Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Pasangan Yang Sempurna


__ADS_3

Saat sedang berjalan di koridor perkantoran, tiba-tiba tanpa sengaja Senja melihat sebuah pemandangan yang tidak biasa. Zein sedang berdua bersama dengan seorang perempuan cantik. Mereka berdua tampak sedang berbincang-bincang. Terlihat dari kejauhan mereka berdua nampak begitu akrab, dan reaksi dari perempuan tersebut sangat aktif. Gesture tubuhnya memperlihatkan sikap yang begitu mesra dan seakan-akan intim. Jari jemarinya tak henti-hentinya menjamah dan menyentuh tubuh Zein dengan rabaan yang begitu lembut dan romantis. Dan reaksi Senja ketika melihat adegan tersebut sedikit terkejut dan sedikit ada rasa cemburu.


"Siapa perempuan itu? Mengapa dia begitu dekat dengan Zein? Tingkahnya juga seperti menggoda. Sikap dan reaksinya begitpmu intim dan mesra sekali. " pertanyaan-pertanyaan ini muncul saja dari dalam pikiranku.


Aku merasa tidak senang dengan pemandangan yang baru saja disaksikan oleh kedua mataku. Tidak mungkin hatiku memendam rasa kepada Zein?


" Ahhh.... jangan katakan kalau aku memang sedang cemburu?


"Oh Noooo...!!


" Senja, jangan sampai terjadi kamu terbawa perasaan. Karena itu bisa menyakiti hatimu! nasehatku pada diriku sendiri. Tapi jujur dari lubuk hati yang dalam, melihat kecantikan perempuan itu membuatku tidak percaya diri dan jika dipadukan dengan wajah tampan Zein, mereka berdua memang tampak seperti pasangan yang sempurna. Sungguh sangat sempurna.


Jika dipikir-pikir, apakah mungkin jika sebenarnya Zein itu sudah punya kekasih atau bahkan mungkin sudah bertunangan? Tapi mengapa Zein malah memintaku untuk menikah dengannya?


" Aahhhh.... tiba-tiba perasaanku menjadi galau." Sebagai perempuan normal jujur aku mengagumi Zein, meski untuk saat ini aku belum merasakan jatuh cinta kepadanya.!


Kulangkahkan kakiku dengan gontai meninggalkan pemandangan yang sebenarnya tidak elok untuk terus dilihat atau diperhatikan.


Siang-siang begini aku sudah tidak semangat memasuki kantor karena menyaksikan pemandangan yang sama sekali tidak kusukai.


Tapi mengapa aku harus berpikir terlalu jauh tanpa mengetahui dengan lebih jelas.?


Seharusnya aku tidak perlu merasa khawatir ataupun cemas.


Bukankah Zein sendiri yang memintaku untuk menikah dengannya?


Aku tidak pernah berharap bahkan memintanya untuk menjadi istrinya. Meski pada dasarnya pernikahan kami nantinya hanyalah sebuah pernikahan kontrak. Yang kapan saja bisa berakhir.


Ahhh.... sudahlah! Hari esok ada kesusahannya sendiri. Hari ini biarlah nikmati untuk hari ini.


Percakapan antara Zein dan Anneth.

__ADS_1


" Zein, aku tidak menyangka kamu masih tidak berubah sama sekali! ucap Anneth dengan perasaan bahagia sembari tangannya yang aktif membelai lengan Zein. Anehnya Zein membiarkan saja wanita itu untuk melakukannya. Lalu Anneth berkata lagi kepada Zein,


" Aku dengar dari teman-teman semenjak kita putus, kamu sama sekali tidak pernah berpacaran. Bahkan tidak pernah berkencan dengan wanita manapun.!


" Kamu benar-benar tidak bisa move on dari aku ya!? Anneth terlihat begitu percaya diri sekali mengucapkan kata-katanya itu.


Padahal sesungguhnya dia sama sekali tidak tahu bagaimana sesungguhnya kehidupan Zein setelah mereka putus. Zein memang tidak pernah berkencan atau berpacaran lagi. Namun bukan berarti gara-gara tidak bisa move on dari cintanya dulu.


Dilihat dari tampang Zein yang datar-datar saja tanpa ekspresi ketika mendengar ucapan Anneth, sudah dapat dilihat dengan jelas kalau Zein sama sekali tidak berminat untuk berbicara ataupun mendengarnya. Dengan keadaan yang terpaksa dia hanya diam berdiri tegak seolah-olah mendengarkannya berbicara.


Saat Anneth asyik berbicara dengan gerakan tangan yang merayap kesana kemari, tanpa sengaja lirikan mata Zein menangkap sosok bayangan Senja yang melihat ke arah mereka. Zein sebenarnya ingin berusaha menghindari kesalah pahaman akibat kejadian ini, namun dalam pikirannya malah muncul ide untuk menguji hati Senja.


Apakah Senja akan merasa terganggu dengan kejadian barusan? Atau mungkinkah Senja akan merasakan cemburu ketika melihat calon suaminya sedang berdua dengan wanita lain.?


Itulah sebabnya Zein membiarkan Anneth meraba-raba tubuhnya dengan lembut dan membelainya dengan mesra. Setelah dilihatnya Senja sudah tidak ada lagi disana, barulah Zein mulai menepis tangan Anneth dari tubuhnya.


