Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Tak Selamanya Mendung Itu Kelabu.


__ADS_3

Baru kali ini Senja benar-benar menikmati liburan yang sesungguhnya. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang sangat melelahkan jiwa dan raga.


Senja tak menyia-nyiakan kesempatan liburan kali ini. Dan satu hal yang pasti dia sangat bersyukur karena Zein lah yang membuatnya dapat menikmati liburan ini.


Zein, pria yang tak pernah ada dalam daftar masa depannya. Tetapi pria itu kini hadir tak hanya menjadi masa depannya tetapi juga menjadi akhir dari masa depannya. Bagi Senja, Zein bukan lagi sekedar pasangan hidupnya tetapi bahkan telah menjadi separuh dari dirinya. Jika separuh bagian dari dirinya itu hilang maka dirinya akan menjadi cacat tak sempurna lagi.


Senja mengembangkan senyum tipisnya sembari membayangkan moment-moment paling membahagiakan dalam hidupnya saat bersama dengan Zein.


Saat Zein membuatnya merasa kesal dan jengkel setelah dipikir-pikir moment itu malah moments yang menyenangkan saat dikenangkan kembali. Senyum bahagia itu tidak menguap begitu saja dari bibir mungil itu. Karena memori yang terlukis dalam benaknya mengenang masa-masa yang telah mereka berdua lewati.


Dulu mendung yang menyelimuti hari-harinya, selalu terlihat kelabu, dingin dan sendu. Tapi bukanlah mendung yang menjadikannya kelabu. Suasana hati yang tak menentu kadang membuat pikiran menjadi salah.


Senja akhirnya menyadari bahwa segala kepahitan, kesedihan dan air mata yang dulu menyapa hidupnya adalah suatu cambuk untuk menjadikannya kuat dan berani untuk menghadap dunia ini.


Ketika sedang menikmati khayalannya, Senja dikejutkan oleh sentuhan lembut Zein. Senja menoleh lalu memandang wajah itu dengan lembut. Tatapan itu teduh tapi mendalam. Zein merangkul raga Senja. Sambil menutup netranya dan menghirup aroma tubuh Senja yang wangi segar.


" Hai sayang, apa yang sedang kamu lakukan? Zein bertanya tanpa melepaskan pelukannya.


Senja memegang kedua tangan yang merangkulnya itu lalu menjawab.


" Hanya ingin menikmati keindahan alam semesta ini saja sayang.!


Zein semakin mengeratkan rangkulannya. Tak ada lagi kata-kata. Hanya ingin menikmati suasana seperti. Memeluknya dan mencium aroma tubuh yang menggoda itu. Senja pun tak ingin melepaskannya. Digenggamnya erat dan semakin erat.


Sedangkan di suatu tempat lain...


Jeremy baru saja mendarat kembali dari luar negeri. Ada pekerjaan yang harus dikerjakannya di tanah air. Dan pekerjaan itu ternyata berhubungan dengan perusahaan Zein. Selama ini Jeremy selalu berhubungan dengan asisten Zein setiap kali membicarakan tentang kerja sama antar kedua perusahaan. Sehingga dia tidak tahu jika dia sedang bekerja sama dengan orang yang telah merebut cintanya. Ketika menghubungi asisten Zein, dia diberitahu jika Zein masih dalam perjalanan liburan. Dan dua hari kedepan baru akan kembali. Jeremy yang tidak terlalu pusing soal itu hanya mengiyakannya saja. Dia akan menunggu sampai pemimpin perusahaan itu kembali dari urusan liburannya.


Dan sambil menunggu, Jeremy berencana ingin mengunjungi Senja dan mengajaknya untuk sekedar refreshing. Mungkin dengan menonton di bioskop atau mengajaknya candlelight dinner. Meski hubungan mereka tak lebih dari sekedar pertemanan saja. Tapi tidak ada salahnya memulai dari awal. Siapa tahu perasaan itu akan tumbuh lagi. Meski tak dapat dipungkiri jika Senja tak lagi sendiri. Telah ada orang lain yang mengganti posisinya saat ini.


