Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Surat Perjanjian.


__ADS_3

Senja yang merasa bosan karena seharian tidak melakukan apapun, mulai iseng-iseng membuka-buka setiap benda yang ada disana. Mulai dari lemari pakaian, lemari dapur, lemari perpustakaan sampai lemari hias yang ada di apartemen itu. Ada juga sebuah nakas kecil disamping tempat tidur, yang diatasnya ada lampu tidur. Senja mulai membukanya. Ada beberapa dokumen tersimpan didalamnya.


Ada sebuah dokumen yang cukup menarik perhatiannya. Dokumen bersampul warna maroon. Yang covernya tertulis "Surat Perjanjian Nikah". Yang semakin membuat dia penasaran ada tertulis namanya disana.


Senja meraih dokumen itu. Karena yang tertulis adalah namanya artinya itu miliknya.


Zein sedang on the way dari kantornya. Sebentar dia singgah di supermarket membeli sesuatu. Meski hanya ditengah hari saja dia meninggalkan Senja, tapi hatinya sudah sangat merindukannya.


Kadang dia senyum-senyum sendiri ketika sedang mengingat Senja.


Butuh 30 menit bagi Zein menghabiskan waktunya untuk berbelanja. Setelah di rasa cukup, Zein bergegas pulang ke apartemennya. Hatinya diliputi rasa bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan pujaan hatinya itu.


Sudah tak sabar lagi ingin melihat wajah cantik Senja.


Terdengar bunyi password pintu sedang di buka. Zein masuk dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya. Setelah mengganti sepatu dengannya sandal rumah, Zein langsung menuju dapur meletakkan kantongan belanjaan di atas nakas. Senja tidak terlihat di ruang tengah.


" Apakah dia masih beristirahat di kamar ? pikir Zein.


Setelah itu dia membersihkan tangannya lalu baru masuk ke dalam kamar mencarinya Senja.


" Sayang? panggilnya mesra.


Tak ada jawaban.


" Sayang? panggilnya lagi.


Masih tak ada jawaban.


" Senja sayang? panggilnya untuk yang ketiga kalinya. Di awasinya seluruh ruangan itu tapi sosok Senja tidak ada disana. Rasa khawatir pun mulai merasukinya.


Karena tidak ada jawaban sama sekali, Zein pun semakin panik.


Dia keluar dari dalam kamarnya, lalu mencari Senja di setiap ruangan. Tapi Senja tak juga ditemukannya. Janganlah heran jika Zein terlihat begitu panik dan cemas serta gelisah. Pikirannya mulai berpikir negative. Takut sesuatu yang buruk menimpa Senja disaat dia tidak ada bersamanya.


Setiap sudut ruangan telah dicari tapi Senja tak jua ditemukan. Tapi ada satu yang terlewatkan. Ruang kantor pribadinya. Ruangan itu adalah sangat privasi. Tak seorang pun pernah diijinkan masuk ke ruangan itu.


Bukan karena Zein menyimpan suatu rahasia di sana. Hanya saja Zein ingin mempunyai sebuah ruangan khusus baginya untuknya merenung atau menyendiri, membebaskan diri dari kepenatan karena pekerjaan.


Zein memang belum pernah membawa siapapun memasuki ruangan itu. Dan Senja juga belum pernah masuk kedalamnya. Apakah mungkin dia sedang berada disana? Tapi untuk apa?


Zein pun menuju ruangan itu. Pintunya masih tertutup rapat. Seingatnya memang tadi pagi ruangan itu tidak dikuncinya. Jadi kalau Senja masuk ke sana pintu dapat dibuka begitu saja.


Zein membuka pintunya perlahan. Ruangan itu cukup luas. Wangi aroma therapy tercium dari dalam. Zein menyapu seluruh ruangan dengan netranya.

__ADS_1


Senja nampak duduk di atas sebuah sofa sambil memegang sebuah kertas.


Zein mendekat. Senja sepertinya tidak menyadari kehadirannya disana.


"Sayang! sapanya lembut.


Sedikit terkejut Senja menoleh ke arah asal suara.


Senja pun bangkit dari sofa empuk itu, seakan ingin menyambut kedatangan Zein.


Zein yang semakin mendekat, bermaksud untuk memeluk Senja. Tapi Senja mengulurkan tangannya menghalangi Zein untuk memeluknya.


Melihat reaksi Senja yang menolak dirinya, Zein pun bertanya.


" Kenapa sayang? Apa yang terjadi? Zein semakin mendekat, tapi Senja semakin menghindar.


" Apa maksud dari surat perjanjian ini? Senja menunjukkan dokumen surat perjanjian yang dulu disepakati oleh mereka sebelumnya.


" Itu bukan apa-apa. Itu hanya sebuah kesalahpahaman yang terjadi diantara kita dulu.! Sanggah Zein. Dia menyesal kenapa surat itu tidak dibuangnya saja agar tidak menjadi persoalan bagi hubungan mereka yang sebelumnya hanyalah karena kesepakatan.


" Kesalahpahaman bagaimana? Yang saya baca di kertas ini bahwa hubungan kita bukan berdasarkan cinta tapi sebuah kesepakatan. Saya jadi bingung sebenarnya hubungan kita seperti apa? Senja berharap Zein menjelaskan semuanya dengan sejelas-jelasnya.


Zein menghela napas dalam. Bagaimana dia harus menjelaskannya? Disaat Senja sedang lupa ingatan apa mungkin dia akan percaya dan mau mengerti?


Senja terdiam. Hatinya masih diliputi keragu-raguan. Antara harus percaya atau tidak.


