Cinta Di Ujung Senja

Cinta Di Ujung Senja
part 3


__ADS_3

Part 3


.


Setelah menutup sambungan teleponnya Andrew kembali kedalam kamarnya dimana ia tadi meninggalkan Alina di sana , sendiri.


Memberi ruang untuk Alina sendiri .


Namun ia begitu terkejut saat membuka pintu kamarnya ia malah melihat Alina tengah duduk merosot dilantai dengan pecahan gelas yang siap untuk menggores tangannya sendiri .


"Apa yang kau lakukan?"


"Apa kau sudah gila huh...?" Bentak Andrew frustasi melihat apa yang akan di lakukan Alina.


Sedetik saja dia terlambat untuk kembali ke kamarnya Alina sudah menggores nadinya dengan pecahan gelas air minum yang Andrew letakan di atas nakas dekat ranjang .


.


Alina hanya diam , menangis sesenggukan tak menjawab bentakan Andrew , saat Andrew merebut benda tajam tersebut dan membuangnya entah kemana .


ia hanya memandangi wajah pria itu dengan air mata yang bercucuran , lalu memalingkan wajahnya tak ingin melihat wajah yang telah merusak harga dirinya dengan keji .


"kau mencoba ... mengancam ku dengan melukai dirimu sendiri , huh?" desis Andrew lirih


namun Alina malah merasa itu adalah sebuah ancaman bukan sebuah pertanyaan , meskipun Andrew benar dengan dugaannya,


Alina milih diam mematung


Andrew mengeraskan rahangnya dengan kebungkaman Alina , dia tak tahu biasanya para wanita begitu memuja dirinya dan bangga bisa tidur dengan seorang Andrew Diarga tanpa menerima sedikitpun bentuk penolakan .


Namun dengan gadis ini Andrew merasa dirinya tak berarti apa-apa .


Apa karena Alina tidak tahu siapa Andrew sebenarnya atau memang Alina sengaja jual mahal untuk membuat Andrew merasa penasaran .


Ah apapun itu Andrew merasa tak peduli .


"Dengarkan aku Alina .. aku tidak peduli dengan penolakan tak berarti mu , kau tetap milikku kalau kau mau tahu .." ucap Andrew


"Hentikan ancaman bodohmu! Untuk melukai dirimu ____itu tidak akan terjadi meskipun kau benar-benar ingin melakukannya"


"Besok kita menikah!___setuju ataupun tidak " ucapnya tegas sambil mengapit dagu Alina memaksa gadis itu untuk menatap matanya .


Alina menatap Andrew tak percaya , apa untungnya lelaki ini menahannya , toh ia tidak secantik wanita-wanita yang menjadi pendamping pria kaya , tidak modis .


Apa yang lelaki ini pandang dari dirinya yang sederhana ini?

__ADS_1


"Huh ... " Desis Alina tak tahu harus berkata apalagi menghadapi Andrew


Ia lelah tentu saja, lelah menangis dan meratapi nasib dan masa depan yang sudah ia rancang .


Kuliahnya yang masih semester awal


Ia bingung harus bagaimana , berbagai pemikiran negatif muncul kepermukaan membuat gadis itu frustasi dan bingung.


.


"Pikirkan tawaranku Alina ..." Andrew bersuara saat melihat ada raut kebingungan dan rasa frustasi di wajah gadisnya .


Itu bahkan bukan sebuah tawaran, tapi bentuk pemaksaan __guam Alina dalam hati


"Aku akan menjamin kehidupanmu .. dan kuliahmu Takan terganggu ___ kau bisa melakukan apapun yang kau mau , asalkan masih di bawah batas wajar ku"ucap Andrew


"Tidak___aku tidak mau menikah denganmu !" Tolak Alina lirih


Andrew memalingkan wajahnya geram , heran dengan tingkah membangkang Alina bukannya senang dengan tawaran yang di incar setiap wanita , gadis ini malah menolaknya mentah-mentah .


"Ahhh !!___ aku tidak peduli dengan penolakamu Alina"


"Dan lagi , kau tidak berfikir kalau kau nanti bisa saja hamil ... Mengingat semalam aku tak menggunakan pengaman !" Ucap Andrew frontal membuat Alina malu dan pipinya seketika memerah


Alina langsung menatap Andrew marah , sejujurnya Alina sedikit takut menatap pria di hadapannya ini , pria yang dari luar saja sudah kelihatan dingin , angkuh , dan tidak pernah suka di bantah . Ciri-ciri pria kaya yang sering ia jumpai di tempat kerjanya sebagai OB .


namun ia tak berani untuk sekedar menatap wajah Andrew lama .


dan ia kembali menunduk membungkam mulutnya.


