Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Aku Tidak Percaya


__ADS_3

Dunia seakan sedang berputar tidak pada porosnya. Semuanya seperti terbalik dan tidak pada tempatnya. Mendengar setiap perkataan demi perkataan yang pria itu ucapkan membuat diriku sama sekali tidak percaya. Sulit untuk kupercayai kebenarannya. Tapi aku yang sama sekali tidak bisa mengingat kejadian yang sebenarnya juga tidak bisa membantahnya.


Seberapa keras pun aku berusaha untuk mengingatnya, tak jua muncul dalam ingatanku.


Yang ada kenyataannya sekarang adalah aku harus bisa menerima jika diriku sudah tidak suci lagi. Dan kesucianku ini yang telah direnggut olehnya. Aku ingin marah atau membencinya tapi aku seakan tidak bisa dan tidak tahu harus marah seperti apa atau membencinya karena apa. Karena menurut dari perkataannya kejadian itu terjadi atas dasar suka sama suka, mau sama mau. Tidak ada unsur paksaan ataupun ancaman dari siapapun.


Meski aku sama sekali tidak bisa menerimanya begitu saja. Lalu kepada siapa aku harus mengeluhkan segala keluh kesahku ini. Segala harapan yang dulu masih kucoba untuk pertahankan kini harus pupus sudah. Harapan tentang si dia yang suatu saat akan kembali membawa cinta yang dulu dibawanya pergi. Karena seandainya dia kembali bagaimana aku bisa mempertanggung jawabkan keadaanku sekarang ini. Apakah dia bisa menerima keadaanku dengan segenap hatinya?


Kubuka buku harianku dan kucurahkan perasaan hatiku untuk saat ini.


"Langit malam ini bisu seperti hati kita yang pilu.


Meski candra dan kartika berbinar kilau hati kita tetap kelabu.


Mata hati pun terpejam terkulai ragu disaat bayang harapan terlihat semu.


Cinta tak lagi benang penyatu dikala rasa sudah jadi beku.


Hanya diam kita terpaku tanpa nada yang biasa terlantun merdu.


Akankah kita biarkan memori berlalu terhempas bersama bayu?


Dalam heningku yang syahdu ijinkan ku lepas bayang bayangmu.


Bila hasratmu ingin lenyap tanpa hadirku jangan lambaikan jemarimu.

__ADS_1


Agar ingatan masa lalu tidak menghalangi mimpimu.


Jalinan hati yang rapuh akan tetap hancur bersama waktu."


Dan sekarang aku harus menimbang-nimbang tawaran yang disampaikan oleh pria itu.


Dengan santainya dan tanpa merasa beban sedikitpun, pria itu memberi tawaran padaku untuk menikah dengannya. Pernikahan kontrak. Dia merasa perlu bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi kepada diriku. Dia bersedia untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya jika seandainya kelak aku hamil. Untuk itu dia bersedia menikah jika aku juga bersedia.


Dalam kebimbangan hati aku tidak tahu harus membuat pilihan yang seperti apa. Karena menikah bukanlah perkara yang mudah. Meski dikatakan hanya pernikahan kontrak. Tapi bagiku suatu pernikahan adalah ikatan yang suci dan sakral. Karena selama ini aku selalu mengharapkan pernikahan yang sah dan sekali seumur hidup.


Tapi untuk saat sekarang ini, aku dihadapkan pada pilihan yang sangat, sangat, sangat sulit. Jika aku setuju untuk pernikahan kontrak ini maka ada masanya pernikahan ini akan berakhir. Namun jika aku menolaknya, maka aku harus menyiapkan diri lahir dan bathin untuk menerima segala konsekuensinya.


Karena keduanya bukan suatu pilihan yang menguntungkan maka aku harus memikirkannya denganku matang dan tepat. Aku harus perlu menenangkan diri, memeriksa bathin dan mempersiapkan diri untuk setiap situasi yang buruk sekalipun.


Aku ingin bertanya pada seseorang dan meminta masukan dari orang-orang yang berkompeten untuk itu. Tapi kepada siapa? Ahhh... inilah jika selama ini hanya fokus pada pekerjaan kurang peduli dengan orang-orang yang ada disekitarku. Bahkan teman-teman terbaik yang dulu berada bersamaku seperti sudah mulai menjauh.


