CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)

CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)
BERTEMU RANI


__ADS_3

"Tapi aku ingin memastikan bahwa Rani benar-benar ada bersamamu dan dalam keadaan baik-baik saja. Aku ingin mendengar suaranya dengan telingaku sendiri untuk memastikan bahwa keadaannya baik baik saja. Baru kita bisa bernegosiasi." Iqbal sangat geram, dia menggertakkan gerahamnya dengan tangan yang sudah terkepal menahan amarahnya.


"Hemmm, tunggu sebentar." Steven melihat Rani, yang menatapnya tajam di ruang tahanan. Jika bukan karena harta Iqbal, sudah pasti Steven akan mencelakai Rani karena berani menatapnya tak sopan. Tapi Steven lebih takut pada Iqbal, dia hanya ingin harta tanpa adanya pertumpahan darah.


"Kemari lah. Iqbal ingin bicara dengan mu." Rani pun menghampiri Steven yang berdiri di balik jeruji besi. Steven meloud speaker Hpnya. Rani semakin di dera rasa bersalah. Apa lagi Steven meminta 80% aset milik Iqbal. Setelah ini Iqbal akan bangkrut karena Rani.


"Iqbal." Ucap Rani dengan suara yang bergetar.


Iqbal tertegun mendengar suara Rani, keduanya sama-sama diam. Ada perasaan aneh yang menyeruak di rongga dadanya. Iqbal berusaha menetralkan gejolak yang ia rasakan saat mendengar suara Rani.


"Rani... Apa kau baik-baik saja?..." Tanpa terasa air mata lolos dari mata Rani. Setelah semua yang Rani lakukan, Iqbal masih menanyakan bagaimana keadaannya.


"Iqbal tolong jemput aku.... Aku ingin pulang..." Ucap Rani dengan suara tercekat karena isakan tangisnya. Rani menangis tersedu-sedu, mengingat kejadian yang telah menimpanya.


Mata Iqbal memanas dan merah. Iqbal sangat marah namun berusaha untuk tetap tenang.


"Rani..." Suara Iqbal terdengar kembali, terdengar begitu cemas saat mendengar tangisan Rani.


Rani menarik nafas dalam-dalam, berusaha menghentikan Isak tangisnya. Yang Rani inginkan saat ini hanya pulang dan kembali ke dalam pelukan Iqbal.


"Iqbal, tolong jemput aku. Aku ingin pulang bersama mu." Ucap Rani dengan suara memelas, iqbal pun tidak bisa mendengar suara Rani lagi saat Steven sudah menjauhkan Hpnya dari Rani.


"Tuan Iqbal, Anda sudah mendengar suara Rani bukan. Dia baik-baik saja dan masih sehat. Segera penuhi keinginan ku untuk melakukan proses akuisisi untuk menebus nyawa kekasih anda." Suara Rani sudah tidak terdengar, tergantikan oleh suara Steven yang mengancam Iqbal.


"Berengsek kau...Dia tidak baik-baik saja." Hardik Iqbal yang sudah geram setengah mati. Rani adalah wanita yang kuat, tapi suara Rani terdengar begitu pilu dan rapuh.


"Tuan tenangkan diri anda. Saya tidak sedang berada di posisi terancam. Saya tunggu kunjungan Anda di Malasya. Pengacara saya sudah mengurus berkas-berkas untuk akuisisi yang legal."

__ADS_1


"Tuan Iqbal Anda terkenal sebagai pengusaha yang selalu menepati janji. Sebelum kita sepakat untuk barter, Saya ingin Anda berjanji untuk tidak membalas dendam kepada saya ataupun mengambil kembali saham yang sudah anda serahkan pada saya. Anggap saja ini adalah bisnis, anda sedang membeli kekasih Anda yang saya beli dari Heru."


Iqbal mengeram sangat marah saat mendengar nama Heru disebut. Lagi lagi si Heru yang menjadi biang keladinya, Iqbal berjanji akan membalas Heru, menghancurkannya sampai ke akar-akarnya.


"Baik."


"Kalau begitu, Saya tunggu anda besok di Malaysia." Steven menutup sambungan teleponnya sebelum mendapatkan jawaban dari Iqbal.


"Zain segera Panggil pengacaraku untuk mengurus berkas-berkas akuisisi pengalihan asetku."


"Apa Anda yakin Tuan?"


"Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak ingin bertindak gegabah, nyawa Rani taruhannya. Untuk melawan orang licik, kita juga harus melawannya dengan strategi yang licik."


"Aku tidak keberatan Kehilangan sebagian harta ku asalkan Rani bisa kembali kepadaku dalam keadaan selamat."


Jadi Steven hanya bisa mengambil segelintir harta milik Iqbal. Pada kenyataannya Iqbal tetap kaya raya walaupun 80% asetnya yang legal akan di ambil darinya.


Iqbal juga memikirkan tenaga kerja yang bernaung di bawah perusahaannya. Jika sebagian besar aset dan perusahaan Iqbal berpindah tangan, maka Iqbal harus bekerja ekstra keras lagi untuk menstabilkan keseimbangan perusahaannya.


Iqbal juga memikirkan kesejahteraan karyawannya yang sudah mendedikasikan ilmunya di perusahaan yang Iqbal kelola.


Berkat kejeniusannya dalam memilih sasaran yang tepat untuk berinvestasi dan bermain di bidang saham, pundi-pundi rupiah cepat terkumpul di rekening Iqbal setiap detiknya.


Iqbal mengutus Zain dan anak buahnya untuk memindahkan penemuannya dari bentuk fisik dan hasil penelitian ke tempat yang aman, jadi Iqbal tidak perlu memberikan semua hartanya pada Steven, Steven hanya akan mendapatkan penemuan Iqbal yang sudah terdaftar secara legal. Itupun bukan penemuan yang spektakuler.


Dengan begitu Iqbal bisa memulai lagi perusahaannya dengan mudah setelah masalah ini selesai.

__ADS_1


***


Sesuai kesepakatan, hari ini Iqbal sudah berada di tempat yang sudah di tentukan oleh Steven.


Banyak anak buah Steven yang sudah sigap lengkap dengan senjatanya menyambut kedatangan Iqbal yang turun dari mobil bersama dengan Zain dan pengacaranya.


Iqbal di ikuti oleh segerombol pasukan bersenjatanya, untuk berjaga-jaga jika nantinya akan terjadi pertumpahan darah.


Iqbal terus memasuki rumah Steven mengikuti anak buah Steven menuju ruang tamu. Steven menyambut kedatangan Iqbal dengan ramah dan penuh semangat.


"Selamat datang di rumahku. Mari silahkan duduk." Namun Iqbal tak bergeming tak memperdulikan Steven. Iqbal mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Rani. Tapi dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Rani. Yang Iqbal lihat hanyalah pasukan bersenjata yang berada di belakang Steven.


"Di mana Rani?" tanya Iqbal to the point. Dia hanya menginginkan Rani yang sudah berbulan-bulan menjadi pusat perhatiannya. Membayangkan Rani menghilangkan terlalu lama dan menjadi tahanan oleh orang licik seperti Steven membuat Iqbal sangat geram. Iqbal hanya bisa menggertakkan gerahamnya karena marah.


Steven memandang Zain yang menatap Steven dengan tatapan tajam yang siap membunuh. Beruntung Steven menyandra Rani, hingga membuat si gila Iqbal dan pengikutnya tunduk.


Kemudian Steven memberikan isyarat pada anak buahnya dan menyuruh mereka untuk membawa Rani ke hadapan Iqbal.


Tidak lama kemudian Rani keluar dengan di apit oleh dua pengawal Steven di kedua sisi Rani dan satu di belakang Rani. Tak tanggung tanggung, Ketiga pengawal itu menodongkan pistol di kepala Rani.


Suasana menjadi hening saat mulut Iqbal terkatup rapat dan mata Iqbal tertuju pada Rani, mata Iqbal menyusuri tubuh Rani, mencari cacat di tubuh Itu. Mata Iqbal menyipit saat melihat perut Rani yang mulai membuncit. Membayangkan Rani hamil anaknya dan dalam keadaan menjadi Sandra. Membuat emosi Iqbal meradang. Amarah membuncah, Iqbal mengepalkan tangannya hingga buku buku jarinya memutih.


Saat melihat Iqbal, Rani ingin sekali berlari ke dalam pelukan Iqbal andai saja dia tidak sedang di todong senjata. Bersembunyi di bawah naungan Iqbal dari segala kelumit pilu yang dia rasakan.


***


SELAMAT MENIKMATI. Mohon di like... Tinggal tit doangkan. Terima kasih sudah berkunjung.

__ADS_1


__ADS_2