Dalam kebingungan Senja, Zein mendekat lalu meraih jemari Senja. Menggenggamnya lembut memberi rasa nyaman.


"Mungkin kamu tidak akan percaya dengan mudah karena saat ini kamu tidak ingat sama sekali. Tapi aku yakin kalau hatimu bisa merasakannya! ucap Zein dengan tulus.


" Tapi aku ingin penjelasan. Mengapa kita harus menyepakati surat perjanjian ini? Aku harap kamu berkata yang sejujurnya! pinta Senja berharap Zein bersedia mengatakan yang sesungguhnya.


Zein membawa Senja untuk mencari tempat yang nyaman untuk mereka saling bercerita. Mungkin ini saatnya Zein memulai cerita untuk memulihkan ingatan Senja secara perlahan-lahan.


Sebelum memulai ceritanya, Zein mencoba menyiapkan hatinya. Karena walau bagaimanapun kisah mereka diawali dari kisah yang kurang baik. Tidak tahu apakah Senja bisa menerimanya dengan hati yang lapang? Ataukah Senja akan menolak hubungan yang sudah terjalin dengan cinta itu?


" Waktu itu kita pertama kali bertemu.......!


Zein pun memulai kisah mereka.


Pertemuan pertama di kamar hotel namun dalam keadaan tidak sadarkan diri. Pertemuan yang kedua, ketiga dan seterusnya yang diselingi dengan drama ibarat drama Korea.


Tanpa ditutup-tutupi Zein menceritakan kisah cinta mereka yang bagaikan jalan berliku dan penuh rintangan. Namun ada satu bagian kisah yang tidak diceritakan oleh Zein. Yaitu kisah cinta antar Senja dan Jeremy. Cinta pertamanya. Untuk kisah itu biarlah muncul sendiri dalam ingatannya Senja.

__ADS_1


Setelah merasa bahwa semuanya telah diceritakan tanpa ada yang disembunyikan dari Senja. Sekarang tergantung penilaian Senja. Percaya atau tidak.


Senja terdiam setelah mendengarkan penjelasan dari Zein. Tidak ada kebohongan di sana karena Senja bisa merasakannya dan tampak dari sorotan matanya Zein yang tulus.


"Terima kasih karena kamu bersedia untuk menceritakan semuanya. Apakah itu benar atau bohong, hatiku berkata jika kamu tidak lagi berbohong.! ujar Senja dengan yakin.


" Hanya saja aku tidak menyangka jika hubungan kita diawali karena sebuah kesalahan.! ucapnya lirih.


Zein menggenggam jemari Senja. Lembut dan hangat.


" Mungkin awalnya adalah sebuah kesalahan, tapi aku bersyukur karena akibat dari kesalahan itu kita bisa dipertemukan.! Zein membenarkan ucapan Senja, tetapi juga sekaligus meyakinkan Senja bahwa karena kesalahan itulah mereka berdua kini bisa saling mencintai.


Senja menghela napas pendek. Bisakah hatinya untuk menerima kenyataan seperti yang telah diungkapkan oleh Zein? Karena sejujurnya hatinya menyimpan sedikit keraguan. Karena ingatan yang sungguh menyebalkan ini.


Kenapa pula dia harus mengalami lupa ingatan di saat dia akan memulai kehidupan yang baru.


Seperti sebuah kisah dalam drama-drama korea atau drama china yang digemari oleh para gadis dan ibu-ibu zaman sekarang.


" Bolehkah aku meminta satu hal!? pinta Senja.


" Silahkan. Kamu boleh meminta apa saja aku akan memenuhi segala permintaanmu. Terkecuali jangan meminta untuk berpisah dariku! Sebelum Senja mengeluarkan permintaan pamungkas yakni untuk berpisah darinya, Zein terlebih dahulu mengingatkannya.


Senja tersenyum lucu. Hatinya menggelitik mendengar ucapan Zein. Lelaki ini memang sangat jujur dan berterus terang. Apa yang ada dihatinya akan diutarakannya langsung.


Tiba-tiba muncul ide jahil dalam benak Senja.


" Tapi, aku merasa tidak yakin untuk melanjutkan hubungan ini lebih jauh. Hatiku merasa tidak nyaman dan tenang ketika bersamamu. Aku merasa asing saat berada didekatmu! ucap Senja dengan mimik yang Sangat-sangat serius tetapi sesungguhnya hatinya sedang tertawa.


Zein diam tidak menanggapinya. Hatinya tidak ingin mempercayai ucapan Senja, meski dia tahu hal itu bisa saja terjadi.


" Apa kamu yakin dengan ucapanmu itu? Tanya Zein dengan pasrah.


Menyakitkan jika sampai hal itu terjadi, tapi dia harus mampu untuk menerimanya. Tentu saja dengan hati yang tidak rela.


" Sepertinya aku yakin, aku percaya dengan kata hatiku! tegas Senja lagi membuat Zein semakin terpuruk.


Zein menunduk, lemas tak berdaya. Rasanya tak terkatakan. Apakah harus berakhir sebelum semuanya dimulai?


Lalu Zein menegakkan kepalanya. Sebagai pria sejati dia tidak boleh terlihat lemah. Dia harus kuat dan tegar.


" Aku tidak mungkin memaksa kehendakku kepadamu. Apapun keputusanmu aku akan mendukungnya. Aku hanya ingin kau bahagia. Dan jika kamu bahagia tidak bersama dengan diriku maka aku harus berani melepaskanmu! Pasrah Zein.


Senja pun tidak tega melihat wajah sendu Zein. Wajah itu terlihat sedih dan sayu.

__ADS_1


Rupanya cukup sandiwaranya kali ini.


__ADS_2