
Jeremy terlihat khawatir dan sangat panik. Dengan langkah tergesa-gesa dia menyusuri lorong rumah sakit. Setiap perawat dan dokter yang dijumpainya tak luput dari perhatiannya dan dihujaninya dengan pertanyaan.
" Dokter, Suster. Dimana letak ruangan pasien yang baru saja masuk ke rumah sakit akibat kecelakaan beberapa saat yang lalu.?
Beberapa diantara mereka yang tidak tahu, menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepala. Sedangkan beberapa diantaranya menunjukkan kepadanya ruang unit gawat darurat.
Dan memang di ruang unit gawat darurat sedang ditangani pasien kritis akibat kecelakaan lalu lintas yang baru saja masuk beberapa jam yang lalu.
Jeremy pun menunggu dengan setia di luar pintu ICU. Meski dia belum melihatnya tapi dia hanya mencoba meyakini dirinya sendiri jika yang dicarinya ada di dalam sana.
Hampir tiga jam lebih Jeremy menunggu disana. Hingga akhirnya seorang dokter dan seorang perawat keluar dari dalam ruangan itu yang masih mengenakan seragam operasi.
" Dokter bagaimana dengan pasiennya Dok? Tanya Jeremy dengan begitu cemas dan was-was.
" Pasiennya tidak parah kan dok? Nampak wajah Jeremy dipenuhi kabut kekhawatiran yang begitu berat.
" Puji Tuhan, kedua pasiennya sudah melewati masa kritis.!
Mendengar perkataan sang dokter ada sedikit rasa lega dalam hati Jeremy.
Pintu ruang operasi terbuka. Beberapa perawat keluar sambil mendorong dua kereta ranjang yang diatasnya terbaring dua insan manusia pria dan wanita.
Keduanya adalah Zein dan Senja. Yang dalam perjalanan mereka menuju hotel tempat mereka akan makan malam berdua, sebuah truck kontainer yang muncul tiba-tiba dan menabrak mobil yang mereka kendarai.
Tabrakan itu memang sangat cukup berbahaya, karena mengakibatkan mobil yang ditumpangi oleh Zein dan Senja nampak remuk dan hancur. Pastinya penumpang didalamnya akan mengalami luka yang sangat parah atau bahkan bisa saja meninggal.
Zein dan Senja mengalami luka yang sangat parah. Sehingga harus dioperasi dan mendapat perawatan khusus.
Mendengar penjelasan dari dokter yang menangani Senja dan Zein, Jeremy sangat begitu terpukul sekali melihat kondisi keduanya yang menyedihkan. Apalagi melihat keadaan Senja. Jeremy seakan tidak sanggup melihat kondisi Senja yang harus dibantu alat-alat bantu rumah sakit yang memberinya kesempatan untuk terus bertahan hidup.
Sedangkan Zein, mengalami patah tulang belakang. Yang kemungkinan besar akan membuatnya lumpuh. Dan karena lukanya yang begitu parah dapat dipastikan dia mengalami lumpuh total.
Entah cobaan apalagi yang harus dihadapi oleh kedua insan Tuhan itu?
__ADS_1
Mereka berdua di rawat dalam satu ruangan kamar. Sedangkan sopir yang membawa mereka malam itu ajaibnya hanya mengalami luka-luka kecil dan lecet. Karena memang bagian belakang mobil yang mengalami kerusakan paling parah.
Setiap hari Jeremy dengan setia mengunjungi dan menjaga Zein dan Senja. Sesekali diganti oleh pihak kerabat keluarga Zein yang masih bisa dihubungi.
Sedangkan Senja, yang hidup sebatang kara hanya dikunjungi oleh teman-temannya yang masih berhubungan dengannya. Romo Paul yang sesekali berusaha menyempatkan waktunya untuk mengunjungi Senja dan Zein karena jarak yang cukup jauh dan juga banyak tugas yang harus dikerjakannya.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Kini sudah 7 minggu lamanya Zein dan Senja masih terbaring di rumah sakit. Beruntungnya Zein masih memiliki orang-orang yang bisa dipercaya untuk menjalankan perusahaannya.
Jeremy pun memutuskan menunda keberangkatannya ke luar negeri demi merawat Senja. Karena untuk saat ini hanya itulah yang bisa dilakukannya sebagai bentuk rasa sayangnya kepada Senja.
Entah rencana apa yang sedang Tuhan sediakan bagi Senja dan Zein. Seakan-akan kehidupan keduanya selalu dihantui oleh banyak cobaan.
Ujian demi ujian hidup tak kunjung hilang dari kehidupan mereka.
Namun Tuhan takkan menutup mataNya ketika hambaNya selalu berharap kepada-Nya.
Usaha dan kerja keras takkan pernah sia-sia. Setelah tiga bulan lamanya, Senja pun terbangun dari tidur panjangnya. Jeremy yang begitu bahagia karena penantian dan harapannya dikabulkan oleh Sang Kuasa.
