Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Kita Bertemu Lagi.


__ADS_3

Senja tidak pernah terpikirkan akan bertemu kembali dengan Jeremy. Perpisahan yang terakhir, Jeremy sendiri telah mengatakan jika dia sudah mengikhlaskan Senja. Dia akan merelakan cintanya itu bersama dengan pria lain yang dicintainya.


Maka Senja tak lagi mengingat atau memikirkan tentang Jeremy. Dia berusaha untuk melupakan masa lalunya itu meski masa lalunya itu telah memberinya banyak kenangan yang indah. Karena sekarang Senja ingin fokus pada masa depannya. Masa depan yang bahagia bersama dengan Zein.


Senja yang telah berjanji akan membawakan Zein makan siang terlihat sedang bersiap-siap akan pergi ke kantor Zein. Bekal makan siang yang istimewa. Karena dibuat dengan bumbu rasa cinta.


Senja diantar oleh sopir pribadi yang sudah disiapkan oleh Zein untuk mengantar kemanapun Senja hendak pergi.


Hanya butuh waktu 15 menit untuk tiba di kantor Zein. Senja langsung turun setelah mobil berhenti di depan kantor perusahaan Zein dengan bekal makan siang di tangan kanannya.


Dengan senyum sumringah, Senja berjalan memasuki gedung tinggi dan besar itu. Senja berjalan menuju ke arah lift. Dan menunggu sampai lift terbuka. Setelah pintu lift terbuka, Senja segera masuk lalu menekan nomor lantai gedung yang akan didatanginya.


"Ting...! bunyi pintu lift menandakan lantai yang dituju telah sampai lalu pintu lift terbuka dan Senja melangkah hendak keluar. Dan baru saja Senja melangkah keluar dari lift, muncullah dihadapannya seseorang yang ingin masuk ke dalam lift. Mata mereka saling beradu pandang dan membuat langkah mereka terhenti dan alangkah terkejutnya mereka berdua bahkan membuat mereka mematung karena saling menatap satu sama lain dengan pikiran tidak percaya akan apa yang mereka lihat saat ini.


" Senja! Jeremy! ucap mereka berdua bersamaan.


Dalam waktu persekian detik mereka hanya saling menatap saja. Tanpa kata dan suara. Zein yang muncul tiba-tiba dan melihat pemandangan aneh itu dan tentunya sangat tidak dia sukai, dengan segera melangkahkan kakinya ke arah Senja. Dan langsung menarik tangan gadis itu.


" Sayang kamu sudah datang? ucapnya membuyarkan tatapan kedua insan itu.


Senja yang tersadar, mengalihkan perhatiannya kepada Zein yang sudah membawanya berada disampingnya dan merangkul pundaknya.


" Eh.. iya..! jawabnya terbata.


" Masuk yuk, sudah lapar nih. Nggak sabar mau menikmati masakanmü. Pasti enak sekali! Tanpa basa-basi, tanpa menyapa, Zein membawa Senja dari hadapan Jeremy. Sorotan matanya seakan berkata kepada Jeremy,


" Dia pacar gue, calon istri gue. Jangan harap loe punya kesempatan untuk merebutnya kembali.?


Jeremy yang melihat sorot mata itu seakan mengerti apa maksudnya. Jeremy pun berkata dalam hatinya,


" Aku akan membuat Senja jatuh cinta lagi kepadaku, karena aku adalah cinta pertamanya. Nikmati saja saat ini, mungkin besok kamu tidak ada lagi kesempatan untuk itu!


Senja hanya terdiam melihat kedua pria itu yang sedang bertikai dalam pikiran mereka masing-masing. Walau bagaimanapun kedua pria itu pernah singgah di hatinya. Yang satu adalah cinta pertamanya dan yang satu lagi adalah cintanya saat ini.

__ADS_1


Senja berjalan mengikuti langkah Zein tanpa sepatah katapun. Tangan Zein mencengkeram pergelangannya dan menariknya dengan langkah agak cepat. Sehingga Senja harus berjalan seperti sedang setengah berlari mengimbangi langkah kaki Zein. Sedangkan Jeremy hanya bisa memandanginya hingga keduanya hilang dari pandangannya.


Baru kemudian dia masuk ke dalam lift yang sudah terbuka kembali.


Jeremy tidak menyangka akan bertemu dengan Senja secepat itu. Padahal baru saja dia mengingatkan Zein untuk menyampaikan salamnya kepada Senja. Malah orangnya langsung muncul dihadapannya. Jeremy senyum-senyum sendiri membayangkan pertemuan tadi. Tatapan Zein yang terlihat tidak senang melihat perjumpaan mereka berdua seperti menandakan ada sedikit rasa takut. Takut Jeremy akan membawa kabur Senja dari hidupnya.


Jeremy cukup bahagia walau hanya pertemuan singkat seperti tadi. Belum lama dia meninggalkan Senja tetapi gadis itu terlihat semakin manis dan dewasa. Membuat Jeremy semakin ingin memilikinya. Hatinya memang egois dalam hal ini.


Dan untuk itu dia akan berusaha, memasuki ruang hati Senja dan membuat hati itu jatuh cinta lagi kepadanya. Karena Jeremy yakin hati gadis itu masih menyimpan memori indah cinta mereka dulu. Senja adalah tipe gadis yang sangat setia. Sulit baginya untuk mencintai seseorang, akan tetapi disaat dia sudah mencinta maka hatinya tidak akan berpaling kepada hati yang lainnya. Buktinya hampir sekian tahun lamanya Senja masih menyimpan cinta untuknya. Kalau bukan karena Zein yang mengganggu hatinya, Senja masih akan tetap mencintainya dan menjadi kekasihnya hingga sekarang ini.


