Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Senja Berwarna Jingga


__ADS_3

Senja merasa sandiwaranya tidak perlu dilanjutkan lagi. Meski dia masih ingin menguji ketulusan pria itu tapi perlakuannya selama ini cukup membuktikan ketulusan cintanya kepadanya.


Masih ada satu hal yang memang yang ingin dibuktikan oleh Senja tetapi sepertinya dia tidak bisa melakukannya sendirian. Dia butuh bantuan dari seseorang. Dan orang yang tepat untuk itu adalah Zein. Karena itu sandiwaranya akan berakhir saat ini. Tapi Senja penasaran bagaimana reaksi Zein jika mengetahui kalau dia hanya bersandiwara, berpura-pura lupa ingatan.


Malam ini Senja berencana akan mengatakan yang sebenarnya kepada Zein jika dia hanya berpura-pura amnesia. Dia hanya ingin menguji kesetiaan pria itu saja. Senja juga sudah memutuskan, jika Zein marah dan tidak menerima kebohongan yang dibuat olehnya maka Senja akan memilih untuk pergi.


Senja pun menyiapkan makan malam spesial. Zein masih di dalam kamar yang sibuk dengan pekerjaannya. Meski pikirannya tidak bisa fokus mengingat perkataan Senja yang terus terngiang-ngiang di kepalanya.


Apakah hubungan ini harus berakhir secepat ini.? Ahh.... rasanya Zein tidak rela untuk kehilangan Senja. Hatinya telah diserahkan sepenuhnya untuk gadis itu.


" tok.. tok.. tok...! terdengar bunyi ketukan dari balik pintu kamar. Zein meninggalkan pekerjaannya dan membukakan pintu. Senyuman Senja menyambutnya di balik pintu.


" Makan dulu yuk, makanannya udah siap tuh! ajak Senja.


Zein mengangguk dan langsung mengekor Senja dari belakang.


Zein langsung duduk dengan manis. Saat ini dia ingin menuruti setiap permintaan Senja. Ingin menghabiskan semua waktunya berdua dengan Senja. Mungkin kesempatan ini tidak akan terulang lagi di masa depan. Apalagi mengingat keinginan Senja yang ingin berpisah dengannya.


Senja melayani Zein dengan penuh perhatian layaknya seorang istri yang sedang melayani suaminya. Zein menatap Senja bagai tak berkedip sedikitpun. Netranya seakan tidak mau berpaling untuk menatap Senja.


Hatinya yang terharu dengan perlakuan Senja membuatnya tak dapat menahan perasaan yang begitu meleleh dan mellow.


Zein pun bangkit dari tempat duduknya, dengan mata berkaca-kaca dipeluknya Senja dari belakang. Dan pria dewasa itu, yang dikenal berhati dingin, cuek dan arogan ternyata takluk oleh cinta seorang gadis bernama Senja. Tiba-tiba netranya berurai air mata. Kepalanya yang disandarkannya di bahu Senja bergetar karena menahan tangis.


Senja bisa merasakan bahwa pria itu sedang menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Senja melihat seorang Zein menangis seperti anak kecil. Senja berbalik memandang Zein dan tidak melepaskan pelukannya sedikit pun. Senja membalas pelukan itu dengan hangat dan penuh kasih sayang.


Dalam dekapan pria cengeng itu Senja membisikkan sesuatu ditelinganya.

__ADS_1


" Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan tetap bersamamu. Aku bersedia untuk menghabiskan seluruh sisa hidupku bersamamu!


Zein menatap bola mata Senja dalam. Nampak binar kebahagiaan terpancar dari sana. Tak dapat menahan getaran cinta dalam hatinya, Zein pun melampiaskannya lewat ciuman mesra. Kedua bibir itu menyatu, lepaskan hasrat dalam hati yang sudah lama terpendam. Mereka berdua mengekpresikan rasa cinta dengan sentuhan lembut dan ciuman mesra.


