
Anneth sedang duduk berhadapan dengan Jeremy di sebuah cafe. Secangkir kopi hitam setia menemaninya.
" Kamu yakin tidak ingin mendapatkan cintamu kembali? Anneth mencoba mempropokasi Jeremy. Setelah pada akhirnya Jeremy memutuskan tidak akan mengikuti kemauan wanita itu. Jeremy tidak akan pernah bekerja sama dengan wanita licik itu untuk mendapatkan cintanya dengan cara yang salah.
" Aku sudah memutuskannya dan keputusanku tidak dapat diganggu gugat! ucapnya dengan tegas.
" Hemmm... Kamu memang tidak layak untuk mendapatkan cinta Senja. Kamu tidak punya kualifikasi untuk itu! Anneth mengejek Jeremy berharap pria itu terpancing dan emosinya naik sehingga berubah pikiran.
" Maksud kamu apa?
" Kamu lemah, tidak ada perjuangan. Bagaimana kamu bisa menjaga Senja jika kamu saja tidak bisa diandalkan. Kamu menyerah sebelum berjuang. Wanita manapun pasti tidak akan mau memiliki pacar seperti kamu! Ejek Anneth lagi.
Jeremy menyeringai.
" Kamu pikir omongan kamu akan mempengaruhi keputusanku ? Gitu. Aku tidak selicik kamu tapi aku juga tidak sebodoh itu. Asal kamu tahu, cintaku bukan cinta nafsu seperti yang kamu miliki. Cintaku tulus dan suci. Karena itu aku selalu menginginkan orang yang kucintai hidup bahagia. Dan jika dia bahagia dengan orang lain maka aku akan merelakannya dengan orang lain.!
" Waahh.... Daebak, Marvelous, awesome,.... kata apa lagi yang harus ku sematkan untuk kamu. Pria berhati tulus! Ejek Anneth sambil bertepuk tangan.
" Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan bukan?
Anneth menghela napas berat. Usahanya mempropokasi Jeremy gatot "gagal total ". Senja memang sangat beruntung dicintai oleh orang-orang yang berhati tulus seperti mereka. Rasa iri, cemburu kembali menggoda hatinya, sehingga kebenciannya kepada Senja semakin memuncak.
Sebelum Jeremy pergi dari hadapan Anneth, dia menyampaikan sesuatu kepada wanita itu.
" Tapi kamu harus ingat satu hal. Ini peringatan untuk kamu. Jangan pernah berpikiran untuk melakukan sesuatu yang buruk untuk Senja. Jangan pernah coba-coba untuk melukai Senja hanya untuk memenuhi hasratmu yang jahat itu.! ancamnya.
Anneth terdiam tak menggubrisnya. Tapi dalam hatinya dia mengatakan sebaliknya.
Anneth Priscilla Lim
Tidak mungkin dia menerima kekalahan begitu saja. Seorang Anneth harus mendapatkan apa yang dia inginkan. Bagaimanapun caranya.
Jeremy beranjak dari sana. Ditinggalkannya Anneth sendirian menikmati kopi hitam pahit yang semakin pahit karena rencananya yang tidak berhasil.
Jeremy sendiri merasa kagum pada dirinya sendiri. Dia tidak menyangka akan berkata seperti itu kepada Anneth. Ternyata dia berhati lapang. Tak disangkanya dia bersikap bijaksana dan mampu melawan godaan jahat yang hampir saja menjeratnya.
Jeremy tersenyum bangga pada dirinya. Dan mengatakan kata-kata pujian kepada dirinya sendiri.
" Kamu hebat Jeremy. Kamu benar-benar hebat.!
__ADS_1
Jeremy
Sementara itu Senja dan Zein sedang menikmati pemandangan sore yang sangat istimewa. Keindahan cahaya aurora di sore ini begitu menakjubkan. Seperti nama Senja Aurora, gadis-gadis yang indah dan lembut, langit sore ini pun terlihat indah dan lembut.
Mereka berdua duduk di tepi pantai, memandang langit senja diiringi suara debur ombak berbuih. Suatu pemandangan yang luar biasa.
Sambil merangkul tubuh Senja dengan kehangatan dan cinta, Zein menggenggam jari jemari mungil itu.
Zein pun mengatakan sesuatu kepada Senja.
" Sayang, aku berharap semoga kelak kita akan selalu hidup bersama hingga hari tua, saling mencintai dalam suka dan duka hidup ini! ucap Zein dengan penuh harapan.
Perkataan Zein memang terdengar biasa saja tetapi bagi Senja ucapan-ucapan Zein itu adalah impian dan masa depan cinta mereka.
Senja yang memejamkan matanya, merenungkan setiap perkataan Zein dan meresapkannya dalam hatinya.
" Iya sayang, semoga Tuhan mendengarkan doa kita.! balas Senja.
Senja di sore itu menjadi saksi cinta suci mereka. Memang takkan mudah tetapi juga tidak akan sulit jika dihadapinya bersama. Saling terbuka, saling percaya dan setia.
" Sayang, apa kamu sudah siap untuk pesta pernikahan kita bulan depan.?
Dengan sedikit malu Senja menjawabnya.
