
"Nabila baru menikah. Pamali kalau saudara kandung nikahnya di tahun yang sama."
Rani menatap Iqbal kemudian menepuk paha Iqbal dengan sangat keras saat melihat wajah tegas Iqbal.
"Jangan melihat emakku seperti itu, itu calon makmu juga." Ucap Rani Ketus saat melihat ekspresi Iqbal yang mengintimidasi, membuat Ibu Narsih gugup.
Kemudian Iqbal menundukkan kepalanya "Maaf, saya hanya terkejut mendengar keputusan dari anda." Ucap Iqbal.
"Huh, saya yang terkejut Nak Iqbal melihat kamu seperti itu." Ucap Ibu Narsih sambil mengelus dadanya, sebenarnya ibu Narsih sedikit ragu untuk menerima lamaran Iqbal sebagai menantunya mengingat sifat Iqbal yang keras tapi Selama ini Ibu Narsih tahu bahwa Rani begitu mencintai Iqbal bahkan karena cintanya itu Rani tidak pernah mau menerima laki-laki lain masuk ke dalam hidupnya, jika Ibu Narsih menolak Iqbal maka dapat di pastikan Rani akan menjadi perawan tua.
"Ibu, hari gini masih percaya tahayul. Tidak usah ngurusin tahayul. Kita hidup di era modern Bu."
"Kenapa jadi kamu yang ngebet nikah. Ini bukan tahayul ini kesialan memang sering terjadi, kita harus lebih berhati-hati. Jangan kan tahun, dalam pernikahan, weton pun juga harus diperhitungkan." Tutur Ibu Narsih. Iqbal sudah mengepalkan tangannya karena emosi namun dia berusaha menahan diri karena yang ia hadapi adalah calon mertua bukan rivalnya.
"Kalau menikah di tahun yang sama, kebanyakan rumah tangganya kalah salah satunya, kalau nggak adiknya ya mbaknya. Kalau tidak kalah dari segi materi kalah dari segi umur." Tutur Bu Narsih lagi.
"Bu, rezeki dan mati itu sudah takdir dari Tuhan bukan dari pernikahan di tahun yang sama dengan saudara." Rani tetap menolak cara berpikir Ibu Narsih yang dirasa sangat kolot.
"Tidak usah tawar-menawar dengan ibu, salah kamu sendiri. Dari dulu disuruh nikah tidak mau. Giliran Adik sudah nikah, malah berebut pengen nikah." Ibu masih terlihat kesal karena dibantah oleh Rani.
"Kok ibu nyalahin Rani sih..." Ujar Rani.
"Lah emang bener kan..."
Rani menggenggam tangan Iqbal berusaha menyalurkan ketenangan di hati Iqbal yang kala ini tengah emosi. Bukan hanya itu Rani pun juga mengusap-usap lengan Iqbal.
"Ehem ehem, Rani jaga sikapmu. Kalian berdua belum halal."Ucap ibu Narsih yang melihat tautan tangan Rani dan Iqbal.
"Yaelah Bu... Kami bahkan sudah berciuman empat kali tadi. Lima kali sama malam itu." Rani membatin.
"Lalu kami harus bagaimana?" Ucap Iqbal dengan nada yang tegas dan gayanya yang bersahaja, namun tetap sopan.
"Kalian harus sabar menunggu sampai tahun depan. Setelah itu kalian baru boleh menikah." Ucap Ibu Narsih.
"Ibu jangan salahkan kami ya, kalau nanti aku hamil di luar nikah." Ujar Rani dengan wajah merengut. Iqbal dan Bu Narsih seketika langsung memberikan tatapan yang mengintimidasi pada Rani.
"Apa? Kenapa melihatku seperti itu? Benarkan apa yang kukatakan, kalau dua orang berpacaran yang ketiga itu setan."
"Kamu tuh jangan bicara sembarangan kalau ucapan kamu jadi doa yang mustajab gimana." Ujar Bu Narsih kesal pada ucapan Rani.
"Belajarlah diam dari banyaknya berbicara." Ucap Iqbal, yang langsung membuat Rani mengatupkan bibirnya.
***
__ADS_1
"Buat apa menikah dengan pria tempramen seperti Iqbal, masih banyak pria baik di dunia ini. Kenapa kamu malah memilih Iqbal sebagai calon suami mu." Ucap Yusuf, kakak sepupu setelah kepulangan Iqbal. Dia menentang hubungannya dengan Iqbal. Sebab Yusuf tahu jika Iqbal memiliki karakter yang keras.
"Aku cinta sama dia kak."
"Buat apa cinta buta di pertahankan. Yang ada kamu bakal sengsara dalam pernikahan mu dengannya nanti."
"Iiiiiihhhhh, kak Yusuf nyebelin."
"Apa yang di ucapkan Yusuf itu ada benarnya Nak." Ucap Ibu Narsih.
"Iiiiiihhhhh kak Yusuf, itu nyebelin... Malah ngomporin ibu. Dasar kompor meleduk." Sergah Rani, bangkit dari sofa sambil menghentakkan kaki lalu pergi memasuki kamarnya.
"Pokoknya aku nggak setuju kalau Rani nikah sama si Iqbal."
***
"Byuuuuurrr..." Iqbal menceburkan dirinya ke dalam laut. Dengan gaya bebas ia berenang kesana-kemari untuk meluapkan emosinya, Rani hanya bisa menyaksikan Iqbal dari atas jembatan kayu, tempat pertama kali mereka berjumpa.
Kemudian Iqbal berenang menuju ke arah Rani. Iqbal menengadah ke atas melihat Rani dan hanya memperlihatkan setengah badannya yang keluar dari air laut. Rani sendiri menunduk untuk bisa melihat Iqbal.