"Aku tidak suka di bantah Alina ... Apalagi di tolak ___ jadi kau tidak punya pilihan" bisik Andrew lirih tepat di telinga gadis itu


Membuat Alina bergidik merinding


Alina memalingkan wajahnya tepat ke wajah Andrew yang berada di sampingnya hingga otomatis Alina malah mencium tepat bibir Andrew .


Ia tersentak kaget sendiri dan langsung menjauhkan tubuhnya dari hadapan Andrew dan merutuki dirinya sendiri dalam hati .


Pipinya memanas hingga ke telinga dan ia ingin menangis sekarang juga .


Sebelum beringsut menjauh pinggangnya lebih dulu dicengkeram Andrew dan pria itu malah merapatkannya hingga tak ada jarak tersisa.


Andrew menyunggingkan senyum nya melihat Alina yang ingin menangis


"Ternyata kau sendiri yang sudah tidak sabar .. hum?" Bisik Andrew tepat di depan bibir Alina mencoba menggoda gadis itu.

__ADS_1


meski Andrew tahu Alina tidak bermaksud untuk itu.


Sedikit saja Andrew memajukan wajahnya ia bisa kembali mendapatkan bibir lembut Alina yang menggoda


"Tidak .. bukan itu ___ maksudku , aku.. aku tidak bermaksud menciumu tuan" jawab Alina lirih , tidak berani menatap Andrew matanya berkeliling mencari objek lain


"Aku ... Aku tetap tida____emmphhh!!!"


Belum sempat Alina menyelesaikan ucapannya Andrew sudah melahap bibir Alina gemas , menciumnya rakus dan semakin menarik pinggang Alina untuk merapat padanya .


Kepalanya bergerak mencari kepuasan , tangannya sudah mengelus punggung polos Alina yang hanya di lilit selimut tebal .


Alina tersentak dengan gerakan Andrew yang tiba-tiba dan tidak memberikan kesempatan Alina untuk menolak .


Alina mendorong dada Andrew kuat , namun lelaki ini benar-benar ..


Sekuat tenaga Alina mendorong dada Andrew namun pria itu tidak melepaskanya begitu saja , malah semakin liar melahap bibir Alina gemas .


"Tu ... Tuan" bisik Alina di tengah Pagutan bibir Andrew yang liar .


Alina mendorong dada Andrew dan kali ini ciuman mereka terlepas .


Alina langsung meraup udara sebanyak-banyaknya , dadanya sesak Andrew menciumnya ganas tanpa memberi kesempatan Alina untuk bernafas .


Andrew masih memandang lekat bibir Alina yang bengkak , dengan warna pink yang lembut , masih merasakan bagaimana bibir Alina yang lembut dan begitu memabukan .


Andrew memejamkan matanya dan membuang nafasnya kasar .


Entah kenapa dengan Alina gairahnya tak pernah bisa padam , sedikit saja menyentuh Alina seluruh saraf perasa pada dirinya bangun seketika , meronta dan itu benar-benar menyiksa mengingat untuk saat ini ia harus menahan dirinya untuk tidak melakukan lebih dari ini pada Alina .


"Kau ... Membuatku gila Alina !"gumam Andrew dengan mata terpejam , rangkulannya di pinggang Alina tidak ia lepaskan seolah menahan Alina untuk tidak menjauh darinya


Alina masih menundukkan kepalanya tak berani menatap Andrew , ia ketakutan setengah mati ,dia tak pernah disentuh oleh lawan jenisnya hingga sejauh ini , dan Alina masih merasakan debaran jantungnya yang menggila dan nafasnya yang tersengal akibat ciuman panas tadi .


Alina mencengkram selimut yang melilit dadanya , dan berusaha mendongakkan wajahnya , menatap Andrew dengan mata polos berair yang siap untuk mengeluarkan air mata


"Tuan ... Kumohon aku ingin pulang !"bisik Alina memohon


"Ak...aku harus bekerja , dan kuliah besok . Kumohon , aku tidak bisa menikah dengan pria yang tidak ku kenal ! Biarkan aku pergi dan aku tidak akan menuntut apapun padamu Tuan . Biarkan aku pergi____ku mohon!" Alina berbicara panjang lebar memohon dengan air mata yang siap turun.


.


.


.

__ADS_1


by__flyingdream


__ADS_2