Namun karena di dalam hati Jeremy, masih tersimpan rasa cinta meski dirinya telah berusaha untuk melupakannya. Dia mengira kepergiannya ke luar negeri kali ini dapat menghapus kenangannya bersama Senja.


Ternyata yang ada rindu di hatinya semakin memuncah. Semakin dalam rasa itu menggerogoti hati dan pikirannya. Pertemuan mereka yang terakhir nyatanya masih membekas dalam ingatannya. Wajah Senja tak mampu dihapusnya dari dalam pikirannya.


Betapa kuat daya tarik cinta yang ditinggalkan oleh Senja di dalam dirinya. Semakin ingin dilupakan semakin melekat dalam pikirannya.


Apakah ini adalah ujian cinta yang sedang Tuhan ujikan kepadanya?

__ADS_1


Jeremy menyadari jika kesalahannya yang dulu memang tak pantas dimaafkan.


Dan kini dia merasakan betapa sakitnya menahan rindu dalam penantian yang tidak tahu kapan akan berakhir.


Saat ini seluruh jiwa raganya sedang dilanda mendung. Gelap dan dingin. Dia butuh kehangatan dari sinar mentari pagi yang cerah. Dan sinar mentarinya itu adalah kasih sayang dan cinta dari seorang Senja.


Mendung di hatinya itu dia yakin akan kembali cerah. Suatu saat nanti jika dia mau lebih bersabar dan berusaha.


Setelah usahanya yang kemarin untuk mengikhlaskan cinta Senja kepada orang lain gagal. Jeremy kemudian hanya meyakini jika mendung dalam hidupnya tak selamanya akan kelabu.


Jeremy sudah menyusun rencananya dengan sedemikian rupa. Semoga saja bisa meraih hatinya Senja untuk kembali kepadanya. Karena sejujurnya dalam hati kecil Jeremy sangat menolak untuk melepaskan Senja.


Setelah puas menikmati waktu berdua dengan kekasih hatinya itu, Zein dan Senja kembali ke rutinitasnya masing-masing.


Apalagi tidak lama lagi mereka telah memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka sebagai kekasih.


Hubungan mereka telah meningkat dari hubungan kekasih menjadi pasangan hidup selamanya. Zein tak ingin menunggu lebih lama lagi. Jangan menunggu sampai Senja diambil kembali oleh orang lain darinya. Jika sampai hal itu terjadi dia tidak tahu penderitaan seperti apa yang akan dialaminya.


Zein sudah berada dikantornya. Asistennya telah menunggunya dengan tumpukan berkas yang harus dikerjakan olehnya. Liburan kali ini telah berhasil membuatnya melupakan pekerjaannya sehingga akhirnya menumpuk seperti ini.


Diraihnya benda pipih itu dan dilihatnya pesan dari Senja. Segera dibacanya.


" Hari ini aku datang bawa makan siang ya. Jadi jangan coba-coba untuk makan siang di kantin kantor atau dimanapun! Bunyi pesan tersebut. Zein tersenyum lucu membaca pesan dari Senja yang terkesan seakan sedang mengancam.


Dibalasnya pesan itu , " Baik sayang. Perintah dilaksanakan.!


Dibacanya ulang pesannya itu. Merasa lucu. Zein malah menertawakannya. Seakan menertawakan dirinya sendiri.


Asistennya sampai bingung sendiri melihat bossnya itu senyum-senyum sendiri tanpa sebab. Efek jatuh cinta memang membuat orang kehilangan akal sehatnya.


Zein akan bertemu dengan Jeremy hari ini. Janji meeting yang sudah direncanakan jauh hari sebelumnya. Zein tidak pernah berpikir jika Jeremy yang akan ditemuinya kali ini adalah Jeremy yang sama mantan dari kekasihnya itu. Mereka memang pernah bertemu secara langsung dan saling bertatap muka. Tapi Zein tidak terlalu ingat wajah itu karena dia memang orang yang sulit mengingat wajah orang lain kalau hanya bertemu sekali saja.


Apalagi, jika orang yang dimaksud dianggap kurang penting maka dapat dipastikan wajah tersebut tidak akan diingatnya.


