Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Walaupun Aku Mau Tapi Aku Tak Bisa


__ADS_3

Kini Jeremy dan Senja duduk berdua saling berhadapan. Jeremy senang karena Senja ternyata memenuhi permintaannya. Terlepas dari Zein mengetahuinya atau tidak yang pastinya Senja sedang duduk bersama dengannya di tempat ini.


Bukan karena masih ada cinta ataupun perasaan maka Senja ada disana saat ini. Tetapi hanya karena sebuah penghargaan atas nama kemanusiaan. Penghormatan terhadap persahabatan. Meski mereka tidak pernah mengikrarkan hubungan persahabatan.


Perihal mengungkapkan perasaan cinta untuk yang kesekian kalinya dan meminta atas nama cinta untuk menjalin kembali hubungan yang telah pernah terputus, hanya memiliki dua jawaban. Pertama, bersedia untuk memaafkan kesalahan di masa lalu dan menerima kembali jalinan cinta agar dipersatukan lagi meski tak lagi memiliki rasa yang sama. Pasti akan ada perbedaan.


Sedangkan yang kedua, memaafkan kesalahan masa lalu tetapi menolak untuk menjalin kembali hubungan yang telah berakhir. Kalau harus mengingat masa lalu memang banyak kenangan yang indah. Tetapi kenangan yang pahit tak juga kalah terkenang karena sakitnya terasa dan nyata.


Jeremy telah mengungkapkan apa yang menjadi maksud dan tujuannya. Seperti yang pernah diucapkannya dari kemarin-kemarin. Tidak berubah. Hanya satu itu pintanya. Ingin mengulang kembali kisah masa lalu yang sempat terputus.


Senja menatap nanar ke dalam sudut mata yang memancarkan cinta itu. Dan tatapan mata bening Senja seakan mengutarakan semuanya. Tapi Jeremy memilih untuk pura-pura tidak tahu. Dia ingin mendengar langsung dari bibir mungil nan manis berwarna merah muda itu.


" Kau pastinya tahu apa yang harusnya menjadi jawabanku kan.? Senja mengerjapkan matanya.


" Ya,. " Jeremy dapat merasakannya. Jawaban yang seakan menarik dirinya ke dalam lubang kehampaan yang terdalam.


Senja menjawabnya tetapi tak lepas dari senyuman khasnya yang lembut, sedikit memabukkan. Raut wajahnya yang teduh selalu memberikan sensasi hangat yang merindukan.


" Sebesar apapun rasa sayang dan cinta yang kamu miliki saat ini untukku, tetap tak bisa mengubah kenyataan yang ada sekarang ini. Walaupun aku mau menuruti keinginan hatimu tetap saja aku tak bisa melakukannya.!


Jeremy menurunkan tatapannya ke bawah meja bundar yang memberi jarak diantara mereka. Mungkin dia senang memandang ujung sepatunya.


" Jadi tak kan ada harapan lagi untuk kita mengulang kembali?


Senja mengangguk. Pelan tapi pasti.


" Tapi, kita masih bisa berteman kan?


" Ya, tentu saja kita berteman. Itu tak bisa diubah. Kecuali kamu ingin mengubahnya juga.! Senja masih menatap Jeremy dengan tatapan yang sama.


" Aku mengerti sekarang. Dan aku berharap bisa menerimanya dengan lapang hati. Karena untuk saat ini sedikit berat untuk mengakuinya.! Dengan berat hati Jeremy harus menerimanya. Terpukul dan terpuruk. Sudah pasti. Rasa percaya dirinya yang terlalu angkuh itu tidak mampu menyelamatkannya dari rasa sakit hati.


Jeremy mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Seakan mencari pertolongan setidaknya hiburan yang dapat memberinya sedikit kelegaan.

__ADS_1


Tempat itu tidak terlalu ramai hanya beberapa pasangan kekasih yang sedang menikmati waktu bersama kekasih mereka sembari menikmati coffee or tea penghangat suasana yang menghangatkan hubungan diantara mereka.


" Mungkin waktunya sudah cukup bagi kita berbincang hari ini. Aku harap kamu bisa membuka hati untuk cinta yang lain. Dan aku yakin itu mudah untuk kamu. Kamu bisa mendapatkan wanita cantik manapun yang kamu mau, karena banyak wanita di luar sana yang ingin menjadikanku kekasih hatimu! hibur Senja.


" Tapi kenyataannya kamu menolak ku. Karena kamu berbeda dari wanita lain!


