CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)

CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)
TAK BISA MAKAN


__ADS_3

Iqbal dan Zain keluar dari toko meninggalkan Rani seorang diri menunggu Nadine keluar dari ruang ganti.


Dua laki laki itu mengerti, Nadine pasti canggung setelah ini, maka dari itu mereka memilih untuk keluar terlebih dahulu.


"Ya ampun, malunya aku. Bisa bisanya aku teledor. Aku nggak punya muka lagi untuk ketemu kak Zain." Nadine berjongkok menutup wajahnya. Hatinya gelisah karena hal yang tidak seharusnya terlihat malah dengan mudahnya ia perlihatkan pada Zain.


"Tok tok tok tok... Nadine sudah selesai belum." Pintu terbuka perlahan, memunculkan Nadine yang wajahnya bersemu merah, dia terlalu malu bercampur jengah.


"Sudah tidak apa-apa?..." Rani mengusap lembut lengan Nadine, dia bisa merasakan seperti apa perasaan Nadine saat ini.


"Kak aku pulang aja ya..."


"Iya tapi kita makan dulu ya, aku lapar. Kamu juga pasti lapar kan." Ucap Rani.


"Nggak usah kak, aku bisa pulang sendiri."


"Nggak bisa gitu dong, kita ke sini bareng. Pulangnya ya harus bareng. Kalau kalau kamu pulang sendiri, itu nggak setia kawan namanya." Ucapan Rani panjang lebar hanya di jawab anggukan kecil oleh Nadine.


Setelah membayar belanjaannya di kasir dan meminta belanjaannya di kirim ke alamat rumah Iqbal. Rani dan Nadine keluar dari toko pakaian tersebut. Dia melihat Zain dan Iqbal berada di pagar pembatas yang terbuat dari kaca transparan, melihat ke bawah ketinggian Mall dari lantai 3. Di bawah sedang ada pameran mobil, terdapat beberapa SPG cantik berbadan proporsional berdiri dan membagikan brosur dengan menebar senyuman ramah pada pengunjung Mall yang lalu lalang.


Di lihat dari sudut manapun Zain dan Iqbal terlihat seperti seorang teman yang saling mengenal satu sama lain, tapi sikap Zain yang terlalu formal dan serius membuat Iqbal ikut terbawa arus. Rani menikmati momen langka ini, dia bersandar di tembok penyangga Toko baju yang baru saja dia masuki. Toko yang hampir 100% di tutup kaca transparan dari luar. Dengan Nadine yang masih setia berdiri di sampingnya.


"Mereka cantik cantik. Apa tidak ada satupun yang membuatmu tertarik?..." Iqbal bertanya pada Zain tanpa mengalihkan pandangannya dari SPG cantik yang berada di lantai dasar Mall yang beralaskan karpet merah.


"Saya tidak tertarik dengan wanita." Nadine terbelalak, tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Zain. Iqbal hanya menggelengkan kepalanya heran mendengar penuturan Zain, tidak pernah berubah.


"Positif thinking Nadine. Jangan berprasangka buruk, mungkin maksudnya kak Zain lain." Nadine membantin.


Rani terlihat santai sebab dia mengerti maksud dari perkataan Zain karena Iqbal sudah menceritakan segalanya pada Rani. Yang Zain alami saat ini hanya lah trauma untuk menjalin hubungan dengan perempuan lagi.


"Tidak tertarik dengan wanita tapi On saat melihat punggung Nadine." Spontan Zain menatap Iqbal yang matanya masih mengarah ke bawah.


"Hapz..." Pekik Nadine kemudian menutup mulutnya. Pandangan Zain beralih pada Nadine, keduanya jadi salah tingkah bingung mau bersikap bagaimana. Rani tersenyum simpul melihat kelakuan mereka, lalu menghampiri Iqbal.


"On, apaan maksudnya?..." Nadine membantin.


"Dasar mata keranjang, nggak bisa lihat cewek bening sedikit." Ujar Rani yang berdiri di samping Iqbal melihat ke lantai dasar.


"Apa?... Aku sedang melihat mobil." Rani mendengus kesal.


"Tuh, tatapan mu mengarah sama SPG yang cantik itu." Rani menunjuk SPG yang di perhatikan Iqbal.


