CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)

CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)
PENJELASAN ZAIN


__ADS_3


Kini Iqbal sudah berada di kampung Nelayan. Dia tak langsung pergi ke rumah ibu Narsih. Iqbal mampir ke sebuah warung pinggir jalan, tempat biasa Iqbal dan Rani makan tiap berkunjung ke kampung Nelayan.


Iqbal harus makan supaya memiliki energi untuk menghadapi Bu Narsih. Entah seperti apa reaksi ibu Narsih jika tahu Iqbal menghamili anak gadisnya.


"Bang Iqbal tumben sendiri, biasanya sama kak Rani?..." Ucap Ria, putri dari pemilik warung yang cukup akrab dengan Rani. Usianya masih 16 tahun. Ria adalah tetangga Rani, yang jarak rumahnya tidak terlalu jauh.


"Iya , aku sedang memiliki keperluan pribadi." Jawab Iqbal.


"Oh begitu... Bang Iqbal mau pesan apa?..."


"Seperti biasanya..."


"Ayam goreng bumbu rica rica kan, Bang."


"Iya."


Si Ria bukannya pergi tapi malah duduk di hadapan Iqbal. Membuat Iqbal mengerutkan alisnya, apakah Ria tidak tahu jika Iqbal sangat lapar.


"Bang Iqbal, kapan nih nikah sama kak Rani?... Kak Rani cantik, awas di bawa kabur cowok lain loh." Ucap Ria si gadis yang banyak bicara, tiap Rani dan Iqbal datang kemari maka Ria akan menguasai Rani seutuhnya hingga Rani tak menghiraukan keberadaan Iqbal.


"Rani jelek. Siapa yang mau sama dia?..."


"Kak Yusuf..."


"Yusuf???..."


"Iya... Kak Yusuf juga naksir loh sama kak Rani kata Nabila. Kak Yusuf kan cuma anak angkat dari pamannya kak Rani."


"Ria kau tau???..." Ucap Iqbal dengan nada serius.


"Apa?..." Ucap Ria bertanya dengan memasang wajah serius.


"AKU LAPAR..." Jawab Iqbal dengan suara lirih.


"Iiiiiihhhhh Bang Iqbal, kirain mau ngomong apa?..."


Iqbal hanya mengulas senyum. Lagi lagi tingkah konyol Ria membuat Iqbal teringat Rani.


"Aku serius, aku sangat lapar. Bisa segera buatkan aku makanan."


"Iya. Iya..." Kemudian si Ria pergi memasuki dapur dan segera menyiapkan pesanan Iqbal.


"Bapak lagi repot malah asyik ngobrol." Ucap Bapak si Ria yang ngedumel.


"Hehe iya pak maaf."

__ADS_1


Iqbal bukan tidak tahu jika Yusuf juga tertarik pada Rani. Dulu Iqbal ingin sekali menghajar Yusuf seperti pria yang berani mendekati Rani selama ini. Tapi Iqbal urung melakukannya saat mengetahui Yusuf adalah sepupu Rani, jika Iqbal berani menghajar Yusuf maka Rani dan keluarganya sudah pasti akan membenci Iqbal. Hal yang sangat Iqbal tidak sukai, kenapa Yusuf hanya anak angkat dari pamannya Rani. Menyebalkan.


Kini pikiran Iqbal kembali berpusat pada ibu Narsih. Berulang kali dia membuang nafas membayangkan keputusan Ibu Narsih. Iqbal mengambil Hpnya, di lihatnya foto Rani. Iqbal mengulas senyum melihat wajah ceria Rani, wajah yang selalu tertawa ceria. Wajah itu sedikit mengurangi rasa sakit di hatinya.


"Aku ingin mengembalikan senyum ceria mu Ran dan menghapus semua kesedihan mu."



Seorang wanita cantik sejak tadi memperhatikan Iqbal dari atas hingga bawah, sangat tampan dan modis. Pasti orang kaya.


"Maaf boleh saya duduk di sini." Ucap wanita tersebut.


"Tidak." Jawab Iqbal tegas. Tapi wanita itu tidak peduli dengan penolakan dari Iqbal, dia tetap duduk di hadapan Iqbal. Sekilas Iqbal menatapnya tak suka lalu membuang muka.


Wanita itu memakai baju yang kurang bahan alias terbuka, rok mini dan baju tanpa lengan. Dia mengibas ngibaskan tangannya sebagai ganti kipas, memamerkan leher jenjangnya. Kulitnya putih mulus seperti susu, berharap Iqbal tertarik dengan dada yang di buat membusung ke depan.


Iqbal melihat seseorang baru saja pergi meninggalkan tempat duduknya. Meja itu kosong. Iqbal pun mengalah, dia pindah di meja lain.


Wanita itu terlihat kesal, dia sengaja menumpahkan segelas minuman di atas meja kemudian dia kembali menghampiri Iqbal, duduk di hadapan Iqbal.


"Maaf meja saya basah." Ucap wanita itu tanpa tahu malu.


"Huuuuufffhhh..." Iqbal hanya bisa menghela nafas. Hal yang paling tidak di sukai Iqbal adalah ketika seorang wanita mencoba mendekatinya, hal itu selalu membuatnya risih.


