Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Hati Yang Melupa


__ADS_3

..."Disaat mencoba untuk jauh dari riuhnya kehidupan, ternyata hati dan pikiranku telah tertinggal disana. Sekalipun aku tetap pergi hidupkupun tiada artinya lagi. Maka aku harus bergumul dengan berbagai problematik kehidupan ini bukan untuk menghindarinya. Dan menemukan berbagai makna yg tersirat didalamnya. Inilah hidup yg harus kujalani, kesulitan dan tantangan haruslah kunikmati bukan untuk kutaklukkan."...


Tubuh Senja terbaring lemah di bangsal ICU rumah sakit kota. Sudah 3 hari dia tidak sadarkan diri semenjak kejadian naas itu. Menurut keterangan dokter hasil pemeriksaan laboratorium dan rontgen, Senja mengalami gegar otak karena adanya benturan kuat di kepalanya. Sebelum dia sadar dokter belum bisa mendiagnosa apa yang dirasakan olehnya.


Selama beberapa hari itu pula Zein dengan sabar menjaga dan merawat Senja. Zein seakan menyalahkan dirinya atas peristiwa itu. Berandai-andai, seandainya dia tidak membiarkan Senja pergi sendiri, seandainya dia bisa datang lebih awal, seandainya... dan seandainya. Tapi apa boleh buat. Semua telah terjadi takkan bisa diubah.


Sesal dan kecewa bercampur aduk mengacaukan pikiran Zein, sehingga beberapa pekerjaannya sedikit terbengkalai. Untunglah ada asisten pribadinya yang bisa menghandel pekerjaannya di kantor.


Zein terlihat lelah setelah beberapa hari ini istirahat nya tidak teratur. Senja belum juga menunjukkan tanda-tanda akan segera siuman. Akan tetapi Zein dengan sabar dan setia menjaga dan merawat Senja. Sebagai bukti cinta yang tulus dalam hatinya.


Zein terlelap di atas sofa kamar rumah sakit tempat Senja di rawat. Nampak gurat lelah di wajah tampannya.


Kelopak mata Senja seperti bergerak gerak. Ada tanda-tanda akan siuman. Dan akhirnya netra itu terbuka meski masih terlihat samar-samar. Hingga benar-benar terbuka dan melihat dengan sangat jelas.


Senja mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan tersebut. Ekor matanya menangkap tubuh seorang pria yang tergolek nyenyak. Senja menggerakkan badannya, terasa ngilu dan sakit. Tapi dia berusaha untuk tetap bangun dari pembaringannya. Namun karena dipaksakan rasa sakitnya menusuk sampai ke sum-sum sehingga membuatnya berteriak kesakitan.


" Auuhh....!


Mendengar suara teriakan membangunkan Zein dari tidurnya. Dilihatnya Senja yang sudah terbangun dari komanya. Zein dengan segera melompat dari sofa dan langsung memapah Senja dan membantunya untuk duduk.


" Kamu sudah sadar sayang! ucapnya bahagia.


Senja yang mendengar kata sayang sedikit risih. Karena dia merasa asing dan aneh.


" Syukurlah akhirnya kamu sudah siuman. Aku sangat khawatir sekali!


Senja seperti aneh sendiri melihat sikap dan perhatian pria tersebut.


Senja memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing. Entah apa yang terjadi sehingga tubuhnya terasa remuk redam.


Senja hendak turun dari tempat tidurnya, namun ditahan oleh Zein.


" Kamu mau ngapain sayang.? Jangan banyak bergerak dulu, tubuhmu pasti masih lemah!


Zein masih khawatir dengan kondisi tubuh Senja.


" Saya ada dimana? Senja akhirnya buka suara.


" Kamu lagi di rumah sakit sayang. Sudah 3 hari kamu koma! jawab Zein.


" Apa yang terjadi, kenapa saya bisa ada disini? Tanya Senja yang sepertinya lupa apa yang telah terjadi sebelumnya.


" Kamu jatuh dari atas bukit sayang. Syukurlah kamu masih selamat. Kalau tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi! Zein berkata dengan wajah sedih dan pilu.


" Tapi, kamu siapa? Tanya Senja yang membuat Zein terkejut bathin.

__ADS_1


" Kamu tidak ingat siapa aku? Tanya Zein tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Senja menggeleng menjawab pertanyaan Zein.


Zein pun langsung pergi ke luar kamar bermaksud memanggil dokter dan perawat.


Segera dokter dan perawat masuk dan langsung memeriksa keadaan Senja. Zein dengan was-was memperhatikan keadaan Senja.


" Sepertinya, nona Senja mengalami amnesia. Ingatannya sedikit terganggu sehingga lupa dengan peristiwa yang terjadi beberapa masa belakangan waktu ini.! Jelas sang Dokter.


Zein terlihat sedih mendengarkan keterangan Dokter. Sedangkan Senja terlihat biasa-biasa saja. Dia seakan tidak memikirkan sesuatu apapun. Hanya saja merasa asing berada di tempat yang tidak dikenalinya sama sekali.


Setelah selesai memeriksa Senja, Dokter itu pun permisi karena masih ada pasien lain yang harus diperiksanya.


" Sayang, apa kamu sama sekali tidak ingat apa-apa? Tanya Zein memastikan.


