
"Huuaaaaaa.....Pipiku....Ya ampuuuunnnn...Oh Iqbal...." Rani terus memegangi pipinya yang terasa panas.
"Cie cieee....Nona Rani... Mukanya merah..."Ujar karyawati Rani yang memang selalu akrab dengan bosnya. Ledekan itu membuyarkan kecamuk di hati Rani.
Rani yang malu berlari memasuki ruangannya.
Menutup pintu dan bersandar di daun pintu dengan rasa gugup dan senang....Rani terus memegangi dadanya sebab jantungnya yang tak henti hentinya berdendang ria.
"Jantungku... Jantungku mau copot...Iqbal sialan, abis nyosor langsung minggat.... Bagaimana aku bisa move on kalau dia mepet terus....Dia benar benar ingin memenjarakan hatiku.... Kenapa aku bahagia dia menciumku.... Ya ampun, murahan sekali aku..."
"Rani...Sadar, sadar sesadar sadarnya....Hati Iqbal masih milik Alyn, kau tak harusnya GR... Jangan terbuai, nanti yang ada kau lah yang terluka. Hati Iqbal mudah sekali berpaling." Ujar Rani sambil berjalan menuju sofa...Dia merebahkan diri di atas sofa di ruangan pribadinya. Mulut tak sejalan dengan hati dan pikiran.... Mulut berkata tidak tapi hati berkata iya.
Berkali kali Rani meyakinkan diri bahwa perasaan Iqbal hanya untuk Alyn tapi hati Rani tetap bahagia mendapatkan perhatian dari Iqbal. Itulah anehnya cinta, selalu ada maaf untuk orang yang cintainya.
"Ok Ran....Sadar....Jangan mudah GR. Kamu hanya pelarian bagi Iqbal." Ujar Rani dengan mantap kemudian duduk di sofa.
"Semangat Ran.... Kamu harus move on, ada Heru yang lebih tulus padamu..." Ujar Rani mengepalkan tangannya ke udara.
****
Berbeda dengan Iqbal. Sepanjang jalan di dalam mobil, bibirnya terus mengembang... Mengingat reaksi Rani yang sangat menggemaskan, wajah itu bersemu merah mirip dengan tomat.
Iqbal terus meraba bibirnya, mengingat harum dan lembut pipi Rani. Senyum itu tak bisa surut. Mungkin Zain, Rani dan Arya benar, Iqbal juga mencintai Rani.
"Bodoh....Di mana tujuanku...." Ujar Iqbal saat mobilnya sampai di depan pemakaman. Karena terus membayangkan adegan kecupan tadi Iqbal tak fokus mengemudikan mobilnya. Ia mengemudi entah kemana, mengikuti suasana hatinya. Iqbal memundurkan mobilnya tapi malah menabrak pohon besar di belakang mobilnya.
"Ini jelas bukan perasaan biasa." Gumam Iqbal.
***
Malam hari di rumah Rani pukul 23.00 WIB.
Rani berguling ke kanan dan ke kiri sambil memeluk guling. Sejak tadi Rani Ingin tidur dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah tapi Rani tak bisa juga terlelap.
__ADS_1
"Ya ampun kenapa aku tidak bisa tidur... Setiap menutup mata, Iqbal selalu muncul di mataku. Iqbal benar benar keterlaluan... Kenapa dia mencium pipiku sih..."
Rani beranjak dari tempat tidurnya. Dia pergi ke dapur, mengambil air dingin di dalam kulkas, menuangkan air ke dalam gelas kemudian meneguknya.
"Ting tong ting tong...." Terdengar suara bel berbunyi.
"Siapa bertamu malam malam begini?..." Rani mengambil linggis kemudian berjalan ke arah pintu.
"Siapa?..."
"Aku... "
"Ya elah dia lagi...."
"Ada apa kesini?..."
"Aku tidak bisa tidur karena mikirin kamu."
"Apa sih Iqbal.... Sudah sana pergi.... Jangan menggangguku lagi."
"Maaf ya Tuan... Saya tidak menerima tamu di malam hari apa lagi tamu laki laki yang suka nyosor sembarangan." Ucap Rani.
"Apa kau tetap tidak mau membuka pintu untukku?..."
"Ya..."
Rani masih berdiri di depan pintu tidak ada sahutan, tidak ada suara.
"Apa dia sudah pergi?..." Rani menguping di pintu. Rani berjalan menuju jendela, membuka tabir kemudian melihat ke luar. Sepi tak ada tanda tanda kehidupan, hanya terdengar suara hewan malam.
Rani membuka kunci pintu rumahnya kemudian membuka pintu, tiba-tiba Iqbal sudah menerobos masuk saja ke dalam rumah. melewati Rani yang berdiri di pintu...
"Hey Iqbal...."
__ADS_1
"Terima kasih sudah di izinkan masuk...." Iqbal terus nyelonong masuk.
"Ya ampuuuunnnn....Kau itu kenapa selalu seenaknya saja...Ayo keluar, cepat keluar...." Rani menarik narik lengan Iqbal tapi Iqbal tidak mundur sedikit pun, malah Rani yang terseret mengikuti langkah kaki Iqbal. Iqbal duduk di atas sofa yang di depannya terdapat meja, Iqbal meletakkan satu kotak makanan di atas meja. Kemudian membukanya memperlihatkan terang bulan.
"Kemari... Duduklah jangan sungkan sungkan... Kita makan malam bersama..."
"Hiiiiissss ini rumah ku.... Ayo cepat keluar." Ujar Rani yang berdiri di samping Iqbal. Iqbal menarik Rani hingga terduduk di samping Iqbal, Rani hendak menjauh tapi tangan kokoh Iqbal merangkul pinggang Rani, membuat tubuh Rani terkesiap.
"Iqbal Lepaaaaaasss...."
"Akan aku lepas hanya jika aku menginginkannya."
"Sejak kapan kau mulai mesum begini?... Dengan Alyn kau tidak seperti ini."
"Tidak kah kau merasa lebih istimewa dari Alyn."
"Tidak."
"Jika kamu ingin aku segera pulang maka habiskan terang bulan ini."
"Aku tidak mau...."
"Ya sudah kita akan lebih lama di posisi ini."
"Aku bisa makan sendiri." Ketus Rani saat Iqbal hendak menyuapi Rani.
"Apa kau pikir aku akan menurutimu?..." Ujar Iqbal. Rani menggelengkan kepalanya. Kemudian membuka mulutnya terpaksa.
Sesuap demi sesuap Iqbal terus menyuapi Rani.
"*Kalau Iqbal terus begini... Kapan aku bisa move on dari mu Iqbal?..." Rani membantin.
****
__ADS_1
Happy reading*