
Satu bulan sudah Rani mengasingkan diri di rumah ibunya, di Kampung Nelayan. Ibu sendiri merasa curiga dan heran sebab Rani tidak pernah menetap lama di Kampung Nelayan.
Rani tahu Iqbal mengirim mata-mata untuk mengawasi Rani. Ilmu bela diri serta cara mempertahankan diri yang diajarkan oleh Iqbal begitu bermanfaat untuknya. Rani belajar banyak hal dari Iqbal.
"Nak, ini udah hampir 1 bulan loh Kamu ninggalin Cafe kamu di Jakarta. kamu Ada masalah apa? Kenapa lama banget tinggal di Kampung Nelayan?..." Ibu bertanya pada Rani.
"Aduh Bu, aku itu capek, Aku pengen istirahat sejenak, meninggalkan penatnya di Jakarta. Aku juga masih kangen sama Ibu. Kalau di introgasi gini terus aku berasa nggak diinginkan di rumah ini loh bu."Ucap Rani merengek manja.
"Bukannya Ibu ngusir kamu. tapi Ibu itu khawatir sama kamu, karena enggak biasanya kamu menetap lama di Kampung Nelayan. Ibu cuma takut kamu punya masalah. Karena tidak biasanya Kamu tidak pernah lama tinggal di Kampung Nelayan."
"Ibu jangan khawatir. Rani baik-baik saja kok." Ucap Rani yang kemudian memeluk ibunya ibunya dari belakang dan mengecup pipinya.
"Udah ya Bu. Aku mau istirahat dulu. Capek."
"Ya sana." Ucap Ibu sambil menggosok-gosok rambut Rani hingga berantakan.
Rani langsung memasuki kamar, menutup pintu dan mengunci pintu. Rani merebahkan dirinya di atas ranjang dengan tubuh yang tertelungkup, dia menangis tersedu-sedu menelungkupkan wajahnya di atas bantal, takut Isak tangisnya didengar oleh orang luar.
Rani sangat jago dalam berakting, bersikap ceria di hadapan banyak orang namun berduka jika sendirian.
***
"Dari mana BIL?" Rani bertanya pada Nabila yang baru memasuki rumah dengan membawa kantong kresek.
"Dari apotek Mbak."
"Kamu sakit?..."
"Enggak sih cuma beli ini tespek."
"Kamu hamil?..."
"Nggak tahu Mbak, Cuma ngecek aja. Siapa tahu hamil." Kemudian Nabila meletakkan tespek itu ke dalam laci yang berada di ruang tamu.
"Yah semoga kalian segera diberikan momongan."
"Aamiin."
***
Akhir-akhir ini tubuh Rani sering meriang, Mungkin karena Rani jarang makan maka kepalanya sering pusing.
__ADS_1
Hari hari Rani lebih banyak di habiskan untuk menyendiri di dalam kamar.
"Mbak Rani..." Tiba-tiba saja Nabila menerobos masuk ke dalam kamar Rani.
"Apa Bil?"
"Kesepian mbak... Nggak ada orang."
"Memangnya suami mu kemana?..."
"Nganter ibu Bowo."
"Oh..." Rani kembali melamun menerawang jauh dengan tatapan yang kosong dan hampa.
"Tak tek tak tek tak tek...." Tangan Rani tak henti-hentinya memencet tombol skakel hingga lampu yang bertengger di atas mejanya mati menyala mati menyala berulang kali.
Tiba-tiba Rani mendengar isak tangis Nabila.
"Kenapa kamu menangis?"
"Ini lho Mbak, filmnya sedih banget." Nabila menunjukkan video yang ia tonton lewat hp-nya kepada Rani.
"Si Bella, gadis desa yang diperkosa oleh preman, dia hamil, terus dinikahi sama preman itu, nah dianya itu setiap hari disiksa sama suaminya mbak. Kasihan kan Mbak ceritanya ngenes banget."
Mendengar cerita dari Nabila, Rani mengingat nasibnya sendiri. Nasibnya tidak jauh berbeda dengan si Bella, gadis desa yang diceritakan oleh Nabila. Hati Rani yang sakit kini semakin sakit, Rani memadamkan lampu nya karena ia sudah meneteskan air mata. Rani takut sang adik melihat tetesan air matanya.
