
"Lihat... Rumah jadi berantakan karena ulah kalian berdua. Kak Iqbal juga gimana sih! Mana ada orang bertamu bikin ribut." Nabila terus ngedumel sambil membersihkan lelehan darah dari pelipis dan sudut bibir Iqbal, lalu mengompresnya dengan air hangat guna untuk menghentikan pendarahan lalu merekatkan plester pada lukanya.
"Udah Bil. Ibumu lebih butuh perhatian kita." Ucap Iqbal yang menghentikan gerakan tangan Nabila yang hendak mengompres lebam berwarna keunguan di wajah Iqbal.
"Bibi tak butuh perhatian dari orang sepertimu." Hardik Yusuf. Iqbal hanya balas menatapnya sinis, berusaha menguasai keadaan dan tak mau terpengaruh dengan ucapan Yusuf.
"Sudah lah kak Yusuf jangan ribut lagi." Keluh Nabila.
"Nabila jangan ikut campur, ini urusan laki laki."
"Kak Yusuf pengertian sedikit dong, Ibu lagi pingsan gini."
"Habis kesabaran ku melihatnya Bil."
Namun Iqbal berusaha menahan emosinya, ini bukan saat yang tepat untuk baku hantam, sudah cukup yang tadi. Sebab bapaknya Yusuf lah nanti yang akan menjadi wali nikahnya Rani. Iqbal memang pantas mendapatkan pukulan seperti ini kalau perlu lebih parah tapi bukan dari tangan Yusuf, Iqbal tidak rela jika Yusuf yang menghajarnya. Kenapa harus ada Yusuf, bukan kah harusnya dia ada di Surabaya. Kehadiran Yusuf di sini malah akan membuat keadaan semakin runyam.
"Aku sendiri heran... Kenapa Rani bisa jatuh cinta pada pria arrogant dan bejat sepertinya, Cuiiiiihhhh.... Cintanya begitu sadis."
"Kau terlalu banyak bicara..." Iqbal mulai tersulut emosi, dia bangkit dengan tangan terkepal siap menyerang namun langsung di tahan oleh Aan. Sementara Nabila menahan dada Yusuf. Setiap kata yang di lontarkan Yusuf semakin membangkitkan ego Iqbal merongrong untuk menghajarnya.
"Udah... Udah... Udah... Jangan ribut lagi." Nabila sudah berteriak kesal, karena kehilangan kesabaran.
"Apa kalian berdua tidak bisa tenang!! Setidaknya sampai Ibu siuman. Tapi kalau masih mau ribut dan adu jotos, silahkan keluar dari Sini." Ujar Aan dengan tegas.
Yusuf pun kembali duduk dengan kasar di atas sofa dan memukul sofa, dadanya masih sesak tidak terima Rani hamil anak Iqbal. Selama ini Yusuf sudah berharap lebih tapi Rani hanya menganggapnya kakak.
Sementara Iqbal masih berdiri memandangi wajah Bu Narsih yang mulai kusut karena keriput yang saat ini sedang di kipasi oleh Nabila. Janda tua yang hatinya telah Iqbal lukai begitu dalam, Iqbal sangat menyesali perbuatannya dia bersumpah dalam hati jika beliau menerima Iqbal sebagai menantunya maka Iqbal akan berbakti padanya.
***
Saat melihat Ibu Narsih mulai sadar, Iqbal lah yang pertama kali ia tatap.
"Ku pikir hanya mimpi." Pikir Bu Narsih.
Iqbal segera menuangkan air ke dalam gelas dan meminumkannya pada Bu Narsih setelah mengangkat sedikit kepalanya ke atas.
"Terima kasih" Ucapnya lalu memaksakan diri untuk duduk.
__ADS_1
"Bu jangan di paksa duduk, anda tiduran saja."
"Ah... Tidak apa-apa." Bu Narsih kini sudah terduduk. Memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Sekelebat ingatan masa lalu terlintas saat Iqbal datang baik baik melamar Rani tapi malah di tolaknya karena Nabila baru menikah.
"Kalian harus sabar menunggu sampai tahun depan. Setelah itu kalian baru boleh menikah." Ucap Ibu Narsih.
"Ibu jangan salahkan kami ya, kalau nanti aku hamil di luar nikah." Jawaban Rani kini menjadi nyata.
Bu Narsih menghela nafas, ada rasa kecewa, sedih, penyesalan dan marah menyeruak dalam hatinya. Merasa gagal tidak bisa menjaga putri kebanggaannya, putri yang sangat berjasa pada kehidupan keluarganya. Pergi merantau ke negeri orang untuk memperbaiki perekonomian keluarga. Beliau tidak bisa menggambarkan seperti apa isi hatinya saat ini, hanya air mata yang sejak tadi berdesakan ia tahan akhirnya melesak keluar. Saat bibir tak mampu berbicara maka air mata lah yang berbicara.
Membuat Iqbal semakin ciut, karena setelah beberapa saat tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari lisan Bu Narsih. Iqbal semakin menunduk dalam-dalam, memberanikan diri menyampaikan penyesalan terdalam dari dalam hatinya.