Senja tak menjawabnya.


Jeremy pun tak lagi menanggapinya. Mereka terdiam dalam kebisuan nada. Tapi hati Jeremy berbisik-bisik seakan merutuki diri sendiri.


" Fiuhhh....! Tarikan nafas Jeremy memecah kesunyian diantara mereka.


" Mengapa penyesalan selalu datang terlambat? Tanya Jeremy tetapi sebagai tanda keluhan semata.


" Karena kalau datang di awal namanya pendaftaran! balas Senja mencoba mencairkan suasana.


Jeremy yang gagal fokus, tidak ngeh dengan perkataan Senja sehingga tidak menanggapinya dengan baik.


Senja yang mencoba untuk melucu akhirnya tak bisa menghibur suasana hati yang sendu.


Senja akhirnya meminta ijin dari Jeremy untuk pulang. Minuman yang ada dihadapannya sudah diseruputnya sampai habis.


Jeremy mengangguk. Hatinya masih ingin menghabiskan waktu bersama Senja tapi Senja sendiri sudah tak lagi ingin berlama-lama dengannya.


Luka itu pasti. Tapi dia harus berpura-pura baik-baik saja.


Senja bangkit dari duduknya. Sebelum meninggalkan Jeremy dan tempat itu Senja mengatakan sesuatu kepadanya.


" Aku berharap kita baik-baik saja sepertinya biasanya. Apa yang sudah baik biarlah tetap seperti itu adanya tak perlu lagi mengubahnya kembali.! Setelah berkata demikian Senja pun pergi melangkahkan kakinya meninggalkan Jeremy sendiri dalam diamnya.


Jeremy hanya mampu memandangi kepergian Senja. Ditatapnya punggung Senja sampai tubuh itu menghilang dari penglihatannya.


Semesta tak berpihak kepadanya sekali lagi. Di bawah temaram lampu yang bersinar di malam ini, hatinya yang telah patah dan remuk redam, hancur tak karuan.

__ADS_1


Berusaha pendamkan rasa sakit dan kecewa dalam hati meski.


Namun pada akhirnya dia harus menyerah. Dan berakhir dengan menghabiskan waktu dalam kesunyian. Merenung, menata hati agar tidak putus asa.


Sementara itu, Zein sudah tak sabar menunggu Senja. Cemburu itu lumrah. Mengingat pria yang dijumpai oleh Senja adalah mantan cinta pertamanya. Jika seharusnya Zein tidak mengijinkan Senja untuk pergi, tapi dia merasa itu bukan hal yang baik.


Dia tidak ingin mengecewakan Senja dan menganggapnya sebagai pria yang over protective. Pria kolot yang hanya bisa menghakimi orang lain ketika tak berkenan dihatinya.


Ketika Senja sudah kembali, baru saja pintu terbuka, Zein yang sudah menunggu di depan pintu langsung bangkit dan memeluk Senja.




Senja yang mendapat perlakuan yang mengejutkan tiba-tiba seperti itu membuat dirinya terpaku sejenak. Dan sesaat kemudian dia di sadarkan diri.


" Sudah tidak sabar lagi ya untuk bertemu?! Ucap Senja.


Zein yang membenamkan kepalanya di pundak Senja , berkata demikian,


"Sudah berakhir kan? Senja mengulum senyum. Lalu dibelainya rambut hitam Zein.


Ada rindu disana. Rindu akan bermanja, sebagai bukti ketulusan cinta.


" Semuanya sudah berakhir. Tak perlu lagi kamu berpikiran akan terjadi yang tidak kamu inginkan.! Senja mencoba memberi ketenangan bagi Zein Dan mencoba menghibur hati Zein.


Zein pun mengangkat kepalanya. Lalu memandang lekat kepada Senja.


Tak berbicara tetapi tatapan itu mengungkapkan lebih dari kata-kata.


Senja tak hanya membalas tatapan itu dengan tatapan kosong Zein. Mata mereka yang beradu seakan saling berkata-kata satu sama lain.


" Tak perlu lagi kamu takut karena mimpi-mimpi buruk yang kamu ciptakan sendiri.! ucap Mata bening Senja yang masih meragu itu.

__ADS_1


" Hanya satu yang masih ku khawatir kan! Kehilanganmu adalah hal yang paling menakutkan bagiku!


Ya, perpisahan. Siapa pun tidak inginkan adanya perpisahan.


__ADS_2