***
Tuan, ini sudah lebih dari 1 bulan, apa tidak lebih baik anda menemui Nona Rani di Kampung Nelayan dan menyelesaikan duduk perkara anda dan Nona Rani." Ucap Zain mengusulkan pada Iqbal.
"Rani sangat marah padaku, dia sendiri yang menulis surat untukku agar aku tidak menghubunginya lagi untuk sementara waktu. Dia masih ingin sendiri. Jika aku menemui dia, yang ada dia akan semakin marah."
"Tapi Tuan."
"Sudahlah Zain, ini keinginan Rani sendiri. Sebentar lagi kami juga akan menikah karena pernikahan dari Nabila sudah hampir 1 tahun berlangsung."
"Saya hanya takut jika Nona Rani marah pada anda Tuan."
"Ya, dia sudah marah padaku. Menghindariku adalah bentuk protes darinya."
***
__ADS_1
"Tok tok tok tok... Mbak Rani Ayo sarapan bareng."
"Iya Bil sebentar, Aku masih melipat baju ini hampir selesai. Kamu duluan saja nanti aku nyusul." Ucap Rani dari dalam kamar dengan sedikit berteriak.
Kemudian Rani keluar dari kamar, Rani merasa dunianya berputar, kepalanya mendadak pusing. Dia memegangi keningnya sebab mendadak kepalanya berkunang-kunang karena pusing.
Rani kembali berjalan mungkin karena dia lapar belum sarapan maka dari itu dia pusing. Rani duduk berkumpul bersama Nabila dan adik iparnya di ruang makan, sementara ibunya sedang mengulek sambal di dapur. Rani menyendok nasi, lauk pauk beserta sayur kemudian Rani memakannya sebab dia sangat lapar.
Tiba-tiba Rani merasa mual saat Ibunya datang membawa sambal terasi, Rani berlari ke kamar mandi di dalam kamarnya.
"Hooeeeekk hooeeeekk hooeeeekk." Dia muntah-muntah, kini kepalanya kembali pusing.
"Mbak kenapa?" Ucap Nabila.
"Terasingnya bau banget, baunya bikin aku mual." Ucap Rani dengan nafas yang tersengal-sengal setelah memuntahkan isi perutnya.
"Mbak-mbak kayak orang hamil aja, cium bau menyengat langsung muntah."
"Deg..." Jantung Rani berdenyut mendengar ucapan dari Nabila dia takut apa yang diucapkan Nabila menjadi nyata sebab akhir-akhir ini tubuh Rani merasa tidak nyaman dan mengalami gejala seperti orang yang sedang hamil.
Rani memegangi dadanya sebab jantungnya berdetak begitu kencang tak karuan, jantungnya berdebar hebat, dia takut jika dia benar-benar hamil lalu apa yang akan terjadi dalam hidupnya, apa yang akan dia lakukan.
***
Malam hari pukul 7 Rani melihat kalender, dia duduk didepan meja rias. Dia melingkari tanggal terakhir dia menstruasi spidol, lalu menghitung harinya.
Spidol yang berada di tangan Rani langsung terjatuh setelah Rani menyadari bahwa hampir 2 bulan dia tidak datang bulan. Rani semakin g
kalut, dia merasa dunianya akan runtuh sebentar lagi.
Malam hari pukul 9 malam saat semua keluarga sudah terlelap. Rani mengendap-ngendap seperti pencuri berjalan ke arah ruang tamu.
Rani membuka laci lalu mengambil dua tespek milik Nabila yang berada di dalam laci. Kebetulan Nabila membeli tespek dengan jumlah yang cukup banyak. Rani hanya ingin memastikan apakah yang ditakutinya ini benar-benar terjadi.
Rani segera pergi dari ruang tamu dan masuk ke dalam kamarnya. Rani cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi, dia segera menggunakan tespek itu. Rani harap-harap cemas menunggu hasil tespek itu, hatinya sangat gugup.
Lutut Rani terasa lemas tak mampu menopang badannya. Dia merosot duduk di lantai kamar mandi setelah melihat hasil tespek itu bergaris 2 pertanda bahwa Rani sedang hamil. Rani menangis histeris dengan menggigit tangannya agar tangisannya tak terdengar keluar.
"Duniaku hancur sekarang, hidupku sudah hancur, aku benar-benar hancur..." Rani menangis sejadi-jadinya.
***
__ADS_1