
Iqbal menatap wajah putrinya yang berada di dalam inkubator perasaan bahagia dan haru terpadu menjadi satu, dia tidak menyangka dengan perasaan indah di hati yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Saat bayi pertama kali lahir di dunia dianjurkan untuk mendengungkan adzan di telinga bagian kanan dan kalimat iqamat pada telinga bagian kiri.
Mengadap kearah Kiblat, agar sesuai dengan posisi ketika ia akan mendirikan shalat.
Adzan dikumandangkan pada telinga bagian kanan putrinya dan ikamah ia dikumandangkan pada telinga bagian kiri putrinya.
Adzan dan ikamah di lantunkan dengan suara rendah, agar sang bayi tidak terganggu dan tetap merasa nyaman. Setelah selesai, ia mengulas senyum.
Senyum itu terus terukir di wajah Iqbal tanpa surut sedikit pun, menggambarkan kegirangan yang tersirat di hatinya. Apa lagi dokter mengatakan bahwa istrinya baik baik saja, hanya belum sadarkan diri akibat pengaruh dari obat bius total sebelum pembedahan tadi.
"Putriku sangat cantik, mirip dengan Mamanya."
Dia mengusap lembut pipi putrinya dengan jari jempolnya. Senyum Iqbal kian mengembang saat putrinya yang belum membuka mata menggeliat.
***
Berulang kali Iqbal mengecupi punggung tangan Rani tapi Rani tak kunjung sadar.
"Mau berapa lama lagi kamu mau tidur Ma?..." Kini Iqbal mengecupi seluruh wajah Rani. Membuat si empunya membuka mata.
"Iqbal..." Ucap Rani dengan suara lirih, dia tidak memiliki tenaga untuk bergerak sebab tubuhnya masih terlalu lemah.
"Sudah bangun." Senyum terpahat di wajah Iqbal.
"Apa aku masih hidup?..."
"Kamu masih hidup dan sudah menjadi Mama."
"Serius?..."
"Iya, itu putri kita. Cantik, seperti dirimu."
Iqbal menunjuk Inkubator yang berada tak jauh dari ranjang Rani.
"Itu anak kita?..." Luapan rasa bahagia dan rasa syukur terus ia panjatkan. Tanpa terasa bulir air mata mengalir dari sudut matanya saat melihat bayi mungil itu menggeliat.
"Iya Ma..."
"Jadi Papa Mama nih sekarang..."
"Iya." Keduanya tertawa bahagia.
"Assalamualaikum..."
"Wa alaikumsalam..." Keduanya menoleh sambil menjawab salam saat mendengar suara Ibu Narsih dan Nabila bersamaan.
"Ibu?..." Rani dan Iqbal mengecup punggung tangan Bu Narsih.
"Bagaimana keadaan mu Nak?..."
"Alhamdulillah Bu, baik..."
"Ini ya cucunya Ibu." Bu Narsih menghampiri cucunya sebab dia sudah membersihkan diri di toilet luar dan sudah memasang hand sanitizer yang berada di depan pintu ruang rawat inap Rani.
"Maaf ya mbak, Suamiku nggak bisa ikut soalnya pekerjaannya nggak bisa di tinggalkan, masa cutinya udah abis."
"Iya Bil, nggak apa-apa. Lagian cari kerja sekarang kan susah. Di suruh nerusin usaha Cafe ku nggak mau."
__ADS_1
"Kalau aku tinggal di Jakarta, terus siapa yang jaga ibu di Kampung mbak, apa lagi mas Aan nggak mau terima bantuan. Dia ingin hidup mandiri dengan usahanya sendiri."
"Iya, makasih ya Bil udah jaga ibu selama aku nggak ada."
"Iya mbak, sama sama."
Iqbal pergi ke luar, memberi ruang untuk Rani dan keluarganya melepas rindu.
***
Tatapan Iqbal berubah sinis saat melihat Yusuf yang memeluk sebuah bingkisan besar berjalan ke arahnya tanpa rasa takut.
"Mau apa kau kemari?..." Ucap Iqbal yang kini sudah berhadapan dengan Yusuf.
"Aku ingin melihat keponakanku."
"Kau tidak punya hak di sini."
"Rani adalah saudaraku, tolong jangan halangi aku untuk bertemu dengannya. Aku sama sekali tidak ingin memancing keributan."
"Kau..." Belum sempat Iqbal menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan rawat Rani sudah terbuka dan muncullah Bu Narsih.
"Nak Yusuf ada di sini juga?..."
"Iya Bu, saya tahu dari Nabilah kalau Rani sudah melahirkan dan di rawat di sini."
"Oh begitu, ya udah yuk masuk."
Yusuf pun masuk di ikuti oleh Iqbal, dia tidak bisa bersikap kasar di hadapan Ibu mertuanya.
"Jangan melihat istriku..." Ucap Iqbal dengan suara lirih namun masih bisa di dengar oleh Yusuf. Dia pun mengangguk mengerti.
