
Setelah memikirkan matang-matang, dan yakin dengan keputusannya, Jeremy pun memilih untuk kembali ke luar negeri. Dia akan mengawali kembali apa yang telah dimulainya dulu di tempat itu.
Lagi pula dia juga harus bisa melupakan semua kenangannya bersama dengan Senja. Dan cara yang terbaik adalah untuk sementara menjauh dari Senja. Menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang sudah lama dirintisnya. Setidaknya dia bisa bekerja sambil melupakan cintanya.
Namun sebelum pergi dia ingin bertemu Senja untuk yang terakhir kalinya. Salam perpisahan terakhir. Meski mereka harus berpisahnya setidaknya mereka berpisah dengan baik-baik. Tidak seperti dulu berpisah tanpa kepastian dan meninggalkan kenangan yang kurang baik.
Jeremy pun mengirimkan pesan singkat di telvon genggamnya kepada Senja. Dengan catatan kalau boleh berdua saja.
Membaca pesan Jeremy, awalnya membuat Senja ragu untuk mengiyakannya. Tetapi demi sebuah pertemanan Senja tidak ingin mengecewakan Jeremy.
Senja pun meminta ijin dari Zein agar mengijinkannya untuk bertemu dengan Jeremy untuk yang terakhir kalinya. Zein yang sebenarnya tidak rela Senja bertemu lagi dengan Jeremy tidak mau jika Senja seperti merasa dikekang olehnya, akhirnya mengijinkan Senja bertemu dengan eks rivalnya itu.
Senja pun datang ke tempat yang telah disepakati olehnya. Jeremy terlihat sudah menunggu disana. Sebuah cafe bertema out door dan street food.
" Makasih ya sudah bersedia datang! ucap Jeremy sambil mempersilahkan Senja duduk.
Senja hanya membalasnya dengan senyuman. Untuk sesaat mereka saling terdiam tanpa bicara. Pikiran mereka bertualang entah kemana. Atau mungkin saja pikiran mereka berkecamuk dengan berbagai macam hal yang begitu sulit untuk diungkapkan.
Jeremy meneguk minuman yang ada dihadapannya itu. Kerongkongannya seperti panas kering dan butuh sesuatu yang menyegarkan. Jeremy menarik napas kemudian menghembuskannya perlahan.
" Aku tidak menyangka kalau kita akhirnya memang harus berpisah lagi! Jeremy memainkan jari-jemarinya sambil menunduk. Seakan tidak sanggup menatap wajah Senja untuk yang terakhir kalinya.
Senja pun hanya membisu. Sepertinya dirinya sedang menghimpun kekuatan untuk bisa mengikhlaskan kepergian Jeremy agar Jeremy dapat melanjutkan masa depannya.
" Sebenarnya, aku belum rela harus berpisah denganmu, tapi aku juga tidak bisa memaksakan kehendakku sendiri. Karena akan ada yang terluka.! Wajah Jeremy begitu sendu. Wajah yang sebenarnya belum rela untuk kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya.
Meskipun dirinya menganggap cintanya kepada Senja adalah sesuatu yang begitu berharga, akan tetapi dulu dirinya pernah menyia-nyiakannya. Sehingga tak layak baginya jika ia memaksakan kehendaknya untuk sekarang ini.
__ADS_1
Jalan satu-satunya adalah mengikhlaskannya.
" Maafkan aku Je, aku yang tidak bisa sabar untuk menunggu lebih lama lagi! Senja berkata seolah-olah dirinya yang salah untuk semua hal yang terjadi.
Jeremy menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin Senja menyalahkan dirinya sendiri atas perbuatan yang tidak dilakukannya.
"Bukan salahmu. Jangan pernah menganggapnya demikian. Kamu pantas untuk mendapatkan kebahagiaan.! Jeremy meyakinkan Senja jika bukan dirinya yang pantas disalahkan untuk kejadian ini.
Sinar mata Senja yang sendu menunjukkan kesedihan yang tak bisa ditutup olehnya. Walau bagaimanapun pasti masih ada sedikit sisa cinta yang pernah singgah dihatinya untuk Jeremy.
Jeremy bisa merasakannya. Senja adalah seorang gadis yang perasa. Hatinya gampang tersentuh namun tidak mudah untuk jatuh cinta. Hatinya yang lembut dan penyayang membuat dirinya tidak sanggup untuk menyakiti hati orang lain apalagi membuatnya bersedih. Dan jika dihadapkan dengan situasi seperti ini, hatinya yang paling menderita.
Ya, dia akan menderita karena merasa telah menyakiti seseorang meski sebenarnya bukan.