"Menikahlah denganku tanpa restu orang tuamu Ran." Ucap Iqbal dengan nada serius.
"Mana bisa Iqbal, yang ada nanti aku akan dipecat dari KK."
"Orang tuaku tinggal satu, aku nggak mau menyakiti dia terlalu dalam. Kamu juga sih ngelamar aku lama banget." Ketus Rani melengos ke samping tak mau melihat Iqbal.
"Sekarang kamu berani menyalahkanku." Ucap Iqbal yang kesal semakin kesal.
"Lah emang iya, kamu terlalu sibuk memikirkan Alyn." Ucap mengingatkan Iqbal menatap nyalang.
"BERHENTI menyebut nama Alyn di hadapanku." Wajah Iqbal berubah garang.
"Kenapa? Kamu tidak suka aku menyebut nama Alyn karena masih ada nama itu di hatimu kan." Ketus Rani.
Iqbal yang marah malah menarik tangan Rani hingga ia tercebur ke dalam air laut. Rani yang tak bisa berenang mengepak ngepakan tangannya di dalam air supaya bisa mengapung ke atas laut. Kemudian Iqbal memasuki air menjemput Rani.
"Uhuuukkk Uhuuukkk Uhuuukkk Uhuuukkk" Rani terbatuk-batuk dipelukan Iqbal setelah mengapung di atas laut.
"Kau masih tetap bodoh, sudah besar tidak bisa berenang. Padahal kau anak dari kampung Nelayan." Ujar Iqbal.
"Kau jahat sekali Iqbal, kau mau membunuhku. Sudah tau aku tidak bisa berenang. Kenapa malah menarikku ke dalam laut." Ucap Rani yang gemetaran di pelukan Iqbal.
Kemudian Iqbal menjauhkan Rani dari tubuhnya tapi Rani malah mengejar Iqbal.
__ADS_1
"Iqbaaaal Jangan menjauhiku, aku tidak bisa berenang. Aku bisa tenggelam." Rani yang ketakutan malah memeluk Iqbal dengan erat.
"Ambil nafas dalam-dalam dan tahan nafasmu." Ucap Iqbal.
"Kenapa." Ucap Rani yang tak mengerti tujuan Iqbal.
"Ambil nafas dalam-dalam dan tahan nafasmu kalau tidak mau mati." Ucap Iqbal kembali, Rani pun menuruti, setelah itu Iqbal malah membawa Rani masuk ke dalam laut, membuat Rani terkejut. Di dalam laut Iqbal memberi nafas buatan pada Rani saat Rani mulai kehabisan nafas. Rani memukul mukul dada Iqbal saat sudah tak tahan.
Kemudian Iqbal membawa Rani keluar dan kembali mengapung di atas air laut.
"Hah...Hah...Hah...Hah..." Rani meraup wajahnya kasar untuk menyapu air di wajahnya, lalu mengambil nafas banyak banyak seperti ikan kehabisan air.
"Kau sudah gila. Aku bisa mati kehabisan nafas hah hah hah." Rani memukul mukul dada Iqbal.
"Lakukan lagi." Ucap Iqbal.
"Aku tidak mau."
"Lakukan lagi atau mati." Ucap Iqbal, Rani pun menuruti dari pada mati. Kemudian Iqbal kembali membawa Rani masuk kedalam laut.
Saat gelembung air mulai muncul di mulut dan hidung Rani, Rani mengguncang bahu Iqbal. Iqbal kembali memberikan nafas buatan untuk Rani. Rani sendiri heran pada Iqbal, memangnya psikopat seperti Iqbal mampu menahan nafas berapa menit. Padahal pada umumnya manusia hanya bisa menahan nafas berkisar waktu 1 sampai 2 menit. Kecuali orang yang sudah terbiasa latihan menahan nafas.
Mereka kembali mengapung di atas laut setelah Rani memukul mukul dada Iqbal. Iqbal berenang membawa Rani menuju batu karang yang besar dan menyandarkan Rani di batu karang besar itu. Sedangkan Iqbal berada di hadapan Rani. Mengungkung Rani dengan kedua tangannya yang menekan batu besar itu. Rani masih berada di pelukan Iqbal karena takut tenggelam.
"Iqbal apa-apaan sih... Kau menakuti ku tau." Ucap Rani yang kesal pada Iqbal sambil memukul dada Iqbal.
"Kau harus belajar berenang, Aku akan mengajarimu untuk berenang sampai kau bisa. Calon istriku harus kuat dan tidak boleh lemah." Ucap Iqbal.
"Hei aku itu mau mencalonkan diri untuk menjadi istrimu. Bukan mencalonkan diri untuk jadi anggota tentara." Ketus Rani.
"Kau tidak tahu resiko Apa yang kau hadapi jika bersanding denganku." Ucap Iqbal Serius.
"Memangnya apa?" Ucap Rani yang penasaran.
"Selain bergerak di bidang teknologi nano, Usaha yang ku kelola juga bergerak di bidang persenjataan. Aku menciptakan beberapa senjata, penemuan terbaruku dan Zain. Ada beberapa yang legal dan ada yang ilegal. Orang sepertiku sudah pasti memiliki banyak musuh."
"Kau..." Ucap Rani Ragu.
"Kau tahu kemampuanku dan kegilaan ku. Berkolaborasi dengan Zain sang Ahli fisika yang selalu juara 1 di tiap olympiade. Bukankah itu kolaborasi yang menakjubkan." Lanjut Iqbal.
***
Jangan lupa dukung author pake Like komentar vote favorit.
__ADS_1