Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
Hari Ini Saja.


__ADS_3

Senja sedang berada di dalam mobil saat akan menuju ke kantor Zein. Mereka janjian makan siang bersama. Dalam setiap kesempatan, Zein selalu berusaha untuk bisa menghabiskan waktu bersama Senja. Bisa dibilang Zein, telah tertular penyakit bucin akut. Jika jauh dari Senja dalam waktunya yang cukup lama akan membuatnya rindu setengah mati. Jika tidak mendengar kabar Senja setiap jamnya dirinya pasti sangat khawatir. Mungkin juga karena disebabkan trauma akibat kecelakaan yang terjadi di bukit kasih tempo hari.


Sehingga membuat Zein menjadi lebih over protective terhadap Senja. Tapi syukurlah Senja adalah tipe gadis yang tidak banyak komentar, bisa memahami orang lain dengan baik dan mampu menghadapi suatu masalah dengan hati yang tenang dan bijak.


Mobil Senja berhenti sejenak karena lampu merah. Senja memandang keluar jendela mobil, ada beberapa bocah kucel dengan kantong goni di tangan mereka berjalan dibawah terik matahari yang panas membakar kulit. Mereka sedang mencari barang-barang bekas, botol-botol plastik yang masih bisa di daur ulang untuk dijual ke tukang rongsokan. Hati Senja yang iba dan kasihan melihat bocah-bocah seusia mereka sudah harus bekerja keras membantu orang tuanya untuk mencari nafkah. Yang seharusnya di usia inilah mereka menikmati masa yang bahagia, bersekolah, belajar dan bermain.


Namun kerasnya hidup menempa mereka menjadi sosok pekerja keras yang harus berusaha agar bisa bertahan hidup.


Seorang bocah berjalan mendekat ke arah mobil Senja. Senja pun langsung merogoh isi tasnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan. Ada juga bungkusan makanan yang selalu disediakan di dalam mobil sebagai persediaan.


Sebelum bocah itu berlalu, Senja menurunkan kaca mobilnya lalu memanggil bocah itu.


" Dek, sini ! bocah itu menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya. Setelah melihat wajah orang yang memanggilnya dia pun mendekat.


Senja menyerahkan uang itu serta beberapa bungkusan makanan. Melihat rejeki sebanyak itu, bocah itu terdiam tak percaya. Uang sebanyak itu diberikan kepadanya?


" Nih, ambil ! Buat sekolah kamu. Sekolah yang rajin ya supaya jadi anak-anak yang sukses di masa depan.!


Dengan ragu-ragu si bocah itu menerima uang dari tangan Senja. Namun sayang lampu hijau sudah menyala. Mobil Senja pun harus melaju. Bocah itu belum sempat mengucapkan terima kasih. Namun tidak mengurungkan niatnya untuk mengucapkan terima kasih. Dengan suara lantang bocah itu berteriak sekencang-kencangnya.


" TERIMA KASIH MBAK CANTIK, SEMOGA SELALU BAHAGIA. SEMOGA DAPAT JODOH YANG BAIK DAN KELAK JIKA KITA JUMPA LAGI SAYA SUDAH JADI ORANG YANG SUKSES. TERIMA KASIH MBAK CANTIK.


Orang-orang yang ada disekitar tempat itu pun menoleh ke arah bocah itu. Mereka penasaran kenapa bocah itu berteriak sekencang-kencang. Sedangkan bocah itu tak hentinya mengucap syukur. Tuhan sungguh baik padanya hari ini karena telah mengirim malaikatnya untuk menolongnya hari ini.


Senja dan Zein sedang menikmati makan siang di sebuah restaurant tidak jauh dari kantor Zein.


Lihatlah wajah Zein yang begitu bahagia sekali bisa makan siang berdua dengan Senja. Zein bahkan bersikap romantis sekali. Melayani Senja dengan menaruh makanan di piring Senja, dan sesekali menyuapi Senja dengan makanannya. Senja pun tidak keberatan diperlukan seromantis itu oleh Zein. Meski dia sebenarnya sedikit malu karena banyak orang-orang yang juga sedang makan siang di sana. Tapi itu bukanlah suatu hal yang buruk diperlakukan dengan penuh kasih sayang oleh pasangan kita.


