenak Alina ragu untuk mengenakannya , namun ia tak punya pilihan lain . Lalu dengan segera memakai kemeja yang ternyata benar-benar kebesaran di tubuhnya , separuh dari paha Alina tenggelam di sana dengan lengannya pun begitu.
Lalu menyisir rambutnya yang tergerai dan segera turun untuk menanyakan bajunya yang entah pria itu buang kemana .
Alina tetap bergeming di tempatnya tak tahu harus menjawab apa , ia bingung dan ketakutan melihat dari ujung matanya kalau Andrew tengah menatapnya tajam .
"Kau sedang menggodaku?" Ucap Andrew saat Alina tetap diam dan menunduk sambil sesekali menyuapkan makanan kemulutnya
.
.
.
By__flyingdream
__ADS_1