Karena seingatnya dia dan Zein sedang dalam satu mobil. Mereka sedang menuju sebuah hotel untuk makan malam berdua. Tapi kenapa sekarang dia malah berbaring di tempat tidur rumah sakit.
Dan betapa terkejutnya dirinya ketika dilihatnya suaminya juga berbaring di dekatnya dan tak sadarkan diri.
Titik air mata menetes dari kedua bola matanya. Betapa hancur hatinya melihat suaminya sekarat seperti itu.
Jeremy yang menyaksikannya juga merasa tak sanggup melihat kesedihan Senja. Dia bisa merasakan sakit dan luka di dalam hati Senja saat ini.
Senja mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Dengan sigap Jeremy membantu Senja bangun namun dengan lembut menahan agar Senja tidak turun dari tempat tidurnya.
" Apa yang terjadi? Kenapa Zein tidak sadarkan diri? Rengek Senja dengan hati yang teriris.
Jeremy pun menenangkan Senja agar wanita itu tidak banyak bergerak karena tubuhnya masih lemah. Meski hatinya juga sedih melihat wajah itu begitu menderita.
Selama beberapa hari Senja menjalani terapi berjalan karena selama tiga bulan tubuhnya terbaring jadi butuh latihan gerak agar tidak terjadi efek yang fatal jika langsung dipaksakan untuk digerakkan.
__ADS_1
Senja dengan semangat menjalani terapi karena dirinya sudah tidak sabar ingin bisa segera merawat suaminya yang masih tidak sadarkan diri.
Dan tak butuh waktu yang lama, Senja susah mulai terlihat normal dan lebih sehat dari biasanya. Dirinya sudah tidak sabar ingin segera merawat Zein. Meski Jeremy selalu mengingatkannya untuk lebih fokus dengan kesehatannya terlebih dahulu.
Jika kesehatannya sudah benar-benar pulih dia pun pasti bisa merawat Zein dengan lebih baik. Tapi Senja adalah Senja. Sekali dia berprinsip maka orang lain tidak bisa mengubahnya.
Dengan penuh cinta dan perhatian Senja merawat dan menjaga Zein yang masih terbaring koma. Wajah tampan itu terlihat seperti tertidur meski sedikit pucat dan dingin.
Sesekali Senja memutar musik klasik favorit Zein. Atau dia lain waktu Senja bernyanyi dengan suaranya yang ternyata begitu merdu. Dengan harapan tubuh Zein akan memberi respon terhadapnya.
Senja tak peduli jika usahanya itu sia-sia dan takkan berguna. Dia hanya punya keyakinan dan harapan apapun akan dilakukannya demi kesembuhan Zein.
Jeremy tak membiarkan Senja melakukan semua itu sendirian. Mengingat kesehatannya yang belum pulih total. Dengan setia dia mendampingi Senja menjaga dan merawat Zein.
Ketika Jeremy hanya berdua dengan Zein yang masih koma, dia selalu berbicara kepada tubuh Zein agar segera bangun dari komanya. Seperti kata dokter yang mengatakan jika Zein memang sedang koma dan tidak sadarkan diri tetapi otak dan pikirannya masih bekerja dengan baik. Pasien koma seperti Zein setidaknya masih bisa mendengar dan merasakan keadaan disekitarnya. Hanya saja tubuhnya tidak bisa meresponnya.
Seperti saat ini ketika Senja sedang keluar, Jeremy pun berbicara kepada tubuh Zein yang diam dan membisu.
" Bro, aku sudah cukup sabar ketika merelakan Senja menjadi milikmu. Karena aku yakin kamu bisa membahagiakannya. Tapi kini aku mulai ragu karena kamu sama sekali tidak bisa membahagiakan Senja dengan keadaanmu seperti ini.!
Jeremy terus memandang wajah bisu Zein.
" Jadi aku akan mengatakan dengan sejujurnya, apakah kamu dengar atau tidak. Jika kamu tidak segera bangun dari tidurmu, jangan salahkan aku yang akan merebut Senja darimu.!
" Aku akan menjadikan Senja sebagai istriku dan kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk itu. Aku tidak bisa membiarkan Senja hidup menderita karena mu!
Dengan tekanan suara yang mengancam Jeremy berbicara seolah-olah Zein mendengarkan semua perkataannya.
Tanpa dia sadari akibat dari ucapannya itu, tubuh Zein memberikan reaksi. Jari jemari Zein tiba-tiba saja bergerak refleks meski hanya gerakan kecil yang tidak terlihat jika tak diperhatikan dengan baik.
Mungkin akibat perkataan Jeremy, Zein tidak rela jika Senja harus kembali kepada pria itu. Zein tidak ikhlas istrinya tercinta menjadi milik orang lain.
Jiwa Zein seolah-olah terkukung dalam alam roh sehingga sulit untuk kembali pulang ke raganya. Dan sepertinya harus ada seseorang yang membantunya agar bisa kembali lagi ke raganya.
__ADS_1