Saat sedang asyik menikmati santap siangnya, Senja tidak menyadari jika ternyata Jeremy masuk ke dalam restaurant itu bersama-sama dengan beberapa orang. Mungkin rekan-rekan kerjanya.


Tapi Jeremy, mata tajamnya langsung memperhatikan sosok Senja disaat baru saja masuk ke dalam restaurant itu. Entah kenapa netranya itu seakan punya ikatan sehingga dengan gampangnya menemukan sosok Senja dimanapun dia berada.


Melihat Senja ada disana, Jeremy tersenyum simpul.

__ADS_1


Memang jodoh tidak akan kemana. Dia tidak perlu mencari kemana-mana tapi malah muncul sendiri ke hadapannya.


Nekat, Jeremy mendatangi meja makan tempat Senja dan Zein sedangkan makan.


" Hai, Sera ! Sapa Jeremy memanggil Senja dengan nama kecilnya dulu. Sera yang disingkat dari namanya Senja Aurora.


Zein yang sejak tadi masih menikmati kebersamaannya dengan Senja tiba-tiba melihat kehadiran Jeremy selera makannya mendadak hilang.


Suasana hatinya menjadi tidak tenang. Senja yang bisa membaca situasi mencoba untuk mencairkan suasana.


" Hai, Jeremy. Kamu ada disini? Tanya Senja berbasa-basi.


" Bukannya kamu sudah kembali ke luar negeri ? Tanya Senja lagi tanpa mempersilahkan Jeremy untuk duduk bergabung bersama mereka berdua di sana.


" Sayangnya Saya sudah kembali lagi ke Indo, dan mungkin akan menetap lebih lama lagi di sini ! jawab Jeremy seakan sedang memberikan sebuah pengumuman kepada mereka.


" Kebetulan aku dan Zein sedang menjalin kerja sama dalam sebuah proyek. Kemungkinan kita akan sering bertemu membahas kerja sama kita dan juga mungkin sering bertemu kamu ! ucap Jeremy dengan antusias.


Mendengar perkataan Jeremy, seakan menyulut amarah di hati Zein.


Tapi Zein berusaha meredakan amarahnya, mendinginkan hatinya agar tidak terpancing emosi sesaat. Amarahnya di tahan dihadapan Senja. Dia tidak ingin melihat Senja ketakutan saat bersamanya karena amarahnya yang tidak terkontrol.


" Maaf, bukan bermaksud mengusir dan tidak sopan, tapi kami masih ingin melanjutkan makan siang karena kami masih ada pekerjaan setelah ini.


Anda datang ke sini pasti juga ingin makan siang bersama dengan teman-teman anda itu bukan ? Sepertinya anda sudah ditunggu oleh teman-teman anda.! ucap Zein sambil menunjuk ke arah teman-teman Jeremy yang sudah menunggu di meja yang telah mereka pesan sebelumnya.


Jeremy menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Namun sebelum dia pergi Jeremy mengucapkan sesuatu lagi kepada Senja.


" Kita tidak hanya akan bertemu hari ini saja. Dan dalam setiap kesempatan yang ada aku tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja. Karena aku yakin cinta diantara kita belum hilang seutuhnya.!"


Senja tidak mengerti maksud perkataan Jeremy. Karena sebelumnya, ketika Jeremy hendak kembali lagi dari luar negeri mereka sudah berbicara baik-baik dan sudah menyelesaikan semua hal tentang mereka. Bahkan Jeremy sudah berkata telah mengikhlaskannya.