Tepat pukul 13.35, Jeremy memasuki gedung kantor perusahaan Zein. Dengan berpakaian layaknya seorang pemimpin.


Jeremy Al Savio.

__ADS_1



Melihat pria tampan tentu tak disia-siakan oleh kaum hawa yang ada di dalam gedung itu.


Anggap saja hari ini mereka sedang menyaksikan aktor tampan sedang lewat shooting.


Zein pun keluar dari kantornya menuju ruangan meeting yang ada di gedung itu.


Zein Arkarna Hanggono.



Tapi tetap saja, bagi semua kaum hawa penghuni di gedung itu, boss mereka Tuan Zein adalah yang paling tampan sedunia. Tidak ada duanya.


Jeremy yang sudah masuk terlebih dahulu ke ruang meeting langsung duduk dengan gayanya yang berwibawa. Bukan dibuat-buat, tapi memang Jeremy selalu tampak berwibawa dalam kondisi apapun. Kecuali saat sedang bersantai. Karena ada saatnya Jeremy bersikap cuek tak peduli dengan fashion.


Zein yang baru masuk ruangan dengan sikap coolnya, tanpa sapa atau salam. Sebagai tuan rumah harusnya dia bersikap lebih ramah lagi kepada tamunya. Tapi bagi Zein ramah tamah sama saja dengan basa-basi. Dan itu bukan tipenya.


Jeremy sudah lama tahu tentang karakter boss besar itu dari cerita para pengusaha lain yang pernah bekerja sama dengannya. Jadi tidak mengherankan ketika Jeremy melihat sikap Zein yang cuek dan dingin itu.


Zein yang didampingi oleh asistennya itu langsung menyerahkan dokumen-dokumen kerja sama yang akan disepakati oleh mereka berdua. Kerja sama untuk yang pertama kali ini tentunya banyak poin-poin yang harus dipertimbangkan. Agar kedua belah pihak saling menguntungkan.


Setelah menyepakati isi perjanjian dalam dokumen tersebut, Jeremy dan Zein saling berjabat tangan sebagai tanda persetujuan. Tak lebih dari 5 detik Zein langsung melepaskan jabat tangannya. Kembali ke mode gayanya yang dingin dan angkuh.


Tapi ternyata diam-diam Zein mengamati wajah itu. Ekor matanya sekali-sekali melirik Jeremy. Wajah itu sepertinya pernah dilihatnya. Tapi di mana?


Namun karena sikap cueknya dia pun mengabaikannya.


" Semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar! Ucap Jeremy sebelum meninggalkan ruangan itu.


Zein hanya membalas dengan anggukan kecil hampir tak kelihatan. Jeremy pun mengundurkan diri dan pamit meninggalkan ruangan itu. Tapi sebelum Jeremy menghilang di balik pintu, dia berbalik dan menoleh ke arah Zein.


" Sebenarnya ini di luar kerja sama kita, tapi tidak ada salahnya saya menyampaikan sesuatu. Tolong sampaikan salam saya untuk Senja. Beritahu dia kalau saya kembali lagi. Ciao....! Jeremy melambaikan tangannya dengan salam dua jari.


Dan alangkah terkejutnya Zein mendengar Jeremy menyebut nama Senja. Teringatlah ia dengan pemilik wajah itu. Ya, dia adalah orang itu. Siapa lagi kalau bukan Jeremy, mantan kekasih Senja. Mantan cinta pertama Senja. Zein hendak mengatakan sesuatu tetapi Jeremy telah menghilang dari sana. Zein hanya bisa mengepalkan tangannya dan mendesah kesal karena partner bisnisnya itu ternyata orang yang tidak disukainya. Bagaimana mungkin dia bisa menyukai orang yang pernah mengisi hati Senja ?


Dan sekarang mereka malah menjalin kerja sama. Entah kesialan apa yang akan dihadapinya nanti? Dengan kesal Zein meninggalkan ruangan itu, sampai lupa kalau asistennya menunggunya sejak dari tadi.

__ADS_1


__ADS_2