
Siang ini Senja ada janji fitting gaun pengantin dengan butik yang sudah dipilih oleh Zein. Senja berangkat lebih dulu karena Zein sendiri akan menyusul dari kantor. Senja memilih naik bus trans. Sudah lama dia tidak menaiki baja beroda itu. Ada rasa rindu untuk mengulang kembali masa-masa yang penuh kenangan.
Ketika Senja di dalam bus, Jeremy yang kebetulan sedang mengemudikan mobilnya berjalan beriringan dengan bus yang ditumpangi oleh Senja. Tanpa sengaja Jeremy melihat Senja yang duduk di samping jendela kaca bus.
Dan karena penasaran juga rasa rindu, Jeremy pun memutuskan untuk mengikuti rute bus itu menunggu di halte mana Senja akan turun.
Dan bus berhenti di salah satu halte yang tidak jauh dari letak butik tempat Senja membuat janji.
Senja turun dari bus, lalu melanjutkan tujuannya. Jeremy masih tetap mengikutinya dari dalam mobil dengan kecepatan yang melambat. Setelah memastikan Senja masuk ke dalam butik yang di tuju, Jeremy memarkirkan kendaraannya tidak jauh dari sana. Setelah parkir aman Jeremy segera berangkat masuk ke dalam butik.
Saat berada di dalam butik, Jeremy melihat sekelilingnya. Butik ini dipenuhi gaun pengantin. Jeremy bertanya-tanya, " Ada apa gerangan, Senja masuk ke butik khusus pakaian pengantin.? Jeremy tidak melihat sosok Senja di dalam butik itu.
Salah seorang karyawan butik itu menemui Jeremy. Dia mengira jika Jeremy adalah pasangan Senja, wanita yang baru saja ngepass gaun di ruang ganti.
" Mari Pak, silahkan anda tunggu disini, calon istri anda sedang mencoba gaun pengantinnya.! Karyawan itu lalu mempersilahkan Jeremy duduk menunggu di tempat yang sudah disediakan.
Jeremy yang tidak membantah ataupun mengiyakan, menurut saja dengan ucapan-ucapan karyawati itu.
Senja yang sedang mengenakan gaun pengantinnya fokus melihat gaun itu apakah cocok atau tidak ditubuhnya. Karyawati yang mengajak Jeremy berbicara masuk lalu berkata kepada Senja.
" Calon suami anda sudah menunggu di luar.! ucapnya dengan senyum ramah.
" Cepat juga dia datangnya? Bukannya lima menit lalu dia pesan kalau masih ada dikantor? Tanya Senja dalam benaknya.
Setelah merapikan gaun pengantinnya, Senja pun bersiap-siap untuk keluar menunjukkan gaun yang dipakainya kepada Zein. Sedangkan Jeremy duduk manis menunggu Senja keluar dari ruang ganti itu. Dia begitu penasaran bagaimana penampilan Senja saat mengenakan gaun pengantin itu.
Salah seorang dari karyawati itu membuka layar yang menghalangi ruang ganti dengan ruang tempat tunggu. Senja keluar dengan langkah menunduk sehingga tidak melihat sosok Jeremy yang telah meninggalkanmu dari tadi.
Begitu melihat Senja keluar dengan gaun pengantin, betapa Jeremy terpana dan terpesona melihat kecantikan Senja yang selama ini tersembunyi. Senja lalu mengangkat wajahnya dan betapa terkejutnya dirinya ketika melihat siapa yang sedang memandanginya disana.
" Jeremy? Kenapa dia? Zein kemana?? Benaknya diliputi berbagai pertanyaan. Wajahnya terlihat bingung melihat sesuatu yang diluar dugaannya.
Jeremy menatap lekat kepadanya. Tatapan yang sulit untuk diartikan. Mengapa godaan ini semakin kencang menggoda hatinya.? Bagaimana mungkin dia bisa bertahan melihat keindahan seperti ini.? Jadi jangan salahkan jika akhirnya hatinya bertahan untuk mengejar cintanya kembali.
Dan ketika mereka masih saling memandangi satu sama lain, seperti membatu tak bergerak, Zein pun muncul dan betapa terkejutnya dirinya melihat pemandangan yang menurut penglihatannya sangat buruk sekali.
__ADS_1
Tatapan marah atau mungkin kesal. Bagaimana tidak, ketika kamu melihat colon istrimu sedang memperlihatkan gaun pengantinnya kepada lelaki lain.
Dengan langkah tergesa-gesa dan sepertinya mulai emosi, Zein medekati mereka berdua lalu memanggil nama Senja dengan nada yang cukup keras dan penuh amarah.
" Senja!!!
Senja pun seketika menoleh dan melihat Zein berwajah sangat kesal sekali.
