
Setelah beberapa hari di rumah sakit, Senja sudah diperbolehkan untuk kembali ke rumah. Tapi harus tetap dalam pengawasan dokter. Dalam kondisinya yang lupa ingatan Zein tidak mau mengambil resiko jika Senja harus tinggal sendiri di rumahnya. Maka Zein berinisiatif akan membawa Senja ke apartemennya. Dia sendiri yang akan menjaga dan merawat gadis itu sampai dia sembuh dan ingatannya pulih kembali.
Sesampainya di apartemen Zein, Senja yang memang merasa asing dengan lingkungan baru awalnya merasa ragu untuk tinggal bersama dengan Zein. Meskipun mereka sudah bertunangan tetapi tinggal bersama sebelum menikah sepertinya masih terasa tabu bagi kebanyakan orang. Taping bagi Zein, tidak peduli dengan omongan dan penilaian orang lain. Karena yang menjalani kehidupannya hanyalah dia dan Senja, bukan orang lain.
Dia akan tinggal dengan calon istrinya bukanlah hal yang salah. Kecuali dia tinggal bersama wanita yang tanpa status yang jelas. Mungkin itu baru salah. Tetapi begitu pun, orang lain tidak punya hak untuk mengatur kehidupannya. Dengan siapa dia harus tinggal dan apa saja yang dilakukannya? Itu adalah urusan pribadinya. Yang pastinya dia tidak merugikan orang lain dan tidak mencampuri urusan orang lain.
Ini bukan pertama kalinya Senja mengunjungi apartemen Zein, namun karena dia sedang amnesia tetap saja tempat itu terasa asing baginya.
Diawasinya setiap sudut di ruangan itu. Mencoba mengingat kenangan apa yang pernah terjadi di tempat itu. Beberapa bingkai photo yang menggantung di tembok tak juga memberinya sedikit pertanda.
Lalu di tatapnya lamat-lamat sebuah bingkai photo yang berisi gambar dirinya dan Zein di tepi danau dengan sileut langit senja berwarna kuning keemasaan. Sekilas nampak seperti sebuah lukisan.
Senja mencoba menghadirkan ingatannya akan suasana dan tempat dalam photo itu. Tapi usahanya sia-sia. Yang ada kepalanya terasa pusing dan berdenyut.
Kemudian Senja berlalu dari sana. Mengitari ruangan yang lain. Berharap ada memori yang singgah dan mengingatkannya akan kenangan yang pernah mereka lalui bersama.
Zein hanya mengekor dari belakang, memperhatikan setiap gerak-gerik Senja. Ada perasaan bahagia di hatinya karena Senja tidak menolaknya disaat ingatannya tentang mereka telah hilang sama sekali.
Ingatannya bisa saja hilang tetapi hati, perasaan dan cinta akan tetap bersemayam disana. Hanya saja saat ini sedang tersembunyi di suatu tempat dan terkurung oleh yang disebut amnesia.
Setelah cukup puas berkeliling di setiap sudut ruangan di apartemen itu, Zein mengajak Senja untuk beristirahat sejenak di dalam kamarnya. Zein menyiapkan kamarnya sendiri untuk Senja supaya Senja merasa lebih nyaman. Sedangkan dirinya akan beristirahat di kamar tamu. Tapi untuk mandi dan keperluan lainnya tetap dilakukan di kamarnya itu.
Jadi dia tidak perlu memindahkan barang-barangnya ke kamar tamu. Hanya saja lemari pakaiannya harus dikosongkan satu ruang untuk tempat pakaian Senja.
Ada kesenangan tersendiri dalam hati Zein. Apakah kejadian ini adalah kutukan atau malah sebuah berkah baginya? Tapi yang pasti ada sensasi yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Satu kata yang pasti. Bahagia!
Untuk saat ini itulah yang dirasakannya. Bahagia bisa bersama dengan pujaan hatinya. Bahkan tinggal bersama. Bahagianya tak terkatakan.
__ADS_1
Meskipun Senja sedang lupa ingatan, untuk urusan yang lain Senja sama sekali tidak lupa. Semuanya masih sama seperti dulu. Dia masih Senja yang sama yang hobby melukis dan menulis puisi. Senja yang berhati lembut dan ceria. Senja yang pintar memasak meski tidak begitu suka memasak.
Hanyalah kenangan masa lalu yang telah hilang dari ingatannya. Bukankah ini kesempatan bagus bagi Zein untuk mengawali kenangan-kenangan baru bersama Senja?
Dengan demikian masa lalunya bersama dengan orang lain juga akan sirna untuk selamanya!
..."Menunggumu dalam hening menjadikanku dapat memahami hidupku tanpa dirimu...hadirmu memberi warna dan rasa bagi jiwa rapuhku...meski kita tidak pernah tahu akhir dari cerita hidup kita. Apakah bersama selamanya ataukah akan berakhir dengan perpisahan. Dalam hening aku telah mengerti bahwa cinta sejati pantas untuk diperjuangkan tapi bukan untuk dipaksakan. "...
Zein menorehkan tinta hitam di atas kertas putih buku diarynya. Entah mengapa kata-kata ini muncul begitu saja dalam benak pikirannya. Mungkin karena melihat situasi dan kondisi Senja yang sedang hilang ingatan sehingga untuk sementara ini dia pasti mengalami kesepian karena merasa sendiri.