"Ini adalah permintaanku untuk yang terakhir kalinya, kalau kamu tidak keberatan.! Jeremy mencoba mengutarakan keinginannya untuk yang terakhir kalinya. Setidaknya sebagai kenangan perpisahan. Senja pun mengangguk mengiyakan meski dia sendiri belum tahu apa permintaan terakhir Jeremy.
Senja pun mengangguk kembali mengiyakan apa yang diminta oleh Jeremy. Tanpa dimintai ulang, Senja segera berdiri dan mendekat kepada Jeremy. Jeremy yang mengerti akan maksud Senja, juga langsung berdiri. Mereka berdua saling mendekat, saling memberi senyuman, dan akhirnya saling memberi kehangatan sebuah pelukan kasih sayang.
Jeremy memeluk Senja dengan penuh cinta dan kehangatan. Mencurahkan semua perasaan yang disimpannya di hatinya selama ini. Senja pun membalasnya dengan cinta dan kehangatan, anggap saja sebagai hadiah perpisahan untuk Jeremy.
Namun baru beberapa saat saja mereka berpelukan tiba-tiba ada tangan kekar yang berusaha memisahkan mereka berdua.
" Apa-apaan ini, kalian saling berpelukan seperti ini? Zein muncul dengan wajah marah dan kesal.
Senja dan Jeremy yang tidak menduga akan kedatangan Zein hanya saling menatap dengan tatapan perasaan bersalah. Bersalah bukan karena mereka melakukan suatu kesalahan tetapi rasa bersalah karena tidak memikirkan sebelumnya ada orang lain yang mungkin tidak menyukainya.
" Jadi ini tujuan kamu mengajak Senja ketemuan di tempat seperti ini? Supaya kamu bisa memeluknya sesuka hatimu? Zein meluapkan kekesalannya.
__ADS_1
Senja yang tidak ingin ada keributan di tempat itu segera mendekati Zein dan merangkulnya.
" Jangan salah paham. Bukan seperti yang kamu pikirkan! Senja mencoba memberikan penjelasan.
" Aku tahu kalau kamu tidak punya maksud apa-apa sayang. Tetapi lelaki itu jelas-jelas ingin menggunakan kesempatan ini untuk kepuasannya! cerca Zein. Tatapan amarahnya kepada Jeremy sungguh tidak ditahannya.
Jeremy yang tidak ingin memancing keributan berusaha untuk tetap diam. Tidak berniat sama sekali berbicara untuk membela dirinya dihadapan Zein. Karena dia tahu jika dia menjawab hanya akan menambah keruh suasana.
" Kenapa kamu diam saja seperti tidak melakukan apapun?
Meski dituding demikian Jeremy tetap berusaha untuk tidak terpancing emosi. Dia tidak ingin mendapat kesan buruk dalam benak Senja jika dia membalas atau menjawab Zein.
Senja sendiri mencoba untuk menenangkan Zein agar lebih tenang dan tidak terbawa amarah.
"Senja sayang, kalau saja aku tidak mengikuti kamu dan mengawasi kamu, pria brengsek ini pasti akan melakukan hal yang lebih buruk lagi sama kamu. Karena dia tahu kamu itu gadis yang baik dan lemah lembut, bisa dikibuli oleh dia! Zein berkata sesuai dengan spekulasinya sendiri.
Meskipun sebenarnya yang diucapkannya itu tidaklah benar tetapi karena didorong oleh rasa cemburu membuatnya berpikir negative terhadap Jeremy.
"Zein, tolong jangan berpikir negative dulu tentang orang lain. Itu tidak baik. Karena aku yakin kalau kamu bisa berpikir lebih bijaksana dalam hal itu! Senja mengingatkan Zein.
Dan Jeremy pun buka suaranya, apalagi melihat Senja yang berusaha untuk membelanya dihadapan Zein.
" Aku minta maaf jika perbuatanku menyinggung perasaanmu. Tapi aku dan Senja tidak bermaksud untuk melakukan hal buruk. Ini murni sebagai ungkapan perpisahan.! Jeremy memberi penjelasan.
"Tentu saja Senja tidak akan melakukan hal yang buruk, tapi kamu sedang memanfaatkan keadaan untuk itu. Iya kan?? tuduh Zein.
Jeremy hanya mendesah, karena dia tahu ketika cemburu dan amarah sedang menguasai seseorang maka akan sulit untuk diingatkan.
__ADS_1
Lalu tanpa berkata-kata lagi, Zein langsung membawa Senja, meninggalkan Jeremy dalam kesendiriannya. Dan Jeremy hanya bisa menyaksikan Senja berlalu dari hadapannya tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.