" Maafkan aku Ann, tapi sepertinya kita tidak akan bisa mengulang kisah masa lalu! ucap Zein dengan terus terang.


" Ada apa? Kenapa kamu berkata seperti itu Zein? sangkal Anneth tidak bisa menerima.


" Karena aku tidak lagi mencintaimu.! jawabnya dengan sejujurnya.


" Tapi, kamu tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. Itu artinya kamu masih menyimpan rasa untuk diriku kan?! bantah Anneth tidak terima dengan jawaban Zein.


" Aku memang tidak menjalin hubungan dengan siapapun atau bahkan tidak pernah berkencan dengan wanita manapun. Tapi itu bukan berarti aku tidak bisa jatuh cinta dengan wanita lain!


Wajah Anneth yang awalnya ceria dan gembira, kini berubah tidak menyenangkan. Wajahnya yang muram mengekspresikan ketidak sukaannya akan perkataan Zein.


Zein pun melanjutkan perkataannya.


" Satu hal yang akan aku sampaikan kepadamu, dan kamu harus bisa menerima kenyataannya."

__ADS_1


Anneth menunggu dengan hati yang tidak sabar dan sedikit takut dan meragu. Takut jika perkataan Zein akan menyakiti hatinya.


" Sebenarnya aku sudah bertunangan, dan tidak lama lagi kami akan segera menikah!


Dugaannya benar, ketakutannya nyata adanya. Hatinya terluka mendengar ucapan Zein. Harapannya untuk mengulang kembali kisah asmara diantara mereka berdua pupus sudah.


Tapi tunggu dulu.! Anneth bukanlah wanita yang mudah untuk menyerah begitu saja.


Sebelum ada bukti yang konkrit dia tidak akan percaya dengan gampangnya.


Bisa saja Zein hanya mencoba untuk membohonginya, sedang menguji cintanya karena dulu dia yang memutuskan untuk berpisah dari Zein.


Anneth pun berusaha untuk menunjukkan wajah percaya dirinya.


" Kalau kamu hanya ingin membalas sakit hati karena tindakanku waktu itu, aku tidak akan menyerah dengan mudahnya. Karena aku yakin kalau hatimu masih menyimpan rasa cinta untuk diriku! ucap Anneth dengan angkuhnya.


Zein membalas dengan senyuman. Seperti sebuah senyuman kasihan atau mengejek tapi tidak terlalu kentara.


" Aku hanya mengatakan yang sejujur-jujurnya. Aku tidak punya waktu untuk membalas sakit hati karena aku tidak pernah sakit hati. Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh datang ke kantorku dan bertemu dengan tunanganku sekalian kamu berkenalan dengannya. " ucap Zein dengan tegas dan meyakinkan.


Anneth pun mulai terlihat tidak bersemangat. Kepercayaan dirinya seperti hilang entah kemana. Wajahnya terlihat lesu tak berdaya. Sakit hati. Ya, itulah rasanya sakit hati. Sedih, perih dan menyayat hati. Tubuhnya seakan lemas tak bertenaga.


Tidak pernah disangka-sangka olehnya jika Zein akan memberinya jawaban yang berbalik dari ekspektasinya selama ini.


Tanpa diduganya Zein memang telah berubah. Hatinya telah jatuh kepada hati wanita lain. Yang tidak diketahui oleh Anneth sama sekali bahwa sesungguhnya hati Zein tidak mencintai siapapun untuk saat ini.


Tindakannya saat ini hanyalah untuk menjaga imej dan egonya sebagai seorang laki-laki. Dia tidak ingin dianggap sebagai laki-laki yang lemah yang kalah dihadapan seorang wanita.


Kalau boleh dikata memang masih ada rasa cinta kepada seorang Anneth karena dialah cinta pertamanya. Namun rasa cinta itu hanya sebatas samar-samar, sisa-sisa di masa lalu. Yang tidak lagi berbekas dalam dihatinya. Egonya sebagai laki-laki yang sejati dan tangguh membuatnya tidak ingin lagi mengulang masa lalu yang baginya sudah gagal. Artinya cintanya yang dulu hanyalah sebuah obsesi bukan cinta yang murni dari ketulusan hati. Cintanya yang dulu hanyalah demi sebuah penghargaan dan kebanggaan. Karena cinta sejati akan kembali sekalipun sudah lama terpisah dan menjauh.


Zein pun meninggalkan Anneth sendiri dalam pikirannya yang masih tidak bisa menerima kenyataan. Zein sama sekali tak berpaling kepada Anneth. Langkahnya tegap dan lurus tanpa ragu. Anneth yang terus menatapnya dari balik punggungnya hingga Zein menghilang dari pandangannya terus saja mematung. Sia-sia sudah kedatangannya ketempat ini.

__ADS_1


Tapi. Ini bukanlah akhir. Anneth tidak terima sebuah kekalahan. Dalam kamusnya tidak ada kata kalah. Anneth menghembuskan napas panjang dan beranjak dari sana. Dalam pikirannya sedang merancang sesuatu. Ya, sesuatu yang hanya diketahui olehnya dan oleh Tuhannya.


__ADS_2