Sungguh cinta telah mengalahkan ego mereka masing-masing.


Dibelahan bumi lainnya...


Seorang wanita yang pernah jadi masa lalu Zein, kelihatan stress dan frustasi. Bagaimana tidak? Akibat perbuatannya itu malah semakin mendekatkan Senja dan Zein. Rencananya untuk memisahkan keduanya untuk selama-lamanya ternyata gatot "gagal total".


Wanita itu menghancurkan benda apa saja yang ada dihadapannya. Teriakannya memecah kesunyian di dalam kamarnya. Membuat penghuni lain di rumah itu terganggu dengan teriakan cemprengnya itu.


Ya, wanita itu Anneth Priscilla Lim. Mantan kekasih Zein. Dia tidak rela melihat Zein bersama dengan wanita lain. Apalagi wanita itu tidak dapat dibandingkan dengannya. Mana mungkin dia bisa kalah dari seorang wanita biasa seperti Senja. Apa kata dunia jika seorang wanita cantik seperti dia, pujaan hati jutaan pria di dunia ini, ternyata dikalahkan oleh seorang gadis desa untuk mendapatkan cinta seorang pangeran tampan seperti Zein.


Tidak terima dengan kekalahan ini membuat hatinya dirasuki oleh roh jahat. Pikiran dan hatinya yang telah dikuasai oleh kegelapan membuatnya tidak dapat berpikir dengan jernih sehingga membuatnya melakukan tindakan yang sangat jahat. Dia yang telah merencanakan kejahatan untuk mencelakai Senja bahkan yang hampir saja merenggut nyawa wanita itu.


Flashback on....


Waktu itu ketika Senja dalam perjalanan mengunjungi Romo Paul ternyata dia diikuti oleh seseorang. Selama perjalanan orang itu selalu berusaha untuk mencelakakan Senja, tetapi selalu gagal. Setelah Senja pamit pulang dari tempat Romo Paul, sosok tersebut masih saja mengikuti Senja diam-diam.


Senja yang rindu dengan tempat itu khususnya bukit doa "Kasih" mengetuk hatinya untuk berkunjung sejenak ke tempat itu. Sembari menunggu Zein yang datang menjemputnya. Sekian lama dia tidak pernah lagi mengunjungi tempat yang mengesankan itu. Dan hari ini ada kesempatan Senja akan menggunakan waktu ini untuknya mengenang memori zaman dulu.


Senja tidak Sadar jika dirinya sedang diikuti oleh seseorang. Dan nyawanya dalam incaran bahaya. Saat Senja sedang fokus dengan kenangan masa lalunya, dia dikejutkan dengan kehadiran seseorang di tempat itu.


Senja tak mengira akan ada orang lain di tempat itu bersamaan dengan dirinya. Senja tak menganggap curiga sedikitpun akan keberadaan orang tersebut.


Bahkan dengan ramah dan sopan, Senja malah menyapa dan mengajak orang itu berbicara.

__ADS_1


Mereka saling memperkenalkan diri masing-masing. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menjadi akrab karena Senja memang pribadi yang friendly dan mudah bergaul. Senja pun berinisiatif mengajak teman barunya itu untuk mengeksplor tempat yang baru saja dikunjunginya itu. Senja menawarkan diri untuk menjadi guide dadakan bagi teman barunya itu.


Dengan antusias Senja memperkenalkan tempat itu layaknya seorang guide profesional. Senja masih hafal dengan jelas segala seluk beluk tempat itu dan segala kisah menarik yang ada di tempat itu. Dan teman barunya itu terlihat senang dan nyaman. Senja pun mengajaknya untuk ikut naik ke puncak. Melihat pemandangan yang lebih indah yang tersembunyi di atas sana. Dan tidak menolak sama sekali teman barunya itu langsung mengiyakannya. Senja sebagai guide berjalan paling depan. Tentunya sebagai penunjuk arah dan jalan. Dengan semangat 45 Senja dengan begitu bangganya bercerita tentang masa kecilnya di tempat itu. Orang tersebut tersenyum bangga mendengarkan kisah yang diceritakan oleh Senja, tapi sesungguhnya dalam hatinya ada perasaan jengkel, marah dan benci.