Dan dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya
Jeremy yang cuek - cuek saja, lebih memilih menikmati pemandangan yang indah dihadapannya itu. Dia seakan tidak peduli dengan keberadaan Zein lagi.
Para Karyawati yang bekerja di tempat itu pun tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi melihat situasi seperti itu akhirnya mereka memilih diam. Yang penting melayani para pelanggannya itu dengan baik.
" Kamu kenapa ada disini? Tanya Zein dengan nada suara yang cukup kerasnya kepada Jeremy.
" Apa kamu tidak melihat, aku lagi melihat Senja mengenakan gaun pengantinnya.? jawab Jeremy yang makin memancing emosinya Zein.
" Kamu tidak punya hak untuk melihat calon istri pria lain dengan gaun pengantinnya!! ucap Zein masih dengan nada tinggi.
Melihat senyuman itu hanya akan membuat Zein semakin emosi.
" Kenapa kamu terlihat sangat kesal sekali? Apakah karena aku menjadi orang pertama yang melihat pengantinmu memakai gaun pengantinnya? Atau karena kamu takut kamu akan kehilangan calon pengantinmu ?
Jeremy memang suka blak-blakan. Tidak peduli dengan penilaian orang lain.
Zein yang tidak ingin terpancing emosi, memilih untuk tidak menanggapi ocehan Jeremy.
Zein pun mendekati Senja. Dengan melihat keindahan wajah Senja yang memancar itu. Betapa damainya melihat wajah tenang dan teduh itu. Senja yang tidak tahu harus berkata apa, karena memang dia tidak tahu mengapa Jeremy tiba-tiba ada disana, mendekat kepada Zein. Mereka saling mendekat satu sama lain.
" Kamu cantik sekali dengan gaun itu ! puji Zein. Dia memang terpesona melihat Senja memakai gaun itu. Hatinya semakin tidak sabar untuk menunggu hari pernikahannya sendiri.
Jeremy membuyarkan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh Zein dengan berpura-pura batuk.
" Ehem.... ehem... !!
Zein melirik tajam kepada Jeremy.
__ADS_1
" Sebelum janur kuning melengkung, masih ada kesempatan untuk merebut kembali apa yang bisa kita raih! Benarkan perkataanku itu !?
Zein yang semakin tidak menentu memilih tidak menggubrisnya.
Dia tidak ingin terpancing oleh godaan Jeremy. Dia tidak akan membiarkan dirinya kalah oleh bujuk rayunya Jeremy.
Senja yang juga sedang fokus dengan gaunnya itu hanya bisa membiarkan Jeremy dengan kemauannya.
" Kamu seharusnya berhati-hati, jangan sampai aku bisa merebut hati Senja darimu! Ucapnya mengingatkan Zein.
" Kenapa kamu seperti yakin dengan hal itu ? balasnya.
Jeremy tersenyum.
" Jangan salah, cinta pertama Itu sangat sulit untuk di lupakan.
Ya benar, cinta pertama. Apalagi cinta pertamanya . Bisa membuat hati yang dulu gelap tak berperasaan menjadi lebih terang dan menyala -nyala.
Keindahan yang terpancar dari raut muka Senja akhirnya membuat banyak hati yang ingin memiliki dan menjadi penghiburan di sana.
Zein yang berdiri di samping Senja, semakin terpesona dengan keanggunan yang memancar dari wajah Senja.
Bagaimana dia bisa membiarkan keindahan ini diambil oleh orang lain darinya.? Zein sedang berusaha untuk menahan cintanya agar tetap bertahta di hati Senja.
Zein pun mencoba bersikap mesra dihadapan Jeremy. Dia ingin mau menunjukkan kepadanya bahwa dirinyalah yang akan berjalan bersama dengan Senja. Bersamanya, Zein ingin mengingatkan Jeremy jika dirinya harus membebaskan hatinya dari Senja. Aksinya seolah mengatakan lepaskan dan ikhlas kan.
Senja yang masih terasa mengawang mengikuti saja apa yang dilakukan oleh Zein.
Menunggu adalah hal tepat yang dapat dilakukannya saat ini.
Menunggu waktu yang tepat untuk mereka saling berbicara satu sama lain.
Agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka. Apalagi sekarang ini banyak kaum muda mudah untuk berpenampilan menawan dan gampang jatuh cinta kepadanya.
Senja yang juga tidak menyangka penampilannya hari ini akan memicu persaingan antara dua sosok yang istimewa. Dalam kehidupannya, merindu dan dirindu adalah sesuatu yang takkan terpisahkan.
Senja tak menduga. Kini hatinyalah yang akan kembali tak tenang. Meresahkan.!! Ingin rasanya mengingkarinya.
Tapi apa daya hati terlalu lemah untuk itu.
__ADS_1