"Sudah lah, jangan bicara yang tidak tidak." Iqbal pun merangkul bahu Rani dan beranjak pergi. Nadine dan Zain membuntuti di belakang, mereka berjalan beriringan namun masih memberi jarak, diam membeku dengan suasana canggung. Kebiasaan Nadine saat canggung selalu menautkan kedua jemari tangannya. Dan Zain membuang muka ke segala arah.


"Apa semua ibu hamil sensitif seperti mu?... Sedikit Sedikit marah..."


"Cari makan yuk, aku lapar." Rani sedang tidak ingin berdebat.


"Ya sudah, cari perlengkapan bayinya nanti setelah makan saja."


"Nggak, kita langsung pulang saja."


"Loh kenapa?... Tujuan utama kita kesini kan untuk membeli perlengkapan bayi."


"Kasian Nadine, karena kejadian tadi dia pasti malu pada Zain." Rani berbisik pada Iqbal.


"Justru karena itu, ini kesempatan untuk mendekatkan mereka. Rasa malu berkaitan dengan hati." Rani mengernyitkan alisnya tak percaya.


"Percayalah padaku." Lanjut Iqbal berbisik.


Mereka berjalan mencari tempat makan yang terlihat menggugah selera makan dan memilih memasuki restoran ala Jepang.


"Aku tidak ingin di ganggu." Ucap Iqbal pada Zain. Iqbal juga ingin Zain melupakan masa lalunya, tidak melulu meratapi hidupnya yang hambar hanya karena wanita yang tidak pantas untuk hanya sekedar di pikirkan. Tanpa menjawab Zain pun melangkah dan memilih duduk ke tempat yang sedikit jauh dari meja Iqbal dan Rani.


Nadine kebingungan, dia tidak pernah masuk ke area seperti ini. Dia tidak tahu harus bagaimana, dia teramat malu jika berhadapan dengan Zain.


"Nadine, duduklah bersama Zain. Berikan aku dan suamiku ruang untuk berdua. Karena kami memiliki urusan yang perlu di bahas."

__ADS_1


Nadine mengangguk, dia cukup sadar diri sebagai orang yang menumpang tempat tinggal dan makan gratis. Walaupun hatinya bergemuruh hebat Nadine tetap melangkah ke arah Zain dengan wajah menunduk dan tangan saling bertautan karena rasa malunya mendominasi. Nadine dan Zain duduk di berhadapan. Sedangkan Rani duduk di sisi Iqbal.


Setelah mereka semua duduk ke tempat masing-masing, waiters datang memberikan menu makanan.


"Tuan dan Nona mau pesan menu apa?..." Waiters menawarkan dengan suara lembut dan sopan.


"Saya pesan Daitokyo Sakaba." Ucap Zain setelah membaca menu makanan.


"Saya pesan ini, soba kuah." Nadine menunjuk gambar, pelayan segera mencatat.


Nadine yang grosi asal asalan memilih menu, dia memilih Ramen. Ramen adalah salah satu jenis mie khas Jepang yang populer di berbagai tempat lain. Mie ini terbuat dari tepung gandum dan disajikan dengan kuah yang terbuat dari kaldu ayam atau ikan dengan tambahan kecap atau miso.


Ramen disajikan dengan topping yang khas seperti nori dan daun bawang. Meskipun sangat terkenal di Jepang, mie ramen merupakan hasil adaptasi dari mie khas China yaitu lamian dan kata ramen sendiri merupakan turunan dari kata lamian.


"Tuan dan Nona anda mau pesan menu yang mana?..." Ucap waiters setelah memberikan Iqbal dan Rani menu makanan.


"Sebentar ya...." Rani masih berpikir, membolak-balik menu yang ada.


"Saya pesan yang ini. Tahu Soyu." Ujar Iqbal.


"Kalau aku pesan yang ini deh, Chicken Katsu Saus Teriyaki."


"Minumnya air mineral semua." Lanjut Rani.


"Baik akan kami siapkan." Waiters itu pun pergi setelah mencatat pesanan Iqbal dan Rani.


"Iqbal, memangnya kamu bisa kenyang makan makanan begitu? Orang Indonesia itu kalau nggak makan nasi nggak bisa kenyang."


"Nanti kalau masih lapar, kamu yang aku makan." Sahut Iqbal dengan senyuman menyeringai.


"Iiiiiisssss iiiisss iiiisss...."


"Kamu nggak capek..."


"Nggak, masih semangat."