Sedangkan Zein sangat mengerti apa maksud dari perkataan pria itu. Yang artinya dia sedang menabuh genderang persaingan. Mungkin dalam pekerjaan mereka akan bekerja sama secara profesional tidak mencampur adukkan masalah pribadi. Tetapi soal percintaan mereka adalah rival. Rival adalah yang artinya bersaing. Bersaing dengan jujur tidak menggunakan tipu muslihat atau bahkan berbuat curang.

__ADS_1


Tapi apakah Jeremy bisa bersikap dengan jujur. Tidak berbuat curang dan licik?


Jeremy yang dikenal oleh Senja adalah pria yang jujur dan setia bahkan cukup bertanggung jawab. Meski pernah melakukan kesalahan karena pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan kepada Senja.


Namun, Jeremy tetaplah manusia biasa. Suatu saat bisa berubah. Karena keadaan, atau karena suatu tuntutan.


Lalu Jeremy pun meninggalkan Senja dan Zein. Dia segera bergabung dengan teman-temannya yang sudah menunggunya sejak tadi. Mereka tidak tahu apa yang diperbincangkan oleh Jeremy dengan kedua pasangan tadi. Tapi mereka juga tidak ingin mencampuri urusan pribadi orang lain jika yang bersangkutan tidak bersedia untuk menceritakannya sendiri. Privasi orang lain bukanlah ranah yang bisa dikonsumsi semaunya oleh publik.


Setelah Jeremy pergi, Senja dan Zein melanjutkan makan siang mereka. Suasananya sedikit berubah. Zein terdiam dan selera makannya pun sedikit berkurang. Tak senikmat seperti tadi lagi.


Senja pun bingung harus berbuat apa. Suasana yang tadinya nikmat dan bahagia berubah sepi dan sunyi.


Semua gara-gara Jeremy. Tapi seharusnya kehadiran Jeremy tidak bisa mengubah suasana hati mereka berdua. Karena Jeremy sekarang hanyalah orang asing bagi hubungan mereka berdua. Jika hal kecil seperti ini saja bisa mempengaruhi suasana hatinya terlebih hati Zein, maka Jeremy pasti akan mudah untuk memasuki hubungan mereka berdua dan mengacaukannya.


Senja pun tak ingin kejadian seperti ini mempengaruhi hubungan mereka. Dia tahu jika Zein saat ini sedang mengalami proses besar dalam hatinya. Zein memang sangat mencintai Senja dan hatinya sudah terpatri untuk hanya mencintainya seumur hidupnya. Hanya saja pondasinya belum kuat, karena ada ketakutan yang tertanam disana. Ketakutan akan kehilangan cinta dan hatinya yang paling berharga. Ketakutan yang cukup berlebihan yang pada akhirnya bisa menjadi kelemahan terbesar bagi dirinya juga.


Senja pun mencoba menghibur hati Zein.


"Sayang, bagaimana makanannya? Apa ada yang kurang? Cobain yang ini deh. Rasanya enaklah. Ini makanan favoritku kalau lagi galau. Bikin hati meleleh.! ucap Senja dengan senyuman manisnya.


Diambilnya makanan yang dimaksudkannya lalu menaruhnya di piring Zein.


Zein pun menyantapnya. Dan saat makanan itu menyentuh lidahnya wajah Zein berubah cerah. Aura nikmat terpancar dari sorotan matanya.


" Hemm, memang enak sekali. Makanan apa ini sayang?


" Ini namanya kue hati penghilang galau?


Zein telihat aneh mendengar nama makanan yang baru saja diucapkan oleh Senja.


" Emang ada nama makanan seperti itu? Tanya Zein penasaran.


" Ya itu. Yang sayang baru makan!

__ADS_1


" Ouhh... !! Zein mengangguk-anggukkan kepalanya.


Senja tertawa dalam hati kecilnya. Karena sebenarnya itu bukanlah nama makanan itu. Senja hanya mengarang-ngarangnya saja. Tapi dengan begitu Zein kembali gembira. Suasana hatinya kembali ceria. Bukankah itu lebih penting untuk saat ini? 😁😁😁😊😊😊😁😁


__ADS_2