Di ruangan Zein,


Senja membuka bekal makan siangnya dan memberikannya kepada Zein. Aroma makanan itu sangat berselera sehingga mengundang rasa lapar perut orang yang mencium aromanya.


Zein pun langsung menyantapnya.


Ekspresi wajahnya terlihat menikmati dan senang sekali.


" Kamu suka? Tanya Senja meyakinkan dirinya.


Zein pun menganggukkan kepalanya karena mulutnya berisi makanan.


Senja senang melihat tingkah Zein yang seperti kekanak-kanakan seperti itu. Terlihat menggemaskan baginya.


Zein melahap semua makanan yang Senja bawakan. Tak bersisa sedikitpun. Bahkan asistennya yang melihatnya begitu lahapnya menyantap makanan tersebut tidak digubrisnya sama sekali.


Sekedar basa-basi menawarkan kepadanya pun tidak. Membuat laki-laki yang sebenarnya juga berwajah tampan itu bertanya-tanya,


" Selezat apa sih makanan tersebut sampai-sampai bosnya makan seperti orang kelaparan yang tidak makan selama beberapa hari.?


Bahkan asistennya itu berusaha mengalihkan perhatian sang boss agar meliriknya sedikit saja dengan berpura-pura batuk.


" Uhuk...uhuk... uhuk...!

__ADS_1


Tapi tetap saja tidak ada reaksi sama sekali. Zein tak menggubrisnya. Baginya saat ini waktunya hanyalah untuk menikmati makanan yang telah disediakan oleh Senja


Senja sampai senyum-senyum sendiri melihat kelakuan kedua orang itu.


Tak disangkanya boss besar dan angkuh itu ternyata bisa juga bertingkah seperti anak kecil.


Setelah semua makanan yang Senja hidangkan ludes tak bersisa, Senja pun merapikannya kembali. Setelah ini dia akan kembali lagi ke rumah. Tujuannya hari ini hanya satu, menghantar makan siang untuk kekasih jiwanya itu. Sehingga Zein bisa melanjutkan pekerjaannya kembali.


Sebenarnya dalam hatinya, Senja ingin bertanya tentang Jeremy yang ada di kantor Zein dan secara kebetulan bertemu dengannya. Tapi urung karena Senja melihat jika Zein kurang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan Jeremy. Sedangkan tadi saja wajahnya sudah terlipat-lipat berkerut tanda tidak suka melihat Senja dan Jeremy bersama meski mereka tidak melakukan apapun.


Baru kali ini Senja berhadapan dengan pria yang cemburuan. Jadi kurang tahu dengan baik cara menyikapinya. Dulu saat bersama Jeremy, Senja tidak pernah melihat ada tanda-tanda cemburu padanya. Karena memang Jeremy bukanlah tipe pria pencemburu.


Sangat berbeda sekali dengan Zein. Yang bisa dengan mudah cemburu pada sesuatu yang sebenarnya tidak patut untuk dicemburui. Tapi Senja masih tetap saja menyukainya. Karena Senja tahu satu hal dan dapat dia rasakan jika prianya itu sangat mencintainya sehingga membuatnya menjadi sosok pencemburu.


Selama cemburunya itu tidak membabi buta, Senja akan menerima segala tingkah laku kekasihnya itu.


Sedangkan Jeremy, semenjak perjumpaannya dengan Senja di kantor Zein, wajah Senja selalu membayang dihati dan pikirannya.


Jeremy membayangkan jika saat ini dia memang berdua dengan Senja. Duduk berdua dengan romantis di atas bangku Taman, sangat rapat . Tangan mereka berdua saling menggenggam dengan mesra.


Diraihnya tangan kanan Senja ditariknya lalu diciumnya. Senja tersenyum manis menerima perlakuan yang mesra dari Jeremy.


Jeremy menangkup wajah Senja dengan kedua telapak tangannya. Ditariknya wajah itu sehingga semakin mendekat dan tubuh mereka pun merapat. Keduanya saling menatap dengan tajam. Jeremy semakin mendekatkan wajahnya hingga kedua wajah itu hanya berjarak beberapa centi saja. Dan tanpa menunggu lama, Jeremy pun mencium bibir merah dan seksi itu. Senja yang sedikit terkejut, hanya termangu dan mata yang tertutup rapat.


Dan Jeremy tersadar dari khayalannya. Tiba-tiba dia merindukan pemilik bibir manis itu. Dulu mereka hanya cipika cipiki saat mereka masih berpacaran. Bibir manis itu belum pernah dicecapnya sama sekali. Mungkin dulu mereka masih polos-polos dan masih tabu dengan hal itu.


Tapi kini, dia ingin sekali mengecap bibir seksi itu. Meski dia yakin jika Zein pasti sudah pernah mengecapnya. Mana mungkin pria seperti Zein akan melepaskan begitu saja. Senja bukanlah pacar pertamanya dan pasti pengalamannya tak perlu diragukan lagi.


Jeremy mengacak-acak rambutnya tanda kekesalan dihatinya. Senja telah membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih dan tenang. Dan Jeremy kesal karena hanya bisa menjadi penonton kemesraan antara Senja dengan Zein .


Menyesal dan lagi-lagi menyesal. Mengapa dulu dia begitu teganya meninggalkan Senja tanpa satu kata pun.


" Semoga masih bisa diperbaiki seperti dulu lagi! harap Jeremy dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2