"Jadilah. Eh, tuh lihat mereka masih salting begitu." Rani menunjuk Nadine dan Zain dengan dagunya.


"Mending liatin kamu."


***


Taraaa....Beberapa saat kemudian makanan sudah di hidangkan di meja makan masing-masing pengunjung restoran.


Daitokyo Sakaba pesanan Zain



Chicken Katsu Saus Teriyaki pesanan Rani.



Tahu Shoyu atau kecap asin khas Jepang, pesanan Iqbal



Rani memangku dagunya tidak tega melihat penampakan Nadine yang kebingungan dan terlihat seperti orang bodoh, tidak tahu caranya memakan soba kuah khas Jepang.


"Ck ck ck ck.... Lama lama aku kasian melihat Nadine." Rani berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Iqbal melihat arah mata Rani sambil mengunyah makanannya.


"Sudah lah, Jangan ikut campur urusan mereka. Biarkan mengalir seperti air, jika berjodoh tidak akan kemana. Sudah makan lah, katanya lapar."


"Eh, eh Iqbal. Lihat itu....emmmm romantis kan... Kebahagiaan tidak harus mewah...."


"Lebay, lebih romantis diriku."


"Romantis apaan... Dirimu galak..."

__ADS_1


"Lihat saja nanti di rumah."


"Memangnya mau apa?..."


"Rahasia..."


"Apa sih?...Wik wik..."


"Uhuk uhuk uhuk..." Iqbal terbatuk batuk mendengar ucapan Rani. Dia mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya.


"Uhuk uhuk uhuk...." Rani menepuk nepuk punggung Iqbal, niat hati ingin membantu tapi malah membuat Iqbal semakin terbatuk-batuk.


"Jangan di tepuk, aku sedang minum."


"Eh, maaf maaf..."


"Sudah lah makan. Terlalu banyak bicara saat makan bisa memperpendek umur."


"Iiiiiihhhhh lebay."


"Kalau mati pas tersedak gimana?..."


"Iiiiiihhhhh ngomong-nya kok gitu sih..."


"Banyak loh ya kasus kematian karena tersedak."


"Iya iya aku makan nih."


Rani mulai melahap makanannya sambil memperhatikan Zain dan Nadine.


"Zain itu jahat, tidak kasihan melihat Nadine. Malah sibuk mijitin Hp."


"Mulai lagi kan."


"Hehehe."


***



Soba kuah khas Jepang pesanan Nadine.


Nadine termenung melihat mie di depannya.


"Ini gimana cara makannya." Nadine menggerutu, tentunya dalam hati. Gengsi dong, dia salah tingkah di hadapan Zain...Nadine mengambil Supit yang ada di atas mangkuk.


Nadine tidak tahu bagaimana cara memegang sumpit. Sejak tadi dia sudah berusaha mengapit mie tapi tidak pernah berhasil, 1 kali, 2 kali, 3 kali dan seterusnya gagal, jatuh lagi dan jatuh lagi. Bahkan Nadine menggunakan sumpit dengan 2 tangan namun tetap gagal.


"Ini memalukan... Hiiiiiihhh apes banget sih dari tadi. Udah punggung kayak sundel bolong, eh sekarang malah kelihatan kampungan...Emaaaakkkk aku pengen pulang..." Sejak tadi Nadine menggerutu dalam hati.


"Sudah cukup, ini memalukan. Aku sudah tidak tahan." Nadine yang kesal bercampur malu yang teramat dalam akhirnya menyerah. Dia mendorong mangkuknya mundur.


"Pakai ini." Zain memberikan sendoknya pada Nadine.


"Nggak usah makasih. Udah terlambat."


"Sudah di baikin juga, masih protes."


"Kenapa nggak dari tadi sih. Nyebelin."


"Dari pada tidak Sama sekali."


"Ih nyebelin banget sih."


"Terlalu gengsi bikin perut lapar." Ucap Zain.


"Siapa juga yang gengsi." Nadine mengambil sendok di tangan Zain dan mulai melahap makanannya. Zain menarik sedikit bibirnya ke atas.

__ADS_1


Tanpa Nadine sadari sejak tadi Zain memperhatikan sikap konyolnya, maka dari itu Zain berpura-pura memainkan Hpnya sebab Zain terhibur dengan tingkah Nadine yang di anggap lucu. Zain pun mulai memakan makanannya menggunakan sumpit milik Nadine.


__ADS_2