"Maafkan saya, saya tahu kesalahan saya sangat fatal. Tolong maafkan saya atas perbuatan tercela saya. Maafkan saya karena membuat Ibu dan Rani malu. Hukum saya sepuas hati Ibu asal ibu mau memaafkan saya. Saya akan mempertanggung jawabkan perbuatan saya." Ini bukan tentang siapa dulu yang menggoda siapa, tetap saja perbuatan Iqbal tidak dapat di benarkan apapun alasannya. Nabila pun ikut meneteskan air mata melihat Iqbal dan ibunya.
"Kalian berdua, bahkan Ibu juga bersalah." Mendengar ucapan Bu Narsih, Iqbal pun beringsut duduk berlutut mencium tangan Bu Narsih.
"Tidak Bu, saya yang bersalah. Bukan Rani juga bukan Ibu. Saya yang sudah menodai Rani. Rani sama sekali tidak bersalah. Cuma saya yang pantas di salahkan. Bukan orang lain." Ucap Iqbal sungguh sungguh.
"Bertanggung jawablah, perbaiki kesalahan mu." Iqbal mendongak demi mendengar ucapan Bu Narsih. Mata wanita yang sudah mulai banyak keriput halus itu menyusut air mata yang keluar dari sudut matanya. Nabila merengkuh bahu ibunya berusaha menyalurkan kekuatan. Sementara Aan mengangsurkan tissu pada Nabila untuk menghapus air mata Ibunya.
"Terima kasih sudah merestui hubungan kami, Terimakasih sudah memaafkan saya, saya janji akan jadi suami yang baik, saya janji akan membahagiakan Rani." Iqbal sangat lega namun juga bersedih melihat air mata Bu Narsih. Apa lagi Iqbal belum menerima hukuman dari orang tua Rani.
"Bangun lah Nak Iqbal." Kemudian Iqbal bangkit dan duduk di sisi Aan.
"Aku tidak percaya ini." Ucap Yusuf menggelengkan kepala yang kemudian pergi meninggalkan rumah Bu Narsih. Semua melihat kepergian Yusuf hingga hilang di balik pintu.
"Apa saat pertengkaran kalian yang terjadi di sini mbak Rani sudah hamil?..." Nabila bertanya. Pandangan Iqbal beralih menatap Nabila.
"Iya. Tapi aku baru mengetahui kehamilannya beberapa hari yang lalu, maka dari itu aku segera melamarnya." Iqbal sama sekali tidak menyinggung masalah Heru dan Steven, karena tidak ingin Bu Narsih dan Nabila semakin terpukul mendengar kisah Rani yang dramatis.
"Rani sangat butuh dukungan dari kita semua, karena dia merasa takut dan malu jika Keluarganya tak mau menerima kehamilan Rani. Maka dari itu Rani menutupinya dari kita semua." Mendengar ucapan Iqbal Bu Narsih malah pergi memasuki kamar.
***
Bu Narsih memanggil kakak dari almarhum suaminya untuk merundingkan masalah pernikahan Rani dan Iqbal. Pernikahan akan di lakukan 3 hari lagi di rumah Iqbal, di perumahan elit yang memiliki privasi sendiri di mana tidak ada tetangga yang usil menggunjingkan masalah rumah tangga orang lain.
Iqbal segera menghubungi Rani memberikan kabar gembira pada calon istri tercintanya.
__ADS_1
"Ibu bilang apa?..."
"Beliau merestui hubungan kita. Besok kami semua akan ke sana."
"Iqbal jangan bercanda. Aku bertanya serius."
"Aku tidak sedang bercanda Ran. Aku serius."
"Apa ibu marah dan kecewa padaku?..."
"Beliau mungkin marah, saking marahnya sampai tidak bisa marah marah."
"Ibu pasti malu punya anak kayak aku."
"Malu. Mungkin. Kecewa, sedih, marah sudah pasti. Tapi kasih sayang beliau padamu jauh lebih besar dari semua itu."
"Aku semakin merasa malu dan bersalah sama Ibu udah bikin malu ibu."
"Ran jangan sedih, di sini aku yang salah."
"Kamu ada di mana sekarang?..." Rani mengalihkan pembicaraan.
"Aku ada di rumah mu. Aku tidur dengan Aan. Nabila tidur sama Ibu. Sekarang sudah malam, kamu istirahatlah jangan tidur terlalu malam, jaga kesehatan ada anak kita yang harus kamu jaga." Mendengar kata 'Anak kita' membuat hati Rani berdesir, ada perasaan haru yang membuatnya menitikkan air mata.
"Ran..."
"Ya..."
"I LOVE YOU...." Ucapan Iqbal membuat bibir Rani mengembang.
"I LOVE YOU Too..." Iqbal pun ikut tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu."
"Ya..."
"Tut tut tut tut tut...." Panggilan terputus. Rani hanya tersenyum memandangi HPnya.
__ADS_1