Selama ini perempuan yang dekat dengan Iqbal hanyalah Alyn dan Rani. Selain itu Iqbal Selalu menolak. Mungkin jika tidak ada Rani, Iqbal tidak akan memiliki cinta yang lain lagi.


"Huuuuufffhhh panas sekali ya di sini Tuan." Ucap si wanita yang tidak tahu malu mencoba menarik perhatian Iqbal. Andaikan ada Zain, dia sudah pasti mengusir wanita ini. Tapi Zain ada di Jakarta untuk mengurus pernikahannya.


"Eemmmm... Tuan apa anda sudah beristri."


"Berisik." Hardik Iqbal, membuat wanita tersebut terkejut. Iqbal mengambil dompetnya, mengambil lembar uang seratus ribu kemudian di letakkan di atas meja yang di tindih mangkuk sambal. Dia bergegas pergi.


"Dasar galak." Ketus wanita Itu yang langsung di beri tatapan tajam oleh Iqbal, wanita itu pun menunduk takut.


"Loh Bang Iqbal.... Mau kemana?... Katanya lapar!... Ini pesanannya sudah datang." Ucap Ria yang membawa nampan berisi makanan yang di pesan Iqbal.


"Maaf, tidak jadi makan. Itu uangnya aku letakkan di bawah mangkuk sambal."


"Loh loh loh....Kan belum makan kok udah bayar." Ucap Ria. Namun Iqbal tak menjawab, dia pergi begitu saja.


"Sini buat saya saja. Lumayan makan gratis." Ucap si wanita itu. Ingin sekali Ria menyiramnya dengan sambal, tapi dia tahan karena pelanggan adalah Ratu.


Wanita itu membuat kepala Iqbal makin pusing. Iqbal pergi menuju rumah Bu Narsih dengan perut kosong, selera makannya habis sudah menguap entah kemana.


***


Jakarta, di kediaman Iqbal.

__ADS_1


Rani berjalan kesana kemari, dia sangat gelisah memikirkan apa yang akan terjadi di rumah Ibunya.


Rani sangat mengkhawatirkan Iqbal, Ibu Narsih pasti akan mengamuk pada Iqbal. Bagaimana jika Ibunya lagi lagi menolak Iqbal.


Berulang kali Rani berdoa, berharap semuanya akan baik-baik saja.


"Nona..." Suara Zain membuat Rani terkejut.


"Kau itu Zain, mengagetkan ku saja."


"Maaf..."


"Ada apa memanggil ku?..."


"Apa anda tidak bisa tenang sedikit."


"Tidak."


"Percayakan semuanya pada Tuan Iqbal, semua akan baik-baik saja."


"Huuuuufffhhh.... Entahlah Zain, saat ini Ibuku pasti sedang sedih atau mengamuk. Aku hanya takut dengan reaksi ibuku."


"Nona, mari ikuti saya."


"Kemana?..."


Zain tidak menjawab, tapi Rani tetap mengikutinya. Zain membawa Rani ke gudang tempat penyimpanan barang.


Zain membuka gudang memperlihatkan isinya pada Rani. Hanya berisi barang barang yang hancur.


"Apa ini Zain?..."


"Ini adalah semua barang yang tuan Iqbal hancurkan selama anda menghilang. Tuan Iqbal akan menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya saat dia marah. Jika tuan Iqbal tidak mengamuk saat anda sengaja memancing emosinya, itu artinya dia sangat menahan diri."


"Saya sengaja tidak membuangnya karena ingin menunjukkannya pada Anda." Rani mendengarkan penjelasan Zain sambil mengamati isi gudang.


"Kenapa dia bisa semarah ini?..."


"Karena Tuan Iqbal sangat mencintai anda. Tuan Iqbal tidak pernah tertarik pada wanita lain kecuali pada Anda dan Nona Alyn, yang saya yakin betul perasaan tuan Iqbal pada Nona Alyn sudah pudar."


"Tuan Iqbal sangat mencintai anda Nona, bahkan dia rela kehilangan sebagian besar dari hartanya demi anda. Menebus anda dari Si be reng sek Steven bukan lah jumlah yang sedikit."


"Entah di sebut beruntung atau sial. Andaikan Tuan Iqbal datang terlambat, sudah pasti Si ba ji Ngan Heru lah yang memperdaya anda. Saya akui Tuan Iqbal salah. Tapi bukankah sangat menjijikkan jika tuan Iqbal datang terlambat dan Heru yang.... Huuuuufffhhh." Zain tidak melanjutkan perkataannya karena dia merasa jijik.


"Tuan Iqbal sangat tampan dan kaya, banyak wanita yang ingin mendekatinya tapi tuan Iqbal sama sekali tidak memiliki rasa ketertarikan. Jadi tolong berhenti memancing emosi Tuan Iqbal dan jangan memberikan celah untuk pelakor masuk."


"Jika anda masih ragu dengan perasaan Tuan Iqbal, saya angkat tangan."

__ADS_1


***


Happy reading...


__ADS_2