" Kamu siapa? Apa kita punya hubungan? Senja terlihat serius dengan pertanyaannya.


" Sayang, aku ini tunangan kamu. Aku Zein. Tunangan kamu yang paling tampan! Ucap Zein mencoba untuk melucu.


" Tapi, kenapa aku tidak merasakan apa-apa? Mendengar kejujuran Senja ada sedikit rasa sedih dan sakit di hati Zein.


" Sayang, kata dokter kan kamu lagi lupa ingatan, bisa jadi karena tidak ingat sama sekali sehingga tidak bisa merasakan! Zein berusaha menenangkan hati Senja tetapi lebih tepatnya menenangkan hatinya sendiri.


Zein pun mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur tepat di samping Senja. Digenggamnya jari jemari Senja, diremasnya dengan lembut dan hangat.


" Nama kamu Senja sayang. Senja Aurora. Dan aku adalah tunangan kamu Zein Arkarna Hanggono." ujar Zein dengan lantang dan meyakinkan.


" Sudah berapa lama kita bertunangan? Senja bertanya siapa tahu dengan demikian dia bisa mengingat sesuatu.


" Kira-kira baru beberapa bulan yang lalu! Zein sebenarnya lupa berapa lama mereka telah bertunangan.


" Kenapa kita bisa bertunangan? Tanya Senja lagi.


" Karena kita saling mencintai sayang! jawab Zein sedikit menggoda.


" Benarkah itu? Tanya Senja memastikan.


" Kalau tidak benar, bagaimana mungkin kita bisa bertunangan? Apa kamu mau bertunangan dengan orang yang tidak kamu cintai? cecar Zein.


Senja mengangguk mengiyakan ucapan Zein. Tapi kemudian dia menyangkal lagi.


" Tapi bisa saja kita dijodohkan dengan terpaksa. Bisa saja terjadi bukan!?


" Kamu terlalu banyak nonton drama dan novel picisan sayang! Zein berkata sembari memijit kaki Senja.

__ADS_1


Kemudian Senja bertanya lagi.


" Lalu, dimana keluargaku,? Ayah, ibu dan saudara-saudaraku?


" Jujur sayang, aku tidak tahu apakah kamu masih punya saudara atau tidak yang aku tahu kedua orang tuamu sudah meninggal dunia. Kerabat yang dekat dengan kamu hanya Romo Paul.! cerita Zein sesuai dengan apa yang diketahuinya.


" Jadi aku ini hidup sebatang kara ya!? Senja tertunduk sedih.


" Oh tidak sayang. Kan ada aku tunangan kamu, yang akan selalu mendampingi kamu seumur hidupku! Zein meraih tubuh Senja ke dalam pelukannya.


Ada getar kesedihan dalam hatinya mendengarkan perkataan Senja. Entah kenapa gadis itu mengutarakan hal itu disaat dia sedang lupa ingatan. Padahal selama ini Senja tidak pernah menyinggung hal itu.


Mungkin karena sedang amnesia sehingga perasaannya lebih sensitif.


" Apa kamu akan terus bersama aku meski sekarang aku sedang sakit seperti ini? Karenamu mungkin kedepannya aku hanya akan menyusahkan kamu saja! Senja membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya melihat kondisinya saat ini.


Zein semakin mengeratkan pelukannya agar Senja merasakan ketulusan hatinya.


" Sayang, kamu jangan berpikiran begitu. Apapun yang akan terjadi tidak akan mengubah hubungan kita.! Nampak kejujuran dalam setiap ucapan Zein.


Entah mengapa, gadis itu benar-benar telah menaklukkan hati Zein. Rasanya tidak ingin melepaskan Senja walau apapun yang terjadi.


Apalagi sekarang Senja mengalami amnesia. Zein akan membantu Senja untuk menata hatinya kembali, jika perlu memulai dari awal. Menumbuhkan rasa cinta di hati gadis itu mulai dari nol.


Bukankah dengan demikian, Senja akan semakin dekat kepadanya? Hatinya hanya akan mencintai dirinya sepenuhnya.


" Tapi bolehkah aku meminta sesuatu? Tanya Senja kemudian.


" Tentu saja. Katakanlah! ujar Zein.


" Seandainya aku masih belum ingat, bolehkah kita menunggu sampai aku ingat lalu kita menikah?


Zein tertawa merasa lucu dengan ucapan Senja.


" Kenapa kamu tertawa? Wajah Senja berkerut.


" Sayang, kenapa tiba-tiba pikiran kamu memikirkan tentang pernikahan? Zein tersenyum lucu.


" Bukankah kita sudah bertunangan? Pastinya kelak akan menikah. Bukankah begitu? Pastikannya lagi.


" Tentu dong sayang. Kita harus menikah, karena aku hanya ingin menikah dengan kamu saja. Tidak dengan wanita lain! Zein menangkup wajah Senja dengan kedua tangannya.


Di tatapnya bola mata Senja yang indah, dimasukinya dengan pancaran cinta yang sejati. Lalu Dikecupnya bibir manis nan mungil itu.


Dan entah mengapa juga Senja tidak menolaknya. Dibiarkannya bibir mereka berdua menyatu. Padahal dirinya masih merasa asing dengan situasi yang dialaminya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2