Jika aku sekarang mencoba untuk meminta pendapat mereka, aku sendiri tidak yakin jika diriku akan menerimanya. Maafkan aku teman-teman.!


Tapi masih ada satu harapan. Romo Paul. Pembimbing rohaniku selama ini. Hanya saja sudah beberapa bulan aku tidak menghubungi beliau. Semoga saja beliau tidak terkejut mendengarkan curhatanku yang sedikit mengagetkan ini.


Saat aku sedang sibuk dengan pekerjaanku, tiba-tiba seorang rekan kantor mendatangiku dan berkata kepadaku,


" Sera, ( nama panggilan kecilku) kamu dipanggil boss tuh ke ruangannya. Kayaknya emergency." ucapnya dengan nada menakutkan.


Akupun mengangguk dan segera beranjak dari sana tapi sebelumnya aku mengucapkan terima kasih kepada rekanku itu.

__ADS_1


Pintu ruangan boss terlihat terbuka, aku tetap mengetuk pintunya dan segera masuk meski belum disuruh masuk.


" Siang Pak." sapaku dengan sopan layaknya karyawan dengan boss. Si boss duduk dengan bertopang dagu dan melihatnyapun ke arahku dengan tatapan tajam.


" Bagaimana pertemuanmu kemarin dengan Tuan CEO Muda itu?


Dengan sikap yang santai dan tenang aku membalas tatapan boss besar kami ini. Lalu aku menjawab apa adanya.


" Kerja samanya berjalan lancar Pak, mereka mau kita menangani proyek-proyek yang akan diadakan oleh perusahaan mereka. Mereka akan menyediakan segala keperluan dan inventaris barang-barang yang kita butuhkan dalam proyek."


" Bagus sekali. " timpal sang bossku ini dengan wajah bahagianya.


" Kamu memang selalu bisa diandalkan. Kamu akan dapat bonus yang layak untuk itu! pujinya kemudian.


Tentu saja hatiku sedikit bangga atas pujian dan reward yang dijanjikannya. Hanya saja aku tidak tahu pasti bagaimana reaksi si boss besar ini jika dia tahu pembicaraan apa lagi yang kami bicarakan selain proyek kerja sama tersebut.


Apakah dia akan tetap bangga, senang, memuji diriku atau dia malah shock, marah atau tidak terima.? Entahlah. Yang pasti untuk saat ini cukup hanya menjadi rahasia bagi diriku sendiri.


Malam ini, aku berencana akan pergi menjumpai Romo Paul. Aku harus segera berkonsultasi untuk memutuskan pilihan hidupku. Apalagi aku harus segera memberikan jawaban secepatnya agar aku bisa membuat keputusan bagi kelanjutan hubungan kami.


Setelah menyiapkan diri aku pun segera menjumpai Romo Paul di Biaranya.


Sekarang aku berada di sebuah ruangan doa kecil atau disebut Kapela, yang disediakan di Biara St. Fatima. Biara kecil ini sangat tenang dan hening. Meski berada di tengah-tengah kota yang hiruk pikuk, namun jika kita masuk kedalam suasananya sangat berbeda sekali. Sangat tenang, hening dan nyaman.


Setiap kali aku merasa hatiku resah, gelisah, hampa dan lelah, aku selalu menyempatkan diri untuk menyepi ditempat ini. Menimba kekuatan baru. Karena setelah sepanjang waktu sibuk dengan pekerjaan duniawi, bathin juga perlu ketenangan, keheningan dan menyepi. Merefleksikan segala pengalaman hidup dan menimba kekuatan baru untuk memulai kembali jadwal-jadwal harian yang terkadang terlalu menyibukkan. Yang membuat kita lupa untuk merenung sejenak.

__ADS_1


Dalam keheningan ini, aku mencoba merefleksikan hidupku beberapa minggu ini. Banyak hal yang telah kulewatkan, kurang kuhargai, dan kurang kusyukuri. Dengan mengenang semuanya di saat ini aku menemukan suatu yang bermakna dalam hidupku.


__ADS_2