
Di ruang Ob-gyn Rani berbaring di ranjang yang terdapat layar monitor di samping ranjang bagian kepala, monitor berada di posisi itu membuat Iqbal dan Rani bisa melihat dengan jelas saat dokter melakukan USG pada kandungan Rani nanti.
Iqbal menggenggam tangan Rani walaupun Rani menolaknya karena masih jengkel pada Iqbal, namun Iqbal sama sekali tidak peduli dengan penolakan Rani. Dia tetap menggenggam tangan Rani lebih erat.
"Jangan marah, tadi aku hanya bercanda." Iqbal berbisik ke telinga Rani kemudian mengecup pelipisnya tanpa peduli dengan keberadaan sang dokter. Rani pun berhenti memberontak namun masih memberikan tatapan permusuhan. Dokter itu hanya tersenyum melihat perlakuan Iqbal.
Dokter mengangkat baju Rani lalu memberikan gel yang terasa dingin ke permukaan perut Rani, seketika perut Rani merespon, bayi dalam perut Rani menendang nendang membuat perut yang tadinya buncit kini mengerucut. Perut itu bergelombang bergerak ke sana kemari.
Iqbal yang melihat malaikat kecilnya itu merasa terharu, dia begitu takjub melihat pergerakan makhluk hidup perut Rani.
Dokter meletakkan alat USG ke permukaan perut Rani yang kemudian memunculkan sosok makhluk kecil di layar monitor yang bergerak aktif. Kebahagiaan Iqbal membuncah saat melihat mahkluk kecil yang hidup di perut Rani terlihat bergerak di perut layar monitor.
"Dia anak kita." Ucap Iqbal dengan suara bergetar tangannya masih setia menggenggam tangan Rani kemudian mengusap rambut Rani.
Tanpa terasa air mata menetes dari sudut mata Rani saat melihat kebahagiaan di wajah Iqbal. Tentu Iqbal sangat bahagia, sebab dia tidak memiliki siapa pun di dunia ini sejak usianya belasan tahun. Sejak bayi dia di asuh oleh paman dan bibinya. Namun selalu mendapat perlakuan buruk, pukulan dan siksaan yang ia dapat dari pamannya. Mungkin dari situ lah karakter Iqbal yang keras terbentuk. Sebab pola asuhan sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan karakter anak.
"Kenapa menangis?..."Iqbal mengusap air mata Rani.
"Aku bahagia melihat mu bahagia." Iqbal makin bahagia dan bersyukur memiliki istri sebaik Rani.
"Usia kehamilan anda sudah berusia 25 Minggu, janin memiliki berat 660 gram dengan panjang sekitar 34 cm. Berat dan panjang ini akan bertambah setiap minggunya, begitu pula dengan pertumbuhan dan perkembangan organ-organ tubuhnya." Ucap dokter tiba tiba.
"Bayinya sehat, ibunya juga sehat. Gerakan bayinya sangat aktif. Jenis kelaminnya perempuan." Rani menggenggam erat tangan Iqbal.
"Saat hamil 25 Minggu, janin di dalam rahim biasanya sudah mulai bergerak sangat aktif dan bisa merespons suara serta sentuhan.
Detak jantung janin 140 denyutan per menit."
Dokter kandungan menge-print gambar bayinya, 2 lembar sebab Iqbal yang memintanya. Satu untuk Rani dan satu lagi untuk Iqbal. Iqbal terus memandangi gambar bayinya, ada perasaan haru yang menyeruak dalam hatinya.
Setelah melakukan USG dokter kembali ke meja kerjanya. Dia memberikan pengarahan pada Iqbal dan Rani bagaimana cara menjaga kandungan agar tetap sehat.
__ADS_1
"Biasakan mengonsumsi sayuran hijau, ikan salmon, dan ubi jalar ya, Mam. Ikan salmon mengandung omega 3 yang baik untuk kesehatan janin. Tidak perlu ragu dalam memilih ikan salmon, karena termasuk dalam ikan laut dengan kandungan merkuri yang rendah." Dokter itu terus menjelaskan panjang lebar pada Rani. Iqbal mulai merekam setiap ucapannya dan menyimpannya di memory otaknya.
"Makanan apa saja yang baik untuk istri saya?... Dan apa yang harus di lakukan oleh istri saya untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya?..."
"Ubi jalar mengandung banyak vitamin A dan C yang baik untuk ibu hamil. Kebutuhan nutrisi ibu pun dapat terpenuhi dengan asam folat yang terkandung pada ubi jalar. Ibu hamil dapat mengonsumsinya dengan cara direbus atau dicampur dengan sayur bening. Itu salah satunya."