"Aku membawakan hadiah untuk anakmu."
"Anak kami." Ucap Iqbal.
"Iya, anak kalian maksud ku." Yusuf mengulurkan bingkisan hadiahnya kepada Rani. Lalu menerimanya dengan senang hati. Tak mungkin kan jika tali persaudaraan putus hanya karena rasa cemburu yang tak beralasan pikir Rani.
Rani meraih tangan Iqbal yang berdiri di sampingnya dan memberikan tatapan mengiba agar tidak membuat keributan apa lagi di depan ibunya.
"Ada apa Nak?..." Ucap Bu Narsih yang merasa curiga dengan gelagat mereka.
"Tidak ada apa apa kok Bu." Ucap Rani sesantai mungkin.
"Kau lupa memakai hand sanitizer." Iqbal memberikan botol berisi cairan hand sanitizer pada Yusuf saat Yusuf hendak mendekati putrinya. Yusuf pun menerima lalu menuangkan ke telapak tangannya kemudian mengusapnya.
Yusuf pun sadar diri bahwa kehadirannya tidak di inginkan oleh Iqbal, dia segera pulang sebab sejak tadi sudah mendapatkan tatapan yang mengintimidasi dari Iqbal.
Iqbal menyuruh Ibu Narsih untuk pulang ke rumah Iqbal demi menjaga kesehatan ibu Narsih. Iqbal menyuruh Zain untuk mengantarnya pulang.
Iqbal meninggalkan Rani bersama Nabila. Saat Iqbal keluar kamar ia di kejutkan dengan kedatangan rombongan keluarga Wiguna.
Alyn, Arya, Brayen, Alena, Khasanuci dan istrinya.
"Apa kabar?..." Ucap Brayen menjabat tangan Iqbal dan memeluknya.
"Baik."
"Selamat ya."
__ADS_1
"Lama tak jumpa, tau tau udah punya anak." Ucap Arya menjabat tangan Iqbal kemudian memeluknya. Khasanuci pun melakukan hal yang sama.
"Selamat ya mas Iqbal, akhirnya bisa punya anak juga. Semoga jadi anak yang Sholeh ya mas..." Ucap Alyn terputus.
"Anakku perempuan Lyn."
"Eh lupa nggak tanya dulu."
"Semoga jadi anak Sholehah ya anakmu." Ucap Alyn.
"Namain Sholehah aja kak anaknya." Celetuk Alena.
"Boleh juga, nama yang bagus." Ucap Alyn.
"Ehemmm... Rani menunggu di dalam." Ucap Arya yang tak ingin Alyn berlama-lama berhadapan dengan sang mantan. Alyn pun mulai beranjak memasuki ruang rawat Rani di ikuti oleh Istri dari Khasanuci dan Alena.
"Selamat ya kak Iqbal, dadaaaa...." Ucap Alena seraya melambaikan tangan dan pergi.
***
"Rani..." Alyn dengan langkah panjang datang segera memeluk Rani, sahabat baik yang sangat ia rindukan.
"Kamu apa kabar?..." Ucap Rani.
"Alhamdulillah baik." Jawab Alyn.
"Aku di kacangin." Ucap Alena.
"Nggak di kacangin kok di tanya satu satu..." Ucap Rani.
"Bercanda kok kak Ran. Maaf ya kak Ran, aku nggak bawa hadiah soalnya hadiahnya untuk anak kak Rani ku kirim ke rumah kak Iqbal. Takut kamar ini nggak muat sama tumpukan hadiah." Alena memeluk Rani dan istri Khasanuci pun juga melakukan hal yang sama, mereka berempat cukup akrab sebab dulu sering mampir ke Cafe Rani.
"Kenapa mesti repot segala. Tapi terima kasih ya..."
Mereka semua mengirim begitu banyak hadiah untuk putri Rani yang jelas tumpukan hadiah dari Alena akan membuat ruangan kamar inap Rani sempit. Alena juga memberikan hadiah sepeda ontel dengan merk Trek Yoshimoto Nara.
"Nggak sabar deh pengen liat anak kak Rani gede. Soalnya aku beliin sepeda ontel untuk anak kak Rani."
"Hahaha...Ya ampun Alena, Alena... Anakku masih bayi... Sampai bulukan kalau nunggu anakku gede."
"Eiiitsss.... Jangan salah, sepeda mehong tau...."
Dan semuanya tertawa...
"Sssttttt.... Jangan berisik, ada bayi... Ini rumah sakit." Ucap Alyn.
"Tau nih, emaknya gimana..." Ucap Alena.
"Hehe..."
"Alyn..." Rani memanggil Alyn saat hendak menghampiri Putri Rani.
"Pakai hand sanitizer dulu biar si Iqbal nggak ngamuk..."
"Ya ampun masih nggak berubah ya dia, masih tempramen."
"Udah berubah kok lebih lembut dan kalem. Tapi aku khawatir deh, dia bakal over protective pada anak kami."
"Kan bagus kak Rani." Ucap Alena.
__ADS_1