Setengah perjalanan ke puncak, Senja mengajak teman barunya itu beristirahat sejenak. Ada setapak tanah yang landai yang bisa digunakan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak bukit. Senja berdiri di tepi bukit sambil berpegangan pada batang kayu yang dapat diraihnya. Sedangkan teman barunya itu duduk berhadapan dengannya.


Senja pun berbalik untuk melihat pemandangan yang bisa dijangkau dari tempat mereka saat ini. Meski hanya nampak celah-celah ranting-ranting pepohonan menutupi pemandangan disekitarnya tapi masih memberikan nuansa tersendiri bagi yang melihatnya.


Senja mencoba untuk menikmati, merasakan dan menyatukan jiwanya dengan alam semesta yang memberinya banyak pelajaran kehidupan. Dalam keheningan dan ketenangan, Senja mengosongkan pikirannya, melepaskan segala beban pikirannya saat ini. Dia ingin menikmati ketenangan walau untuk sesaat beradaptasi di tempat ini.


Namun siapa sangka. Ketika Senja sedang fokus dalam penyatuannya dengan alam semesta, tanpa sepengetahuannya, tiba-tiba tubuhnya melayang karena didorong oleh sesuatu. Tubuh Senja terjatuh dari tempatnya berdiri. Tubuh itu terpental membentur pepohonan yang menghalanginya. Membentur berkali-kali dan membuatnya sampai kehilangan kesadarannya. Tubuh itu terjatuh berguling hingga beberapa meter ke bawah, dan akhirnya tersangkut pada sebuah batang pohon besar. Tubuhnya penuh luka goresan, kepalanya juga mengeluarkan darah karena benturan yang cukup keras. Senja sudah tidak sadarkan diri lagi. Nyawanya kini sekarat dan dalam bahaya.


Sedangkan orang tersebut, ketika melihat nyawa Senja yang sekarat dan mungkin tak terselamatkan lagi, tersenyum sinis dan puas. Hatinya telah terpuaskan melihat orang yang dibencinya itu tak berdaya dan sedangkan meregang nyawa. Sekarang tidak ada lagi yang akan menjadi penghalang baginya untuk mendapatkan Zein kembali.


Dia pun segera turun dari bukit itu. Dengan perlahan agar tidak terjatuh dan berakhir buruk seperti Senja. Sampai di bawah, dengan cepat dia pergi dari tempat itu. Jangan sampai ada yang melihatnya. Jika tidak hidupnya juga akan dalam bahaya. Secepat kilat dia menghilang dari tempat itu. Tapi dia tidak kembali pulang lewat jalan yang sama. Dia memilih jalur lain yang berlawanan arah. Itulah sebabnya mobilnya tidak pernah berpapasan sama sekali dengan mobil Zein yang saat itu dalam perjalanan menjemput Senja.


Sedangkan Senja, terbaring di atas sana. Dengan tubuh yang sekarat. Menyabung nyawa antara hidup dan mati. Menunggu Tuhan mengirimkan pertolongan kepadanya. Atau malah membiarkannya untuk menghadap Sang Penciptanya. Dan Tuhan ternyata masih menginginkan Senja menikmati dunia ini lebih lama lagi.


Zein bersama dengan Romo Paul tiba tepat pada waktunya. Yang dengan segera memberi pertolongan kepada Senja sehingga gadis itulah masih bertahan hidup hingga saat ini.


Flashback off.....


Anneth masih merutuki kegagalannya untuk melenyapkan gadis itu.


Ternyata tak segampang yang diharapkannya.


Usahanya sia-sia belaka. Tuhan tidak merestui.

__ADS_1


__ADS_2