Namun Zein sudah bertekad. Jika dia akan memberikan rasa nyaman kepada Senja agar dia tidak merasakan kesepian berada diantara mereka yang terasa asing baginya.
Zein akan berusaha memulihkan ingatan Senja dengan perhatian dan kasih sayang.
Segala hal yang berhubungan dengan kenangan yang pernah mereka lalui bersama akan coba di ulangnya kembali. Dengan harapan memorinya kembali seperti sedia kala.
Istilah anak muda sekarang, Zein masuk kategori bucin. Bucin tingkat dewa. Yang rela melakukan apa saja demi orang yang dicintainya.
Senja meletakkan raganya yang masih terasa lelah di atas tempat tidur Zein yang terbilang mewah itu. Berbeda dengan spring bed yang dia punya yang hanya dipakai oleh kalangan menengah ke bawah. Beda status, beda tingkatan, beda kenyamanan. Anggap saja shio keberuntungan sedang memihak Senja saat ini.
Sehabis pulang dari rumah sakit Senja belum menyentuh makanan apapun untuk di isi di perutnya yang sudah mulai mengempis itu. Zein pun memesan makanan lewat aplikasi gofood. Senja adalah seorang vegetarian, tidak mengkonsumsi makanan berbahan daging. Zein pun memesan makanan vegan. Syukurnya, makanan vegan sudah mulai menjamur karena semakin banyak peminatnya. Selain sehat, kreasi makanannya juga beragam sehingga tidak membosankan. Malah rasanya lebih lezat dari pada makanan berbahan daging-dagingan.
Tidak sampai 35 menit pesanan makanan sudah tiba. Tidak lupa susu kedelai hangat kesukaan Senja. Zein memang benar-benar bucin. Hampir semua kesukaan Senja dihafalnya dengan baik dan benar.
Melihat Senja yang tidur-tidur ayam, segera dihidangkannya makanan di atas meja. Setelah terhidang dengan rapi dia pun membangunkan Senja dan mengajaknya untuk makan.
Senja cukup terharu melihat perlakuan Zein langsung menurutnya sangat luar biasa. Perhatiannya sungguh menyentuh hati Zein. Lalu muncul pertanyaan menggelitik dalam benaknya,
__ADS_1
" Apakah dulu pria ini juga bersikap demikian kepadanya sebelum dia mengalami hilang ingatan.? Atau hal ini hanyalah sebuah ungkapan rasa bersalah yang ingin ditebusnya.?
Tapi setidaknya pria ini sudah berusaha berbuat baik untuk menyenangkan hatinya jadi sudah selayaknya untuk dihargai.
Dan sebagai bentuk penghargaannya, Senja menyantap setiap makanan yang dihidangkan dan mengajaknya dengan senang hati.
Melihat Senja makan dengan begitu lahapnya membuat hati Zein terasa bahagia. Namun pikiran usilnya juga merasuki benaknya.
" Dia ini doyan Apa lapar ya??? Zein senyum-senyum sendiri dengan pikirannya yang menerawang kemana-mana.
Hari kedua setelah tinggal bersama Zein.
Senja masih betah mengurung diri di dalam apartemen Zein. Suasana di apartemen ini sangat nyaman dan tenang. Ruangannya bergaya klasik dengan lantai dan dinding marmer serta batuan alam lainnya. Ruang dapur bergaya minimalis tapi elegan dengan peralatan dapur yang lengkap membuat siapapun betah berlama-lama disana. Ada juga ruangan perpustakan mini dengan lemari dinding buku yang cukup banyak mengoleksi beraneka jenis buku-buku. Pencahayaan di setiap ruangan juga terlihat nyaman, tidak terlalu terang tidak juga redup. Beberapa lampu hias berwarna-warni juga dipasang di berbagai sudut ruangan menambah suasana yang menarik dan menenangkan. Rapi dan bersih serta wangi. Tentu saja penghuni di dalamnya akan merasa betah dan nyaman.
Senja bahkan berani berpikir,
" Jika kami benar-benar adalah tunangan, dan kelak suatu saat akan menikah berarti aku juga akan tinggal di rumah ini. Betapa menyenangkan sekali? Senja memikirkannya sambil tersenyum senang.
Bahkan saat Senja hanya seorang diri berada disana, karena Zein harus bekerja di kantor walau hanya untuk setengah hari karena dia tidak merasa aman meninggalkan Senja seorang diri seharian penuh, dirinya tidak merasa takut atau cemas. Dirinya memang tidak merasakan khawatir ataupaun gelisah tapi bagi Zein tidak sama sekali.
Meninggalkan Senja seorang diri dalam keadaan amnesia tidaklah menyenangkan baginya.
Itulah sebabnya dia lebih memilih untuk bekerja setengah hari saja agar bisa menemani Senja. Karena saat ini prioritas utamanya adalah kesembuhan Senja.
Lagi pula Kehadirannya di perusahaan hanyalah sekedar formalitas saja. Dia sebagai CEO, pucuk pemimpin perusahaan besar bebas untukmu melakukan apa saja.
Tapi Zein banyak belajar dari Senja untuk bertanggung jawab atas segala pekerjaan, sebesar atau sekecil apapun pekerjaan yang kita lakukan.
__ADS_1
Bahkan sebagai seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan bagi seluruh karyawannya. Pemimpin yang baik dan bertanggung jawab akan dihormati, dihargai dan dikagumi oleh seluruh anggotanya. Menjadi teladan yang baik yang akan selalu digugu dan ditiru oleh siapa saja.