" Aku siap sayang!
Zein semakin mengeratkan pelukannya. Membawanya semakin dalam, erat dan hangat.
" Aku sudah tidak sabar lagi menunggu hari itu tiba.! bisiknya di telinga Senja. Senja yang merasa geli tersenyum manja.
Seminggu sebelum hari-H pernikahan Zein dan Senja, kartu undangan sudah disebarkan. Gedung hotel sudah dipersiapkan untuk acara resepsi. Romo Paul adalah orang pertama yang dihubungi karena beliau yang akan memberkati acara pernikahan di dalam Gereja.
Teman-teman Senja yang dikirimikan undangan tidaklah seberapa karena memang Senja tidak memiliki banyak teman. Hanya rekan-rekan kerjanya dulu sewaktu masih bekerja di kantor Zein. Sedangkan undangan dari pihak Zein tentu saja banyak. Tidak hanya rekan bisnis saja tetapi juga keluarga besar Hanggono.
Zein ingin upacara pernikahan yang sakral ini berlangsung dengan hikmat dan berjalan dengan lancar. Jangan sampai ada yang menghalangi dan mengganggu selama acara berlangsung.
Tidak tanggung-tanggung EO yang dipakai adalah EO terkenal dan sudah sering digunakan oleh para pejabat dan artis-artist terkenal.
Zein menginginkan pesta pernikahan yang sempurna. Meski Senja sebenarnya mengharapkan pesta pernikahan yang sederhana.
__ADS_1
Tapi dia tahu jika Zein tidak akan memberikannya pesta sederhana saja. Dia akan berusaha untuk memberikan yang terbaik.
Selama beberapa hari ini Zein begitu sibuk untuk mengurus persiapan pernikahan mereka. Sedangkan Senja tidak diperbolehkan untuk ikut mengurusi pernikahan mereka.
Zein tidak ingin Senja merasa terbebani, sehingga akhirnya harus kelelahan dan sebagainya. Senja hanya cukup mempersiapkan diri dan mempercantik diri agar terlihat menawan di pesta nanti.
Zein yang begitu bersemangat mempersiapkan pesta pernikahannya itu nampaknya antusias dan bahagia.
Biasanya calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan akan terlihat gugup, atau takut. Namun Zein malah sebaliknya.
Semangatnya yang membara menyembunyikan rasa gugup dan takut yang biasanya melanda para calon pengantin yang hendak melangsungkan pernikahan.
Jeremy yang juga mendapatkan kartu undangan menatap nanar pada undangan yang ada dihadapannya sekarang ini.
Senja Aurora dan Mark Zein Hanggono.
Kedua nama itu disandingkan begitu indahnya di dalam kartu undangan berwarna silver berbingkai bunga lily bunga kesukaan Senja.
Dimana bunga lily melambangkan kesucian dan keperawanan.
Jeremy membayangkan Seandainya namanya dan nama Senja yang disandingkan disana, betapa bahagianya hidupnya. Tapi apa daya. Kenyataannya tak seindah khayalan.
Berat hatinya untuk memenuhi undangan itu karena dia tidak yakin apakah bisa melihat Senja mengikrarkan janji suci pernikahannya dengan pria lain.?
Tapi atas nama cinta dan persahabatan dia harus pergi dan memberi dukungan kepada Senja. Menunjukkan ketulusan hatinya jika dia benar-benar telah rela hati melepaskan cintanya.
Dengan demikian dia bisa membuktikan dirinya adalah seorang pria yang bertanggung jawab. Pria yang bisa dipercaya.
Berbeda halnya dengan Anneth. Setelah menerima undangan pernikahan itu, emosinya tidak dapat dikendalikan. Kartu undangan itu langsung di robeknya berkeping-keping. Amarahnya meluap-luap. Benda-benda yang ada dihadapannya dilemparnya hingga hancur tak berbentuk lagi. Kamarnya hancur berantakan seperti kapal pecah.
Anneth berteriak sekencang-kencangnya meluapkan amarahnya yang tak terkendali.
Air matanya tertumpah ruah melampiaskan sesak dalam dadanya.
Sungguh, bukan ini yang diharapkannya. Akhirnya hanya bisa meratapi kemalangan takdirnya yang tidak akan bisa memiliki Zein seperti yang diinginkannya.
Sedangkan Senja sendiri, dia lebih banyak merenung. Membayangkan hari-hari yang akan dilalui olehnya setelah menikah nanti. Zein sudah menyampaikan kepada-Nya jika Surat Perjanjian Nikah yang pernah dulu mereka sepakati tidak berlaku lagi. Akan tetapi jika Senja masih membutuhkan sesuatu untuk dijadikan sebagai pegangan untuknya, Zein memberikan kesempatan kepada Senja untuk membuat Surat Perjanjian baru sesuai dengan keinginan Senja.
Namun bagi Senja semua itu tidak penting. Cinta, kepercayaan dan kesetiaan sudah cukup baginya untuk menghadapi dunia ini.
Senja hanya berpasrah dan berdoa semoga Sang Maha Cinta selalu memberikan keberaniannya dan kekuatan untuk menghadapinya.
__ADS_1