"1. Rutin Jalan Kaki. Tidak perlu terlalu lama-lama, cukup 20-30 menit di pagi dan sore hari."
"2. Berendam di Air Hangat. Berendam di air hangat dapat mengurangi rasa stress menjelang melahirkan. Air hangat efektif melepaskan rasa stress di dalam tubuh ibu hamil."
"3. Mendengarkan musik. Di usia kehamilan 6 bulan, janin di dalam kandungan sudah dapat mendengar hal yang terjadi di luar perut. Ibu hamil bisa mengajak bayi dalam kandungan untuk berkomunikasi. Ibu bisa mendengarkan suara musik atau sholawat untuk melatih otak dan membantu bayi mudah belajar sejak di dalam kandungan."
"Dan lebih lengkapnya Anda bisa mengikuti panduan di buku hamil ini." Dokter kandungan tersebut memberikan buku panduan saat hamil pada Rani.
"Mungkin sebaiknya Nyonya Rani juga ikut senam hamil. Saya bisa merekomendasikan tempatnya."
***
Rani berjalan beriringan dengan Iqbal, dia memeluk bukunya. Agar Iqbal tidak bisa menggandeng tangannya lagi. Iqbal berusaha merangkul bahu Rani, namun dengan segera dia hempaskan.
"Tunggu aku di mobil." Iqbal pun menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Zain.
Iqbal sedikit heran dengan perubahan sikap Rani, padahal di ruang Ob-gyn saat melakukan USG, Rani sudah mau berinteraksi dengan Iqbal tapi setelah keluar dari ruangan Ob-gyn Rani kembali diam seribu bahasa. Apakah semua ibu hamil juga memiliki emosi yang berubah secara drastis.
"Merajuk." Ucap Iqbal tiba tiba, namun malah mendapatkan tatapan sinis dari Rani.
"Maaf, tadi aku hanya bercanda." Iqbal kembali merangkul namun segera di tepis.
"Ayolah Ran, berhenti marahnya. Tadi aku hanya bercanda."
"Aku lebih suka mendengar omelanmu dari pada kebisuan mu."
__ADS_1
"Ran, aku sangat mencintaimu."Iqbal melirik Rani tapi Rani tetap tidak bergeming.
"Ran, kau tahu tidak kenapa aku mengumpamakanmu sebagai ban cadangan!... Karena Kamu adalah kekuatan terbesar ku di saat aku rapuh Ran."
"Dulu aku sama-sama nyaman berada di dekat mu dan di dekat Alyn. Tapi saat itu Alyn adalah kekasihku, mana berani aku menyakitinya untuk memutuskan hubungan dengannya. Aku tidak berani mencari tahu seperti apa sebenarnya Perasaanku padamu karena aku takut menyakiti Alyn. Maka dari itu aku memasang benteng atas nama persahabatan."
"Setelah bapakmu wafat, aku berjanji akan menjagamu. Tapi entah sejak kapan aku mulai menyukai mu, mungkin karena kebersamaan kita berdua, yang membuat Perasaan itu mulai tumbuh dan berkembang tanpa aku sadari. Aku mulai tidak suka jika ada lelaki yang mendekati mu, walaupun itu Yusuf kakak sepupu mu. Aku beralasan karena mereka semua tidak layak untuk mu. Tapi pada kenyataannya hatiku selalu gelisah dan tidak tenang setiap ada laki-laki yang mendekati mu."
"Ran, kenapa kamu diam saja?... Bicara lah. Aku minta maaf, kalau kamu tidak suka dengan candaan ku, aku janji tidak akan bercanda seperti itu lagi."
"Ran, kamu dengar tidak aku bicara?..."
Rani tak bergeming, pandangannya lurus ke depan tak menghiraukan ucapan Iqbal. Setelah memasuki area parkir, Rani mempercepat langkahnya. Iqbal membukakan pintu untuk Rani, diapun segera masuk.
"Zain antar aku pulang."
"Loh Ran, katanya mau ikut ke kantor."
"Zain kalau tidak mau mengantar ku pulang, aku pesan taksi online saja."
"Rani kamu kenapa?...''
"Ya sudah Zain, kalau tidak mau mengantar ku pulang aku bisa pulang sendiri."
"Tuan bagaimana?..."
"Kita Ke kantor."
"Aku pulang sendiri saja."
Rani berusaha keluar membuka pintu namun sayang Zain terlebih dahulu mengunci pintu mobil.
__ADS_1
"Rani." Iqbal berusaha menenangkan Rani dengan menarik tangan Rani secara lembut namun lagi lagi Rani menepisnya.
"Rani jangan seperti ini."